Apakah WFH hemat BBM? Sejumlah analis menilai kebijakan pemerintah yang mewajibkan work from home satu hari setiap minggu, baik untuk ASN, pekerja swasta, maupun pelajar tidak memberikan dampak besar terhadap penghematan BBM nasional.
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa penggunaan BBM lebih banyak dipengaruhi oleh sektor logistik, distribusi barang, serta mobilitas di luar aktivitas kerja.
“Menurut saya, dampaknya cenderung kecil dan belum menyentuh perubahan yang bersifat struktural,” ujar Yusuf dalam keterangannya beberapa waktu lalu.
Apakah WFH Hemat BBM?
Apakah WFH hemat BBM? Sebelumnya, pemerintah tengah mengkaji berbagai langkah untuk menjaga defisit APBN tetap di bawah 3%, di tengah kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan konflik Iran dengan AS-Israel yang telah berlangsung selama empat pekan.
Di sisi lain, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memperkirakan bahwa kebijakan work from home satu hari per minggu bisa mengurangi konsumsi BBM hingga 20%. Pemerintah tengah merancang kebijakan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan sebagai upaya menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
Kebijakan ini disiapkan untuk mengantisipasi terganggunya pasokan minyak dan lonjakan harga akibat konflik antara Iran dan Amerika-Israel, yang telah berlangsung selama empat minggu.
Sejak ketegangan di Timur Tengah meningkat, harga minyak dunia sempat melonjak hingga mencapai US$100–US$117 per barel. Meski sempat turun ke kisaran US$87–US$93 per barel, harganya kembali naik seiring memanasnya situasi. Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa dua kapal tanker milik Pertamina masih tertahan di Selat Hormuz.
Ia menambahkan bahwa proses negosiasi masih berlangsung. “Masih dalam tahap negosiasi. Antreannya panjang, jadi mohon waktu,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (17/03).
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa kebijakan WFH akan diberlakukan bagi aparatur sipil negara, serta dianjurkan untuk sektor swasta. Ia memastikan kebijakan tersebut mulai diterapkan setelah libur Lebaran atau pada awal April.
Aturan teknis WFH masih akan dibahas lebih lanjut, namun pelaksanaannya dipastikan setelah Lebaran. Kebijakan ini bertujuan mengurangi konsumsi BBM, sekaligus menekan mobilitas kerja. Presiden Prabowo Subianto juga menilai langkah ini cukup efisien karena berpotensi memangkas sekitar 20% penggunaan energi.
Sekolah akan Menerapkan Pembelajaran Daring
Selain menyasar pekerja, upaya menghemat energi akan diterapkan pada sektor pendidikan. Pemerintah berencana menyesuaikan sistem pembelajaran di sekolah dengan memadukan metode daring dan tatap muka.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menjelaskan bahwa kegiatan pembelajaran yang bersifat praktikum tetap dilakukan secara langsung di kelas untuk menjaga kualitas pendidikan.
Pratikno menegaskan bahwa koordinasi antar kementerian dan lembaga menjadi faktor penting agar kebijakan efisiensi energi dapat berjalan efektif tanpa mengganggu pelayanan publik. Hal ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Teknis terkait kebijakan penghematan BBM di sektor pendidikan, kesehatan, dan layanan publik sebagai tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto pada Senin (16/03).
Dalam rapat tersebut, disepakati lima strategi utama penghematan energi lintas sektor. Strategi ini mencakup penerapan pola kerja fleksibel bagi aparatur sipil negara (ASN), optimalisasi penggunaan platform digital untuk meningkatkan efisiensi kerja, serta pembatasan perjalanan dinas.
Selain itu, langkah lainnya meliputi penerapan penghematan energi dalam operasional gedung perkantoran dan penyesuaian metode pembelajaran. Baik daring maupun luring sesuai dengan karakteristik materi pelajaran atau mata kuliah.
Apakah WFH hemat BBM? Kebijakan work from home (WFH) satu hari dalam seminggu merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menekan konsumsi energi di tengah ketidakpastian pasokan dan kenaikan harga minyak dunia. Namun, efektivitasnya masih menjadi perdebatan karena sebagian pengamat menilai dampaknya tidak signifikan secara struktural, mengingat konsumsi BBM lebih banyak berasal dari sektor logistik dan aktivitas non-kerja.