Hubungan Indonesia dan Singapura memanas akibat asap kebakaran hutan dan lahan. Di tengah situasi ini, Pemerintah Indonesia memangkas pasokan gas alam ke Singapura sebesar 31 miliar unit termal Inggris per hari (BBTUD) sejak 24 Oktober 2026.
Keputusan diambil beberapa hari setelah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah bakal mengevaluasi ekspor gas ke negara-negara yang dianggap “tidak menghargai Indonesia”.
Dia mengatakan pemerintah sedang memprioritaskan pemanfaatan sumber daya alam untuk kebutuhan domestik. “Ini survival mode,” kata Bahlil saat meresmikan pengaliran gas perdana dari Sumur Jangkrik North East, Kalimantan Timur, 22 Oktober lalu.
Keputusan ini langsung mengundang respons Singapura. Perdana Menteri (PM) Singapura Lawrence Wong mengingatkan pentingnya untuk semua pihak memenuhi komitmen masing-masing.
“Importir gas Singapura akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hak serta kepentingan Singapura berdasarkan kontrak tersebut,” kata Lawrence dalam pertemuan Partai Tindakan Rakyat Singapura pada Minggu, 25 Oktober.
Bahlil memastikan pemangkasan ekspor gas pipa ini hanya 8% dari total kontrak ekspor sebesar 409,55 BBTUD. Dia mengatakan pelanggaran kontrak baru terjadi jika pengurangan pasokan melebihi batas minimum 10%.
Seberapa Penting Gas Alam Indonesia untuk Singapura?
Gas alam merupakan sumber energi penting untuk Singapura dan 6,2 juta penduduknya. Berdasarkan data Otoritas Pasar Energi Singapura (EMA), 93% pembangkitan listrik bersumber dari gas alam pada 2025. Gas alam ini sepenuhnya dipasok dari negara lain.
Singapura mengimpor gas alam dengan dua metode pengiriman. Masih dari data EMA, 57% pasokan adalah gas alam cair (LNG) dari kapal dan sisa 43% adalah gas pipa yang didapat dari tetangga Indonesia dan Malaysia.
Ada tiga jalur pipa gas utama menuju Singapura, dua di antaranya berasal dari Indonesia. Kedua pipa ini adalah West Natuna Transportation System (WNTS) yang mengalirkan gas dari Laut Natuna dan jaringan Transportasi Gas Indonesia (TGI) yang mengalir dari Jambi Merang, Sumatera Selatan.
Sementara, satu pipa lagi terhubung dengan Malaysia lewat Peninsular Gas Utilisation (PGU) milik Petronas. Pipa ini mengalirkan gas dari pusat pengolahan gas alam di Kerteh, Terengganu, Malaysia.
Pemerintah Indonesia mengurangi pasokan gas sebanyak 15 BBTUD dari Laut Natuna dan 16 BBTUD dari Jambi Merang. Pasokan dari Natuna rencananya akan dialihkan ke PLN Batam, sementara pasokan Jambi Merang dialihkan tersebar ke Sumatra, Bintan, dan Batam.
Secara umum, pemangkasan gas ini sebenarnya melanjutkan tren penurunan ekspor gas ke Singapura. Mengutip Badan Pusat Statistik, ekspor gas ke Singapura memuncak pada 2017 sebesar 7,65 juta ton, lalu merosot hingga 3,22 juta ton pada tahun lalu.
Berdasarkan data perdagangan internasional Trade Map, posisi Singapura sebagai importir utama gas alam Indonesia pun turun dalam beberapa tahun terakhir. Dari peringkat pertama, posisi Singapura turun menjadi peringkat ketiga, di bawah Cina dan Jepang.
Penurunan ini bukan tanpa sebab. Sejak 2013, Pemerintah Singapura mendiversifikasi sumber gas alamnya. Dari yang awalnya hanya bergantung gas pipa Indonesia dan Malaysia, menjadi turut mengimpor LNG dari berbagai negara.
Porsi impor LNG naik dari 0% pada 2012 menjadi 55,9% dari total impor gas alam pada 2024. Selain itu, negara asal impor gas menjadi beragam. Pemerintah Singapura menambah pasokan dari negara lain seperti Qatar, yang menjadi eksportir gas alam terbesar kedua untuk Singapura pada 2025.
Singapura juga mengambil pasokan baru dari negara-negara yang sebelumnya tak pernah tercatat mengekspor gas ke sana, seperti Guinea dan Afrika Selatan. Impor gas alam dari Peru juga meningkat hingga lebih dari 300% pada tahun lalu.
Tren diversifikasi pasokan gas ini menunjukkan ketergantungan Singapura yang sebenarnya semakin rendah terhadap gas Indonesia. Selain itu, PM Lawrence Wong mengatakan Singapura tengah mengkaji potensi energi nuklir sebagai sumber listrik yang lebih bersih dan andal.
Indonesia Bergantung BBM Olahan Singapura
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Muhammad Ishak Razak menilai dampak pengurangan ekspor ke Singapura terhadap pendapatan ekspor relatif terbatas.
“Dari sisi perhitungan ekonomi, dampak langsung terhadap pendapatan ekspor relatif terbatas karena volume yang dikurangi kecil dibanding total ekspor gas ke Singapura,” kata Ishak kepada Katadata, Kamis, 29 Oktober 2026.
Meski demikian, pengalihan gas tetap memiliki biaya peluang (opportunity cost). Indonesia berpotensi kehilangan pendapatan ekspor apabila nilai tambah yang diperoleh dari pemanfaatan domestik tidak mampu mengimbangi pendapatan yang sebelumnya dihasilkan dari penjualan ke Singapura.
