Advertisement
Analisis | Ironi Jakarta: Langganan Banjir Kala Hujan, Kekeringan saat Kemarau - Analisis Data Katadata
ANALISIS

Ironi Jakarta: Langganan Banjir Kala Hujan, Kekeringan saat Kemarau

Foto: Katadata/ Bintan Insani
Sejumlah wilayah di Jakarta mengalami kekeringan. Musim kemarau berkepanjangan akibat El Nino menyebabkan tinggi muka air menyusut. Penyusutan juga terjadi di daerah hulu, seperti di Bendung Katulampa, dari rata-rata 48 sentimeter kini nyaris tak berair.
Puja Pratama
25 September 2026, 09.38
Button AI SummarizeBuat ringkasan dengan AI

Sejak El Nino menerjang, Mariam punya aktivitas baru. Saban subuh, dia terpaksa meminta air dari rumah adiknya yang berbeda RT. Berbekal galon air minum isi ulang, perempuan paruh baya tersebut bolak-balik mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari masak hingga kebutuhan mandi keluarganya.

“Kadang mau ambil wudhu saja, lari ke rumah adik,” cerita Mariam kepada Katadata, Senin, 21 September 2026.

Mariam adalah salah satu warga RT 001/RW01 Kelurahan Cilandak Timur, Jakarta Selatan. Sejak dua pekan terakhir, air di sumur rumahnya mengalami kekeringan. Tak hanya Mariam, ada enam dari 15 RT yang warganya mengalami nasib serupa. Mereka terpaksa mengambil air dari dua musala yang sumber airnya masih mengalir. 

Dalam sehari, keluarga Mariam bisa mengambil 5-10 galon air dari rumah sang adik. “Kadang sekalian bawa pakaian, numpang mencuci di sana,” kata dia. 

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan El Nino menyebabkan sejumlah kelurahan di wilayah administratifnya mengalami kekeringan. Pemerintah provinsi (Pemprov) pun sudah mengirim bantuan air untuk warga yang terdampak.

“Jadi sekarang memang distribusi air tetap kami lakukan. Saya mendapat laporan di beberapa kelurahan ada kekeringan,” kata Pramono di Balai Kota Jakarta pada Selasa, 15 September 2026.

Pemprov juga melakukan modifikasi cuaca untuk memancing hujan. Meskipun, kata Pramono, upaya itu tidak selalu berhasil. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memasukkan Jakarta dalam status “Awas” kekeringan karena telah lebih dari 60 hari tanpa hujan. Data bulanan BMKG juga mencatat curah hujan di wilayah Jakarta sangat rendah dalam tiga bulan terakhir. 

Juli 2026 merupakan bulan terkering dalam dua tahun terakhir dengan curah hujan hanya 4,5 milimeter (mm). Ini artinya setiap meter persegi permukaan hanya kebagian air hujan 4,5 liter atau setara tiga botol air mineral berukuran besar.

Selain itu, BMKG memprediksi kemarau akan berlangsung lebih panjang pada tahun ini, sehingga awal musim hujan akan tertunda. Di Jakarta, musim hujan diprediksi baru akan dimulai pada Desember 2026.

Peta Kekeringan di Jakarta

Rendahnya curah hujan membuat air permukaan Jakarta menipis. Pantauan tinggi muka air di sejumlah titik pengamatan memperlihatkan penurunan dari awal tahun.

Perubahan muka air berasal dari data Posko Banjir Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta yang diperbarui tiap hari. Tinggi muka air lalu dirata-rata tiap bulan untuk melihat penurunannya dari Januari hingga September 2026.

Dari pantauan ini, 33 dari 37 titik lokasi mencatatkan rata-rata penurunan muka air. Salah satunya adalah Bendung Katulampa di hulu Kali Ciliwung yang mengering sejak Juli. 

Tak ada hujan membuat rata-rata tinggi muka air di titik ini tidak lebih dari 2 cm selama Juli-Agustus 2026. Padahal, pada Januari 2026, rata-rata tinggi muka air di Katulampa dapat mencapai 48 cm.

Berkurangnya air di hulu Ciliwung pun merembet ke sumber air lain yang menuju Jakarta. Titik pengamatan di Depok juga mengalami penurunan rata-rata tinggi muka air hingga 49,6% dari awal tahun. Hal serupa terjadi di hulu Kali Krukut yang muka airnya juga turun 50,8%.

Di bagian barat Jakarta, titik pemantauan hulu Kali Angke di Ciledug bahkan mencatatkan penurunan lebih parah. Rata-rata tinggi muka air turun dari 125,7 cm pada Januari menjadi -31 cm pada September 2026. Angka minus menandakan muka air sudah berada di bawah titik nol acuan alat pantau, bukan di bawah dasar sungai.

