Apa Itu MSCI yang Bikin IHSG Anjlok Sampai 8 Persen?

Pixabay
Apa Itu MSCI yang Bikin IHSG Anjlok
Penulis: Izzul Millati
Editor: Safrezi
29/1/2026, 17.37 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penurunan signifikan pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026. Pada penutupan perdagangan intraday sesi kedua, IHSG tercatat anjlok 8 persen ke level 8.261,79 atau terkoreksi 718 poin. Pelemahan tersebut membuat indeks menyentuh ambang batas perhentian sementara perdagangan atau trading halt yang telah ditetapkan oleh otoritas bursa.

Tekanan jual terjadi hampir di seluruh saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Tercatat sebanyak 768 saham melemah, hanya 28 saham yang menguat, dan 8 saham stagnan. Aktivitas transaksi berlangsung sangat tinggi dengan nilai mencapai Rp 31,92 triliun, melibatkan 45,40 miliar saham dalam 2,96 juta kali transaksi. Kondisi tersebut mencerminkan respons pasar yang sangat negatif dan bersifat menyeluruh.

Di balik gejolak tersebut, perhatian pasar kembali tertuju pada pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Oleh karena itu, pemahaman mengenai apa itu MSCI menjadi penting untuk membaca dinamika pasar saham Indonesia saat ini.

Apa Itu MSCI dan Mengapa Berpengaruh Besar?

BEI terapkan trading halt imbas IHSG anjlok (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/bar)

 

MSCI merupakan singkatan dari Morgan Stanley Capital International, perusahaan global penyedia indeks pasar saham yang berbasis di Amerika Serikat. Indeks MSCI digunakan secara luas oleh investor institusional dunia, seperti reksa dana global, dana pensiun, dan exchange traded fund (ETF), sebagai acuan utama dalam menentukan alokasi investasi lintas negara.

Indeks MSCI tidak hanya berfungsi sebagai tolok ukur kinerja pasar, tetapi juga menjadi dasar investasi pasif bernilai triliunan dolar AS. Negara-negara dalam indeks MSCI dikelompokkan ke dalam kategori Developed Market, Emerging Market, dan Frontier Market. Indonesia saat ini berada dalam kategori Emerging Market, yang membuat pasar saham domestik menjadi tujuan penting arus dana global.

Karena besarnya dana kelolaan yang mengikuti indeks MSCI, setiap perubahan metodologi dan  kebijakan MSCI dapat berdampak langsung terhadap arus modal asing dan volatilitas pasar saham.

Penyebab IHSG Anjlok: Kebijakan Free Float MSCI

Penyebab utama kejatuhan IHSG dapat ditelusuri dari pengumuman MSCI terkait penilaian free float saham-saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes. Dalam pengumuman resminya, MSCI menyampaikan masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia.

Meski terdapat perbaikan minor pada data free float yang disampaikan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), MSCI menilai hal tersebut belum cukup untuk menjawab kekhawatiran pasar. Sebagian investor global memang mendukung penggunaan laporan Monthly Holding Composition Report dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai data tambahan. Namun, banyak investor menilai kategorisasi pemegang saham dalam laporan KSEI belum cukup andal untuk mendukung penilaian free float dan kelayakan investasi.

Menurut MSCI, persoalan mendasar masih berkaitan dengan keterbatasan transparansi struktur kepemilikan saham serta potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu pembentukan harga wajar. Oleh karena itu, MSCI menilai dibutuhkan data kepemilikan saham yang lebih rinci, dapat diandalkan, serta mampu memantau konsentrasi kepemilikan secara lebih akurat.

Interim Treatment MSCI dan Dampaknya

Sebagai respons atas kondisi tersebut, MSCI menerapkan perlakuan sementara atau interim treatment terhadap sekuritas Indonesia yang berlaku efektif segera. Langkah ini diambil untuk memitigasi risiko perputaran indeks dan risiko investability sembari menunggu perbaikan transparansi dari otoritas pasar.

Dalam kebijakan sementara tersebut, MSCI membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham atau Number of Shares (NOS), baik yang berasal dari peninjauan indeks maupun aksi korporasi. Selain itu, MSCI tidak akan menambahkan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) serta menahan migrasi naik antar segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.

Kebijakan ini membuka kemungkinan penurunan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Indexes. Bahkan, MSCI menyampaikan peluang reklasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market, meskipun tetap melalui proses konsultasi pasar. Isu inilah yang kemudian memicu kepanikan dan aksi jual masif di pasar saham domestik.

Saham-Saham Sensitif Arus Dana Tertekan

Dampak kebijakan MSCI paling terasa pada saham-saham yang sensitif terhadap arus dana berbasis indeks. Sejumlah saham emiten besar yang sebelumnya bergerak dengan narasi berpotensi masuk indeks MSCI justru mengalami tekanan berat.

Analis Investasi Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menilai pengumuman MSCI tersebut meningkatkan risiko volatilitas dan memicu potensi outflow asing, khususnya pada saham-saham yang menjadi sasaran dana indeks global. Kondisi ini memperparah tekanan IHSG dalam satu hari perdagangan.

Komitmen BEI, KSEI, dan OJK ke MSCI

Menindaklanjuti pengumuman MSCI, BEI menegaskan komitmen untuk memperkuat koordinasi dengan MSCI bersama Self-Regulatory Organization (SRO) lainnya, yakni KSEI dan KPEI, serta dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

BEI menyatakan masukan dari MSCI merupakan bagian penting dalam upaya meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia. Sebagai langkah konkret, BEI telah mempublikasikan data free float secara komprehensif melalui situs resmi sejak 2 Januari 2026 dan akan memperbaruinya secara rutin setiap bulan.

Melalui koordinasi berkelanjutan, BEI optimistis dapat meningkatkan transparansi, memperkuat daya saing pasar modal nasional, serta menjaga kepercayaan investor global.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.