Advertisement
Analisis | Mengapa Tinggi Badan Orang Korea Selatan Tumbuh Pesat dan Lampaui Indonesia? - Analisis Data Katadata
ANALISIS

Mengapa Tinggi Badan Orang Korea Selatan Tumbuh Pesat dan Lampaui Indonesia?

Foto: Joshua Siringo ringo/ Ilustrasi/ Katadata
Seabad lalu tinggi badan orang Korea Selatan setara dengan orang Indonesia. Namun dalam kurun waktu tersebut, rata-rata tinggi badan orang Korea Selatan mampu tumbuh lebih jangkung daripada Indonesia. Apa saja faktor yang menyebabkan tinggi badan oppa/ hyung dan unnie/ noona Korea lebih tinggi? Apakah karena faktor genetika atau ada faktor lainnya?
Andrea Lidwina
10 April 2023, 06.25
Button AI SummarizeBuat ringkasan dengan AI

Tinggi badan manusia sering dikaitkan dengan faktor genetika. Orang Eropa yang lebih menjulang dari masyarakat Asia diterima secara lumrah, lantaran ras penduduk mayoritas di dua benua itu berbeda.

Berdasarkan data World Population Review, tinggi laki-laki dan perempuan Belanda berusia 18 tahun rata-rata mencapai 183,8 cm dan 170,4 cm pada 2019. Ini sekaligus menempatkan orang Belanda sebagai yang tertinggi di dunia.

Sementara, laki-laki dan perempuan Indonesia memiliki rata-rata tinggi badan 166,3 cm dan 154,4 cm pada usia yang sama. Artinya, orang Indonesia lebih pendek sekitar 16-17 cm dibandingkan orang Belanda.

Namun, tinggi badan tampaknya bukan hanya soal genetika. Penduduk di negara-negara Asia Tenggara yang umumnya serumpun punya tinggi badan yang beragam. Di Singapura, misalnya, tinggi laki-laki dan perempuan usia 18 tahun mencapai 173,5 cm dan 161,3 cm, lebih jangkung daripada Indonesia.

Rata-rata tinggi laki-laki di tanah air berada di posisi ketujuh di kawasan, sementara tinggi perempuan berada di peringkat delapan pada 2019. Secara umum, tinggi badan orang Indonesia hanya lebih tinggi dari orang Filipina, Laos, dan Timor Leste.

Namun, faktor genetika tidak melulu penentu tinggi badan seseorang. Menurut ahli biologi molekuler dari Tufts University Chao-Qiang Lai, faktor genetika hanya berkontribusi 60-80% terhadap tinggi badan manusia, seperti dikutip dari Scientific American

Sisanya yang sebanyak 20-40% disumbang oleh pengaruh eksternal atau lingkungan, terutama jumlah nutrisi yang diterima masing-masing individu.

Orang Korea Lebih Jangkung

Pengaruh nutrisi terhadap tinggi badan manusia terbukti di Korea Selatan. Data Non-Communicable Diseases Risk Factor Collaboration (NCD-RisC) menunjukkan perempuan Korea Selatan yang lahir pada 1996 lebih tinggi hampir 20 cm dibandingkan mereka yang lahir pada 1896 saat berusia 18 tahun.

Tinggi badan laki-laki Korea Selatan pun bertambah signifikan hingga 15 cm pada kurun satu abad. Sedangkan, penambahan tinggi laki-laki dan perempuan Indonesia tercatat lebih lambat, hanya sekitar 10 cm.

Katadata membandingkan rata-rata tinggi orang Indonesia dan Korea Selatan yang lahir pada 1896-1996. Hasilnya, laki-laki Korea Selatan sejak awal memang sudah lebih tinggi dari laki-laki Indonesia, tetapi perbedaannya makin lebar memasuki era 1960an.

Sementara, perempuan Indonesia awalnya lebih tinggi ketimbang perempuan Korea Selatan. Namun, posisinya berbalik pada 1911. Tinggi perempuan Korea Selatan terus melambung, sehingga yang lahir pada 1996 pun mencapai 162,3 cm ketika menginjak umur 18 tahun.

Seperti dilansir Vox, Korea Selatan mulai membenahi perekonomiannya pada 1960an. Salah satunya, dengan mengubah fokus produksi industri, dari tekstil menjadi barang elektronik dan mobil. Hal ini kemudian berdampak pada produk domestik bruto (PDB) per kapita Korea Selatan.

Berdasarkan data Bank Dunia, PDB per kapita Korea Selatan awalnya setara dengan Indonesia. Namun, setelah perbaikan ekonomi di Korea Selatan, nilai keduanya menuju arah yang berbeda. PDB per kapita Korea Selatan meroket, sedangkan Indonesia tidak tumbuh secepat Korea.

