Seberapa Kuat Kenaikan Suku Bunga BI Meredam Inflasi ke Depan?
Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga 25 bps ke level 3,75% pada Selasa (24/8) seiring tekanan inflasi yang berisiko terus naik. Namun, ekonom melihat kenaikan suku bunga kebijakan ini tidak serta merta akan mengerek inflasi tahun ini turun ke rentang target 2%-4%.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual melihat kenaikan suku bunga tersebut tidak serta merta akan menarik inflasi tahun ini turun ke bawah 4%. Ia melihat sampai akhir tahun inflasi masih akan di atas 5% sekalipun kebijakan moneter diperketat.
"Untuk kembali ke rentang target tampaknya agak sulit tahun ini karena harga global juga cenderung naik," kata David kepada Katadata.co.id, Rabu (24/8).
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam keterangannya kemarin juga menyebut inflasi pada akhir tahun ini bisa mencapai level 5,2% secara tahunan untuk inflasi headline. Inflasi inti juga akan melampaui target di 4,15% YOY dari perkiraan sebelumnya masih akan di dalam rentang target.
"Dampak rambatan dari kenaikan harga BBM non subsidi, tarif angkutan udara dan tingginya volatile food, perkiraan terkini menunjukkan inflasi inti pada akhir tahun akan lebih tinggi dari 4% atau kurang lebih 4,15%," kata Perry dalam konferensi pers secara daring, Selasa (24/8).
Lebih lanjut, David mengatakan kenaikan suku bunga ini bisa membantu menjangkar inflasi dan ekspektasi inflasi tidak 'liar'. Dengan demikian, kalaupun inflasinya naik tetapi tidak akan signifikan seperti di banyak negara.
Ia mencontohkan di Amerika Serikat dan Eropa yang biasanya mencatat inflasi lebih rendah dari Indonesia, kini nyaris menyentuh 10%. Beberapa negara lain juga menyentuh inflasi dua digit. Inflasi tinggi ini karena bank sentral tidak bisa menjaga ekspektasi inflasi.
David menganggap BI sebetulnya sudah memberi sinyal bahwa bank sentral menaruh perhatian serius terhadap kenaikan inflasi ke depan. Meskipun suku bunga baru di kerek bulan ini, tapi pengetatan moneter sudah dimulai sejak Maret. BI mulai menaikkan giro wajib minimum (GWM) untuk menyedot likuiditas berlebih di perbankan yang kemudian kenaikan ini dipercepat.
Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman menyebut kenaikan suku bunga 25 bps kemarin lebih bertujuan mengantisipasi kenaikan inflasi inti ke depan. Alat moneter ini digunakan untuk mengendalikaskna ekspektasi inflasi terutama inflasi inti yang mencerminkan kenaikan harga yang didorong dari sisi permintaan.
"Berapa lama dampaknya tentu tidak akan langsung karena sumber utama inflasi Indonesia saat ini adalah lebih karena harga diatur pemerintah dan volatile food yang memang lebih disebabkan dari isu pada sisi supply," kata Faisal kepada Katadata.co.id
Namun, Faisal menyebut jika tanda-tanda inflasi inti masih akan terus memanas ke depannya, kenaikan suku bunga lanjutan masih bisa dilakukan. Ia melihat ada ruang bagi BI untuk menaikan 50 bps lagi menjadi 4,25% sampai akhir tahun.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebutkan bahwa BI memiliki ruang untuk menaikkan bunga acuan 100 bps. Berdasarkan perkiraan berbagai analis, Sri Mulyani menyebutkan bunga BI kemungkinan mencapai 4,5% pada akhir tahun. "BI rate kemungkinan akan mengalami kenaikan sekitar 100 bps sampai akhir tahun," kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN KiTA Juli, Rabu (27/7).