Di sisi lain, kebijakan memangkas ekspor gas alam ke Singapura dapat menyimpan risiko besar bagi ketahanan energi domestik. Posisi Indonesia yang masih mengimpor bahan bakar minyak (BBM) berpotensi rentan jika Singapura mengambil aksi balasan seperti pengetatan ekspor BBM ke Indonesia.
Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, mengingatkan ketergantungan Indonesia pada pasokan BBM olahan dari Negeri Singa jauh lebih vital ketimbang ketergantungan Singapura pada gas pipa asal Indonesia.
“Kalau itu sampai disetop sebagai balasan, antrean BBM di SPBU bisa terjadi berbulan-bulan dan menimbulkan gangguan,” kata Fahmy, dikutip dari IDX Channel, Kamis, 28 Oktober 2026.
Sejumlah data memperkuat peringatan itu. Singapura adalah pemasok minyak olahan terbesar bagi Indonesia dengan selisih yang sangat jauh dari pemasok lain, dengan rata-rata mencapai 13,4 juta ton BBM setiap tahun sejak 2014.
Malaysia, di urutan kedua, bahkan hanya mengirim kira-kira separuh volume Singapura. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Rusia hanya memasok sebagian kecil, masing-masing tak sampai dua juta ton per tahun. Ini nyaris tak berubah dalam satu dekade terakhir.
Hanya Malaysia yang menunjukkan kenaikan berarti sebagai pemasok alternatif, sementara yang lainnya bergerak mendatar. Artinya, diversifikasi sumber impor BBM Indonesia tak berjalan seperti Singapura melakukan diversifikasi impor gasnya.
Meski begitu, hubungan ini belum tentu bergerak satu arah. Indonesia juga pembeli penting BBM Singapura. Di antara lima tujuan utama minyak olahan Singapura, Indonesia konsisten berada di urutan kedua setelah Malaysia, dengan porsi mendekati sepertiga dari total volume lima terbesar.
Kebijakan Berisiko dengan Muatan Politis
Ahli ekonomi politik internasional sekaligus pendiri Synergy Policies, Dinna Prapto Raharja menilai kebijakan ini memiliki dua motif. Motif pertama adalah nasionalisasi sumber daya demi memprioritaskan kebutuhan domestik dan kedua adalah respons politik yang reaktif.
Dinna mengatakan ini karena waktu pembatasan ekspor bertepatan dengan polemik kabut asap Indonesia yang memanaskan hubungan kedua negara. Menurutnya, keputusan itu terkesan diambil tergesa-gesa akibat respons emosional atas kritik dari luar, bukan hasil kalkulasi teknis.
“Saya menyayangkan ini karena tidak memperhitungkan kepentingan Indonesia jangka panjang di kawasan dan di tingkat internasional,” kata Dinna, Senin, 26 Oktober 2026.
Menurutnya, Singapura masih punya banyak alternatif pasokan gas dari negara-negara lain di Timur Tengah dan Afrika. Di sisi lain, Indonesia menghadapi risiko kekurangan pasokan yang sulit ditambal dalam waktu singkat jika Singapura memutuskan “membalas” dengan membatasi ekspor BBM ke Indonesia.
Ketegangan politis antara kedua negara tetangga ini juga dapat berdampak ke dimensi lain, contohnya penanaman modal asing (PMA) ke Indonesia. Komunikasi kebijakan yang konfrontatif dapat memengaruhi persepsi investor di Indonesia. Mengutip data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Singapura sendiri adalah negara dengan PMA terbesar di Indonesia sejak 2014.
Ketegangan politik pun tidak bisa dibiarkan lama dan ini terlihat dari upaya diplomasi kedua negara yang mencoba meredam eskalasi di publik. Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan menemui Menteri Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir pada Selasa, 27 Oktober 2026.
Dalam pertemuan tersebut, kedua negara membahas penguatan hubungan bilateral serta penanganan kebakaran hutan bersama-sama. Vivian juga mengatakan Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Brunei adalah tetangga dekat yang bergantung sama satu lain.
“Tentu saja sebagai tetangga kadang-kadang kita ada berbeda pendapat, namun yang paling penting adalah bagaimana kita hadapi perbedaan dan hadapi tantangan bersama,” kata diplomat sekaligus dokter spesialis mata tersebut.
Arrmanatha menilai hubungan kedua negara sudah cukup dewasa untuk membahas perbedaan secara terbuka. Dia juga menegaskan komitmen Indonesia menjadi tetangga yang baik, seperti yang ditekankan Presiden Prabowo Subianto.
“Yang terpenting bukanlah letak perbedaan kita, melainkan bagaimana kita menyelesaikan perbedaan tersebut secara konstruktif,” kata pria yang akrab disapa Tata ini.
Usai pertemuan dengan Arrmanatha, Vivian bertemu langsung dengan Presiden Prabowo Subianto keesokan harinya. Dia mengatakan sudah ada komunikasi langsung antara Prabowo dan PM Singapura, yang menunjukkan komitmen politik kedua belah pihak untuk melakukan “hal-hal yang diperlukan”.
Vivian menjelaskan perbedaan prioritas dan pendekatan di antara negara-negara adalah hal yang tidak dapat dihindari. Namun, dia menekankan pentingnya komunikasi langsung yang jujur, terbuka, dan konstruktif untuk mencari solusi bersama.
Editor: Reza Pahlevi


