Dorongan Kenaikan Bunga Acuan dan Para Pembonceng Kejatuhan Rupiah

Arief Kamaludin (Katadata)
Penulis: Muchamad Nafi
28/4/2018, 13.00 WIB

Adu Resep Menjaga Rupiah

Bagi Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Damhuri Nasution, langkah BI memberi sinyal kenaikan suku bunga acuan seakan “kalah” menghadapi amukan pasar. Kebijakan moneter ini bukanlah jawaban untuk menahan kejatuhan rupiah. Namun, ketegasan bank sentrallah yang dibutuhkan investor, terutama dalam memastikan level nilai fundamental rupiah.

Selama ini, kata Damhuri, pernyataan BI yang akan selalu berada di pasar tidak mencerminkan kepastian. Dampaknya, volatilitas rupiah cukup tinggi sehingga para investor gamang untuk menenamkan modalnya di Indonesia. Sebab, bagi para pelaku usaha, nilai rupiah yang cukup rendah dibandingkan dolar tidak bermasalah selama tidak bergejolak.

Dia pun sepakat dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution yang tegas menyatakan kepada publik bahwa nilai fundamental rupiah pada level 13.500-13.600. “Tapi kalau kemudian dipicu oleh omongan macam-macam, bisa saja dia bergerak sedikit ke sana dan ke sini,” kata Darmin. (Baca juga: Menko Darmin: Fundamental Rupiah di Level Rp 13.500 per Dolar AS).

Ketegasan seperti ini yang ditunggu pelaku usaha. Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani mengeluhkan fluktuasi rupiah. Fluktuasi kurs uang membuat pengusaha sulit mengatur perencanaan bisnis. Ia berharap ada posisi stabil, misalnya di level Rp 13.700 –13.750 per dolar Amerika, angka yang paling realistis. Bila berharap kembali ke Rp 13.500 per dolar, pemerintah akan kesulitan. Sebaliknya, jika rupiah melewati Rp 14.000 per dolar akan berdampak negatif buat bisnis.

Karena itu, menurut Damhuri, ketegasan BI merupakan kata kunci. Sementara kenaikan suku bunga acuan bukanlah resep untuk mengobati rupiah yang sakit. “Kita harus berkaca pada 2013 – 2014. Ketika BI menaikkan suku bunga, rupiah malah jatuh,” kata damhuri, Kamis kemarin. (Lihat tabel di bawah ini.)

WaktuSuku Bunga Acuan BI Rate (%)Rupiah / US$
10 Januari 20135,759.764
12 Februari 20135,759.682
07 Maret 20135,759.745
11 April 20135,759.736
14 Mei 20135,759.784
13 Juni 20136,009.936
11 Juli 20136,5010.029
15 Agustus 20136,5010.370
29 Agustus 20137,0010.991
12 September 20137,2511.551
8 Oktober 20137,2511.596
12 November 20137,5011.636
12 Desember 20137,5012.085
09 Januari 20147.5012.324
13 Februari 20147.5012.133
07 Maret 20147.5011..444
08 April 20147.5011.366
08 Mei 20147.5011.682
12 Juni 20147.5011.872
10 Juli 20147.5011.607
14 Agustus 20147.5011.725
11 September 20147.5011.890
07 Oktober 20147.5012.251
12 November 20147,5012.252
18 November 20147,7512.207
11 Desember 20147,7512.398
31 Desember 20147,7512.502

Pandangan senada disampaikan Budi Hikmat. Direktur Strategi Investasi dan Kepala Makroekonomi PT Bahana TCWManagement ini menyayangkan sejumlah analis yang menyarankan BI untuk menaikkan suku bunga acuan dalam mengedalikan rupiah. “Saya kurang sepakat. Selain penguatan dolar dan capital outflow, pelemahan rupiah lebih terkait risiko meningkatnya defisit neraca minyak,” Budi menyampaikan pendapat pada halaman Facebook-nya.

Pembonceng Kejatuhan Rupiah

Menurut Damhuri, selain berpotensi membahayakan pasar dan laju rupiah, kenaikan suku bunga acuan hanya menguntungkan kelompok tertentu yakni para pemburu imbal hasil. Kenaikan bunga acuan hampir selalu diikuti menanjaknya yield. Imbasnya, beban negara akan makin besar lantaran imbal hasil yang harus dibayarkan dari obligasi atau surat utang negara (SUN) membengkak.

Apalagi, porsi asing dalam kepemilikan obligasi negara cukup tinggi. Misalnya, pada awal Januari lalu, kepemilikan investor asing di SUN mencapai Rp 848,96 triliun, naik Rp 218,37 triliun tahun sebelumnya. Dengan demikian, porsi asing meningkat menjadi 40,3 persen dari total utang pemerintah senilai Rp 2.106,6 triliun. Ketika mereka ramai-ramai menarik dananya otomatis menghantam rupiah. 

“Ada upaya mendorong BI untuk menaikan suku bunga, sehingga yield naik, oleh para pemegang bond asing, yang sebagian besar dipegang investor global,” ujar Damhuri. “Bagi mereka, kalau bisa memperoleh yield di atas 7 persen, kenapa harus menerima cuma 6,5 persen.”

Padahal, imbal hasil surat berharga negara (SBN) Indonesia tergolong yang paling tinggi se-Asia Pasifik. Biarpun, Indonesia telah diganjar kenaikan layak investasi dari berbagai lembaga pemeringkat rating utang internasional.

Sumber Katadata mengatakan, berbagai tekanan investor asing inilah yang membuat BI agak bimbang sehingga goyah dalam mempertahankan suku bunga acuan. Namun, Agus Martowardojo menepis kecurigaan tersebut. “Tidak betul. Kalau ada yang keluar dari pasar saham atau surat berharga negara ada perhitungan mereka terkait return yang mereka inginkan,” kata Agus. Dasarnya, dia melanjutkan, adalah perhitungan logis, bukan untuk menekan BI.

Halaman:
Reporter: Rizky Alika