Advertisement
Advertisement
Analisis | Pertaruhan PDIP Mengamankan Suara di Jawa Tengah dan Yogyakarta - Analisis Data Katadata
ANALISIS

Pertaruhan PDIP Mengamankan Suara di Jawa Tengah dan Yogyakarta

Foto: Katadata/ Ilustrasi/ Bintan Insani
Jawa Tengah dan DI Yogyakarta selama ini dikenal merupakan kandang banteng. Dalam dua pemilu terakhir, PDIP berhasil meraup suara terbesar di dua provinsi tersebut. Mampukah PDIP mempertahankan basis suaranya di sana?
Leoni Susanto
12 Februari 2024, 20.10

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tak ingin kehilangan suara di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Kedua provinsi selama ini dikenal sebagai kandang banteng, sebutan untuk partai berwarna merah tersebut. Di dua pemilihan umum (pemilu) terakhir, PDIP berhasil memerahkan mayoritas kabupaten/ kota di provinsi ini dibandingkan partai-partai lain.

Jawa Tengah merupakan lumbung suara untuk memenangkan pemilu. Total ada 28,3 juta pemilih atau 13,8% dari keseluruhan suara nasional pada Pemilu 2024. Dari 38 provinsi, jumlah pemilih Jawa Tengah berada di posisi ketiga setelah Jawa Barat dan Jawa Timur. 

Kehilangan suara di Jawa tengah, tak hanya berpotensi menyebabkan jumlah kursi legislatif berkurang, tetapi juga menurunkan peluang Ganjar Pranowo kader yang didukung PDIP meraih kursi presiden. 

Pada Pemilu Legislatif 2019, PDIP menguasai 28 dari 35 kabupaten/ kota di Jawa Tengah dengan rata-rata perolehan suara sebesar 31,2%. Provinsi ini memang sulit untuk ditembus partai-partai lain, kecuali di daerah-daerah dengan basis partai kuat seperti Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Kabupaten Rembang dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Pekalongan dan Wonosobo.

Sementara basis suara DI Yogyakarta berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebanyak 2,87 juta pemilih atau 1,4% dari total suara nasional di Pemilu 2024. Sama seperti Jawa Tengah, provinsi ini juga salah satu lumbung suara PDIP. Pada 2019, DI Yogyakarta termasuk dalam 10 provinsi penyumbang suara nasional PDIP terbesar, yakni 654 ribu suara atau sekitar 2,4% dari suara PDIP nasional.

Lekatnya hubungan Jawa Tengah dan DI Yogyakarta dengan PDIP dapat dilihat secara historis. PDIP merupakan partai hasil peleburan partai-partai nasionalis pada awal 1970-an. Salah satunya adalah Partai Nasional Indonesia (PNI) yang erat dengan Presiden Soekarno, ayah dari Megawati Soekarnoputri yang saat ini menjadi Ketua Umum PDIP. 

Pada Pemilu 1955, PNI berhasil menjadi partai terbesar di kedua provinsi tersebut, yakni memperoleh 3,07 juta suara atau 35,7% dari total suara PNI nasional.  

Faktor Jokowi Menggeser Peta Suara

Presiden Joko Widodo atau Jokowi memiliki pengaruh kuat di Jawa Tengah. Pada Pemilihan Presiden 2014 dan 2019, Jokowi selalu unggul di provinsi ini. Pada Pilpres 2019, pasangan Jokowi – Maruf Amin memperoleh 16,7 juta suara atau 77,26%. 

Aktivitas Jokowi di Jawa Tengah selama masa kampanye lalu pun dinilai sebagai upaya untuk merebut suara di kandang banteng. Meskipun karier politiknya dibangun di PDIP, pada pemilu kali ini dia dinilai berpaling ke calon presiden (capres) Prabowo Subianto. Ini lantaran pendamping mantan lawannya di dua pilpres sebelumnya itu adalah Gibran Rakabuming Raka, putra Jokowi. 

Dosen Ilmu Komunikasi Politik Universitas Gadjah Mada Nyarwi Ahmad mengatakan, Jawa Tengah merupakan kunci suara kemenangan Prabowo – Gibran satu putaran. “Hanya di wilayah itu, mereka belum unggul,” kata dia. 

Alasan strategis lain mendulang suara di Jawa Tengah, sebagai upaya mencuri massa Ganjar-Mahfud. Dari beberapa survei diketahui basis pendukung Prabowo-Gibran dan Ganjar-Mahfud memiliki irisan yakni massa PDIP yang memilih Jokowi pada 2019. Mereka juga merupakan kalangan nasionalis.

Jika melihat suara partai-partai berdasarkan Pemilu 2019 di Jawa Tengah yang dikalkulasikan sebagai koalisi di Pemilu 2024, wilayah ini masih dimenangkan koalisi Ganjar Pranowo – Mahfud MD sebesar 37,7%. 

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Editor: Aria W. Yudhistira