Menipisnya kondisi air permukaan di Jakarta pun berimbas ke sejumlah wilayah yang melaporkan kekeringan. Di Jakarta Selatan, kekeringan dilaporkan terjadi di Lenteng Agung, Jagakarsa, Cilandak, Pasar Minggu, dan Pondok Labu. Kekeringan juga dilaporkan terjadi di Meruya Selatan dan Kembangan di Jakarta Barat.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan, kekeringan di sejumlah wilayah Jakarta Selatan terjadi karena warga umumnya masih mengandalkan sumur dangkal kurang dari 40 meter. Sementara, kekurangan air di daerah seperti Meruya di Jakarta Barat terjadi karena daerah tersebut memiliki topografi tinggi serta tekanan air yang rendah.

Daerah-daerah yang sudah mengalami kekeringan tersebut memang juga minim mendapat akses air pipa dari perusahaan air minum (PAM). Secara keseluruhan, PAM Jaya mencatat masih ada 13% warga Jakarta yang belum mendapat akses air pipa. 

Ketergantungan pada sumur membuat warga lebih rentan saat kemarau karena muka air tanah dangkal ikut berfluktuasi mengikuti musim. Sementara, pasokan air perpipaan berasal dari sistem produksi dan distribusi yang lebih terkelola.

Peta cakupan air pipa di Jakarta.
Peta cakupan air pipa di Jakarta. (Katadata/ PAM Jaya)

“Menabung” Air

Kondisi kekeringan kali ini terdengar ironis, mengingat juga kerap dilanda banjir ketika musim hujan. Ini membuat kerentanan Jakarta menjadi dua sisi, yaitu banjir saat musim penghujan dan kekeringan saat kemarau.

Pertanyaan pun muncul, mungkinkah Jakarta “menabung” air saat musim hujan untuk dipakai ketika musim kemarau?

Mengutip penelitian Pusat Litbang Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum pada 2017, “menabung air” secara teknis disebut groundwater recharge atau imbuhan air tanah. Ini adalah proses tanah menahan air hujan sebagai cadangan air.

Penelitian tersebut mencatat kemampuan Jakarta melakukan imbuhan air tanah terus berkurang seiring semakin bertumbuhnya daerah kedap air seperti jalan dan permukiman. Pada 2014, tanah Jakarta hanya mampu menangkap 9% dari curah hujan sepanjang tahun.

Ahli limnologi BRIN, Reni Sulistiowati menjelaskan, Pemprov DKI Jakarta sebenarnya terus meningkatkan kemampuan menabung air tanah secara berkala. Metodenya beragam, mulai dari normalisasi situ, pembuatan embung, dan penambahan ruang terbuka hijau.

Selain itu, dia mengatakan, penambahan sumur resapan secara masif juga membantu dalam menangkap curah hujan. Pemprov DKI Jakarta mencatat telah membangun 29.887 titik sumur selama 2019-2024. Sumur ini juga berfungsi untuk mengurangi genangan ketika banjir terjadi.

Meski begitu, Reni berharap upaya mengatasi kekeringan tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga swasta dan masyarakat. Salah satu kontribusi swasta, misalnya, mematuhi aturan penggunaan air tanah dari gedung perkantoran. Masyarakat juga dapat melakukan usaha swadaya untuk memitigasi kekeringan, seperti pemanenan air hujan. 

Studi peneliti BMKG Rista Hernandi Virgianto (2021) mensimulasikan pemanenan air hujan dari atap rumah di lima wilayah Jakarta. Jika sistem dipasang pada 20%-40% area bangunan, air hujan diperkirakan dapat memenuhi sekitar 11%-37,4% kebutuhan air domestik.

Secara rata-rata, kontribusinya bisa mendekati 30% kebutuhan air rumah tangga. Porsi tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan pada air tanah dalam besaran yang setara. Meskipun studi tersebut tidak mengukur langsung volume air tanah yang berhasil dihemat.

Reni mengatakan mitigasi dan adaptasi merupakan langkah paling penting untuk mengurangi dampak perubahan iklim yang terjadi saat ini. Selain itu, seluruh pihak juga perlu mengurangi kegiatan-kegiatan yang bisa lebih memperparah kondisi di masa depan.

“Dampak perubahan iklim yang terjadi sekarang ini memang tidak bisa dihindari. Cuaca ekstrem tidak hanya menyebabkan kekeringan tetapi juga dampak banjir,” katanya kepada Katadata, Kamis, 24 September 2026.

Editor: Reza Pahlevi

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Buka di Aplikasi Katadata untuk pengalaman terbaik!

icon newspaper

Tanpa Iklan

Baca berita lebih nyaman

icon trending

Pilih Topik

Sesuai minat Anda

icon ai

Fitur AI

Lebih mudah berbagi artikel

icon star

Baca Nanti

Bagi Anda yang sibuk