Dengan perekonomian yang membaik, Korea Selatan mampu memenuhi kebutuhan makanan dan nutrisi penduduknya dengan lebih seimbang. Data Korean Statistical Information Service (KOSIS) menunjukkan, rata-rata konsumsi makanan penduduk Korea Selatan kini lebih banyak dibandingkan 50 tahun sebelumnya.

Angkanya sebesar 1.463 gram per kapita per hari pada 2021, sementara sebelumnya 1.056 gram per kapita per hari pada 1969. Selain lebih banyak, asupan makanan warga Korea Selatan lebih bervariasi.

Konsumsi yang dulu menitikberatkan pada hasil olahan padi-padian dan umbi-umbian, kini bergeser ke pangan hewani, seperti daging, susu, dan telur. Penduduk Korea Selatan juga semakin banyak makan jamur, ikan dan kerang, serta buah-buahan.

Sedangkan, Indonesia ketinggalan dari Korea Selatan. Konsumsi makanan masyarakat secara nasional rata-rata ada di kisaran 870-880 gram per kapita per hari dalam 50 tahun terakhir—tidak bertambah signifikan. Jumlah itu pun didominasi hasil olahan padi-padian dan umbi-umbian.

Kemudian, konsumsi pangan hewani secara keseluruhan memang tercatat meningkat hingga lima kali lipat, tetapi jumlahnya tetap kalah dari konsumsi daging saja di Korea Selatan, belum ditambah susu dan telur. Hal yang sama terjadi pada asupan sayur-sayuran dan buah-buahan.

Melihat komposisi tersebut, tidak heran kalau asupan protein Korea Selatan lebih baik dari Indonesia. Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), asupan protein Korea Selatan mendekati Belanda pada 2013, yakni 96,2 gram per kapita per hari berbanding 111,7 gram per kapita per hari.

Asupan protein penduduk Indonesia tercatat sebesar 62,2 gram per kapita per hari pada 2013. Jumlah ini bisa jadi memenuhi kebutuhan harian, tetapi bisa pula tidak. Sebab, kebutuhan protein setiap orang sama dengan 0,8 gram per kilogram berat badannya, seperti dikutip dari Harvard Health Publishing.

Namun, itu adalah jumlah minimum yang dibutuhkan agar tidak sakit, bukan angka spesifik yang harus dikonsumsi per hari. Artinya, konsumsi protein di atas jumlah minimum bisa berdampak lebih baik.

Di sisi lain, kekurangan asupan protein bisa berakibat pada stunting. Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi stunting di Indonesia sebesar 21,6% pada 2022, turun dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 24,4%. Sedangkan, prevalensi stunting di Korea Selatan sudah mencapai 2,5% pada 2009.

Adapun, komposisi konsumsi makanan juga perlu dilihat per kelompok umur untuk mengetahui jumlah dan kecukupan nutrisi yang diterima masing-masing kelompok, terutama balita. Namun, Korea Selatan dan Indonesia belum menyajikan data tersebut.

Orang Indonesia Bisa Lebih Tinggi Lagi?

Menurut profesor dari Imperial College London Majid Ezzati, tinggi badan adalah cermin dari kondisi suatu masyarakat, seperti dikutip dari The Guardian.

Pernyataan itu tampaknya sejalan dengan data Korea Selatan dan Indonesia di atas. Sebab, penduduk yang badannya lebih tinggi memiliki asupan nutrisi dan kondisi tinggal lebih baik dibandingkan warga yang lebih pendek.

Namun, bukan berarti orang tinggi lebih baik dari orang pendek. Hal paling penting adalah memenuhi asupan nutrisi dan gizi seimbang, setelahnya akan berdampak pada tinggi badan. Pemenuhan nutrisi ini tidak cuma berlaku pada balita, tetapi juga pada laki-laki dan perempuan sebelum masa kehamilan.

“Tinggi badan juga bisa dipengaruhi lingkungan orang tua dan kakek-nenek kita, di samping lingkungan kita sendiri,” kata Ezzati.

Meski begitu, beberapa penelitian membuktikan orang-orang dengan badan tinggi berpotensi lebih rendah terkena risiko penyakit. Misalnya, penyakit jantung, hipertensi, dan kolestrol tinggi. Ini bisa jadi karena asupan nutrisi yang seimbang sejak usia dini.

Editor: Aria W. Yudhistira


Buka di Aplikasi Katadata untuk pengalaman terbaik!

icon newspaper

Tanpa Iklan

Baca berita lebih nyaman

icon trending

Pilih Topik

Sesuai minat Anda

icon ai

Fitur AI

Lebih mudah berbagi artikel

icon star

Baca Nanti

Bagi Anda yang sibuk