Advertisement
Analisis | Aplikasi Kencan Kini Bikin Lelah Mencari Pasangan - Analisis Data Katadata
ANALISIS

Aplikasi Kencan Kini Bikin Lelah Mencari Pasangan

Foto: Katadata/ Bintan Insani
Aplikasi kencan dibikin untuk mempermudah dalam pencarian pasangan. Namun, realitanya adalah banyak penggunanya sekarang mengalami kelelahan atau dating app fatigue. Mengapa?
Reza Pahlevi
16 Oktober 2026, 20.11
Button AI SummarizeBuat ringkasan dengan AI

Bagi Nabilah (26) mencari pasangan di aplikasi kencan layaknya berbelanja di lokapasar. Dia disodorkan katalog di layar gawai, lalu algoritma mencocokkannya dengan profil yang sesuai berdasarkan kriteria yang dia tentukan.

Masalahnya, kata dia, saking banyak pilihan malah jadi melelahkan karena harus bolak-balik menggulirkan layar. “Aku capek karena polanya kita milih-milih pasangan kayak di katalog gitu, kayak di e-commerce,” katanya kepada Katadata, Kamis, 15 Oktober 2026.

Nabilah pertama kali menggunakan aplikasi kencan “Bumble” pada 2021. Ketika itu, pemerintah menerapkan pembatasan aktivitas sosial seiring pandemi Covid-19 sehingga banyak yang menggunakan aplikasi kencan untuk menjalin hubungan sosial. 

Namun, setelah lama menggunakan aplikasi, dia merasa tidak ada pilihan algoritma yang benar-benar sesuai. Bahkan setelah mencoba aplikasi lain. 

Persoalannya bukan karena tidak ada kecocokan, melainkan justru karena terlalu banyak “profil yang cocok” disodorkan aplikasi. Dalam satu waktu, Nabilah pernah mendapat sekitar 40 kecocokan atau match di aplikasi. 

“Tapi karena harus mencari topik yang berbeda untuk setiap orang, jadinya malah capek,” ujarnya. 

Sekarang dia memilih untuk menonaktifkan aplikasi kencan di gawainya dan memilih santai dalam mencari pasangan. “Jodohnya siapa tahu dari pertemanan atau temannya teman,” katanya.

Kelelahan dalam mencari pasangan seperti yang dialami Nabilah juga terjadi pada banyak pengguna aplikasi kencan. Survei Forbes Health pada 2025 mencatat 78% milenial dan generasi Z di Amerika Serikat mengalami kelelahan serupa.

Bahkan, ada istilah khusus untuk menjelaskan fenomena ini yaitu dating app fatigue. Ini adalah kondisi kelelahan mental, emosional, dan fisik akibat terlalu banyak swiping atau menggeser kanan dan kiri pilihan potensial di aplikasi kencan.

Kelelahan Menggeser Layar

Banyaknya pilihan yang disodorkan aplikasi ternyata tidak memudahkan dalam mencari pasangan. Sebaliknya, membuat persoalan asmara malah makin pelik.  

Penelitian yang dilakukan Tilburg University pada 2020 menemukan, makin lama seseorang swipe pilihan di aplikasi kencan, pola pikir mereka secara bertahap bergeser dari mode “mencari kecocokan” menjadi “mencari kesalahan”.

Penelitian eksperimental ini melibatkan partisipan berusia 18-30 tahun dalam simulasi yang menyajikan profil pasangan secara sekuensial. Salah satu yang diukur adalah peluang penerimaan atau ketika seseorang menyukai satu profil dalam aplikasi.

Temuannya adalah rata-rata peluang penerimaan turun sebesar 27%-29% dari profil pertama yang dilihat ke profil-profil berikutnya. Pada perempuan, penurunan penerimaan ini bahkan bisa sampai 70%.

Peneliti mengatakan ada dua faktor psikologis utama. Pertama, pengguna mengalami penurunan kepuasan saat melihat foto. Kedua, pengguna semakin pesimistis dengan peluang mereka sendiri untuk mendapatkan profil yang akhirnya match.

“Semakin banyak foto profil yang dilihat, pengguna menjadi makin kritis dan kurang puas terhadap tampilan visual calon pasangan,” tulis Tila Pronk dan Jaap Denissen dalam penelitian tersebut.

Penelitian menyebutkan, tingkat penerimaan laki-laki memang lebih tinggi dari perempuan. Namun, peluang mereka mendapat kecocokan rendah sejak awal yaitu hanya 3,5% sampai 5%. Ini karena perempuan jauh lebih selektif sejak awal dan lebih banyak menolak profil di aplikasi.

Ketidakcocokan Motivasi dan Pengalaman Buruk

Tak hanya karena kebanyakan pilihan, alasan untuk menutup aplikasi kencan juga didorong tidak adanya kecocokan motivasi hingga risiko keamanan. Hal ini terungkap dalam survei Populix yang melibatkan 1.165 responden di Indonesia pada 2024.

Sebagian besar, yakni 56% pengguna aplikasi kencan hanya ingin mencari teman mengobrol. Motivasi lainnya yang populer adalah “penasaran mencoba” (48%) dan “ingin bersenang-senang” (46%). Hanya 27% pengguna yang berniat mencari pasangan.

Tim peneliti Populix mengatakan, hal ini menandakan masih adanya keraguan tentang kemanjuran aplikasi kencan untuk benar-benar menemukan pasangan. 

Ketidakcocokan motivasi ini pun berdampak pada kemampuan pengguna dalam menemukan pasangannya. Dari survei, hanya 20% yang berakhir dengan pasangan yang berkomitmen dan bahkan menikah. 

Selain itu, tim Populix juga menyoroti kekhawatiran terkait keamanan dalam aplikasi, yang membuat pengguna lebih berhati-hati membagikan informasi personal.

Ini juga yang sempat dilakukan Nabilah saat menggunakan aplikasi Bumble. Dalam aplikasi, dia tidak menggunakan nama aslinya meski tetap memberikan informasi latar belakangnya secara jujur. Dia hanya memberitahu nama aslinya ketika interaksinya sudah lebih intens.

Kekhawatiran tersebut bukan tidak berdasar. Menurut survei, sebagian besar pengguna (56%) mengaku pernah mendapat pengalaman buruk saat menggunakan aplikasi kencan. Bagi perempuan, bentuknya cenderung dalam penggunaan bahasa tidak sopan atau bahkan pelecehan seksual.

Apakah Sekarang Lebih Sulit Cari Pasangan?

Pertanyaannya, apakah aplikasi malah mempersulit pencarian pasangan? Atau, aplikasi hanya memperlihatkan kesulitan yang sebenarnya sudah terjadi di luar layar?

Peneliti Center for Digital Society Universitas Gadjah Mada (CfDS UGM) Ayom Mratita Purbandani mengatakan susah atau tidaknya pencarian pasangan tidak terlepas dari kondisi material seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, kondisi ini meliputi ketidakpastian pekerjaan, tingginya biaya hidup, susahnya akses pada hunian, atau aspirasi karier.

“Ini semua sangat memengaruhi cara seseorang membayangkan masa depan. Komitmen juga terkait dengan bagaimana dua orang membayangkan kemampuan mereka menjalani kehidupan,” kata Ayom kepada Katadata, Kamis, 15 Oktober 2026.

Kekhawatiran yang disinggung Ayom ini juga sempat terekam dalam survei Jakpat pada 2023. Baik generasi Z maupun milenial merasa kesiapan keuangan, mental, dan hunian sebagai sesuatu yang sulit dicapai sebelum mencari pasangan menikah.

Selain itu, dia berpendapat ada andil budaya konsumsi yang membentuk pandangan tentang hubungan romantis. Dalam masyarakat yang terbiasa dengan personalisasi dan pilihan individual, seseorang mengharapkan hubungan yang benar-benar sesuai preferensinya.

“Kita jadi terbiasa membayangkan bahwa selalu ada pilihan yang lebih cocok, lebih sesuai dengan diri kita,” kata Ayom.

Akan tetapi, hubungan romantis tidak bekerja persis seperti konsumsi barang. Dalam hubungan, kecocokan tidak sepenuhnya terjadi di awal tetapi juga terbentuk melalui proses interaksi dan negosiasi bersama.

Editor: Reza Pahlevi

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Buka di Aplikasi Katadata untuk pengalaman terbaik!

icon newspaper

Tanpa Iklan

Baca berita lebih nyaman

icon trending

Pilih Topik

Sesuai minat Anda

icon ai

Fitur AI

Lebih mudah berbagi artikel

icon star

Baca Nanti

Bagi Anda yang sibuk