Ragam Efek Samping Vaksin Covid-19, dari Anafilaksis hingga Kematian

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, kejadian buruk setelah vaksinasi Covid-19 sangat jarang terjadi namun kemungkinannya tetap ada.
Image title
20 November 2021, 10:30
Warga mengantre untuk mendapat suntikan vaksin COVID-19 di Gelanggang Remaja Makassar, Jakarta, Jumat (12/11/2021). Pemerintah menargetkan vaksinasi COVID-19 mencapai 300 juta dosis pada akhir 2021, yang hingga November 2021 berdasarkan data dari Kementer
ANTARA FOTO/Galih Pradipta/aww.
Warga mengantre untuk mendapat suntikan vaksin Covid-19 di Gelanggang Remaja Makassar, Jakarta, Jumat (12/11/2021).

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) serta lembaga terkait lainnya terus memantau keamanan vaksin Covid-19.

Berdasarkan informasi CDC per 16 November 2021, vaksin virus corona aman dan efektif digunakan. Sebagian orang mungkin tidak merasakan efek samping dari vaksin. Namun, banyak orang melaporkan efek samping dari yang ringan hingga sedang dan akan hilang dalam beberapa hari.

Menurut CDC, kejadian merugikan setelah vaksinasi jarang terjadi namun kemungkinannya tetap ada. Berikut ini beberapa kejadian buruk yang terpantau oleh CDC berdasarkan laporan yang masuk ke Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS).

1. Anafilaksis

Meskipun jarang terjadi, namun laporan CDC menyebutkan terdapat kasus anafilaksis di Amerika Serikat yang menyerang sekitar 2-5 orang per satu juta yang divaksinasi. Anafilaksis dapat terjadi terhadap segala jenis vaksinasi. 

Advertisement

Mengutip keterangan dari situs Kementerian Kesehatan, anafilaksis adalah syok yang disebabkan oleh reaksi alergi yang berat. Kejadian seperti ini membutuhkan pertolongan yang cepat dan tepat.

2. Trombosis dengan Sindrom Trombositopenia (TTS)

CDC dan FDA mengidentifikasi 50 laporan yang dikonfirmasi mengalami TTS pasca divaksinasi Johnson & Johnson (J&J). Termasuk di dalamnya, lima laporan kematian.  Perempuan berusia antara 18-49 tahun mesti mewaspadai risiko ini, meski jarang ditemukan. 

Hingga saat ini, sebanyak dua kasus konfirmasi TTS setelah vaksinasi jenis mRNA (Moderna) telah dilaporkan ke VAERS di mana lebih dari 418 juta dosis mRNA telah diberikan di AS. Berdasarkan data yang tersedia, tidak ada peningkatan risiko TTS setelah vaksinasi jenis mRNA.

3. Guillain-Barre Syndrome (GBS)

CDC dan FDA juga memantau laporan Guillain-Barre Syndrome (GBS) pada orang yang telah menerima vaksin J&J. GBS adalah kelainan langka di mana sistem kekebalan tubuh merusak sel-sel saraf, menyebabkan kelemahan otot, dan terkadang kelumpuhan.

Kebanyakan orang pulih sepenuhnya dari GBS, tetapi beberapa mengalami kerusakan saraf permanen. Terdapat 258 laporan awal GBS yang diidentifikasi VAERS per 10 November 2021, setelah pemberian lebih dari 16 juta dosis vaksin J&J. 

Kasus-kasus ini sebagian besar dilaporkan sekitar 2 minggu setelah vaksinasi dan sebagian besar terjadi pada pria berusia 50 tahun ke atas. 

4. Miokarditis dan Perikarditis

Miokarditis adalah peradangan dinding otot jantung sedangkan perikarditis adalah peradangan dari perikardium. Per 10 November 2021, VAERS telah menerima 1.793 laporan miokarditis dan perikarditis di antara orang berusia 12-29 tahun yang telah menerima vaksin Covid-19. 

Sebagian besar kasus telah dilaporkan setelah melakukan vaksinasi jenis mRNA (Pfizer-BioNTech atau Moderna), terutama pada pria remaja dan muda dewasa. 

Melalui tindak lanjut, termasuk tinjauan rekam medis, CDC dan FDA telah mengkonfirmasi 1.049 laporan terkonfirmasi miokarditis atau perikarditis. 

5. Laporan Kematian 

Lebih dari 442 juta dosis vaksin Covid-19 diberikan sepanjang 14 Desember 2020 hingga 15 November 2021. Dalam rentang waktu tersebut, VAERS menerima 9.810 laporan kematian atau sekitar 0,0022 persen dari peserta vaksin. 

FDA mewajibkan penyedia layanan kesehatan untuk melaporkan kematian apapun setelah vaksinasi Covid-19 ke VAERS meskipun penyebabnya belum jelas apakah karena vaksin. Laporan kejadian buruk, termasuk kematian, tidak selalu memiliki hubungan dengan vaksin Covid-19.

“Tinjauan informasi klinis yang tersedia, termasuk bukti kematian, autopsi, dan catatan medis, belum menetapkan hubungan sebab akibat dengan vaksin Covid-19,” seperti disebutkan dalam laporan CDC.

Namun, laporan terbaru menunjukkan hubungan yang rasional antara vaksin J&J dan TTS. Sebuah kejadian langka yang menyebabkan pembekuan darah dengan trombosit rendah di mana telah menyebabkan lima kematian.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait