Empat Sebab Kewajiban Pasokan Batu Bara Dalam Negeri Tak Optimal

Untuk memaksimalkan pemanfaatan batu bara di dalam negeri, Bappenas mengupakan adanya gasifikasi.
Anggita Rezki Amelia
6 Juni 2018, 20:18
Tambang Batu Bara
Donang Wahyu|KATADATA

Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengidentifikasi empat penyebab belum maksimalnya pelaksanaan kewajiban perusahaan batu bara untuk memasok ke dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO). Beberapa kendala itu merupakan permasalahan internal di dalam negeri.

Kepala Sub Direktorat Geologi, Pertambangan Umum dan Panas Bumi Bappenas Togu Pardede mengatakan faktor pertama tak serapnya batu bara untuk dalam negeri adalah pertumbuhan ekonomi secara maksimal. Pertumbuhan ekonomi ini mempengaruhi konsumsi listrik dan kapasitas pembangkit listrik, terutama yang berbahan bakar batu bara.

Kedua, perbedaan kualitas batu bara yang dihasilkan perusahaan tambang, dengan yang dibutuhkan pembangkit PT Perusahaan Listrik Negara/PLN (Persero). Saat ini, batu bara yang dihasilkan perusahaan dalam negeri berkalori rendah (low). Di sisi lain, pembangkit baru PLN hanya bisa mengelola batu bara kalori sedang.

Alhasil, perusahaan tambang ada yang tidak bisa memenuhi kewajiban DMO. “Karena spesifikasi tadi," kata Togu dalam diskusi di Jakarta, Rabu (6/6).

Advertisement

Ketiga adalah terhambatnya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berbahan baku batu bara. Hambatan utama itu antara lain masalah teknis, keuangan, dan lahan. 

Keempat, harga batu bara di dalam negeri yang dinilai belum ekonomis bagi pelaku. Apalagi harga batu bara dalam negeri juga tidak mengikuti harga internasional. "Kesepakatan harga itu ada yang harga batu bara acuan, ada yang cost plus margin. Itu yang tidak ketemu," kata dia.

Dari data Bappenas, sejak tahun 2010 hingga 2017, target kewajiban DMO memang lebih tak pernah capai target. Sebagai contoh, di tahun 2010 dari target 65 juta ton hanya tercapai 41 juta ton. Tahun 2012, hanya bisa mencapai 55 juta ton dari target 67 juta ton. Kemudian tahun lalu, hanya 96,81 juta ton dari target 461 juta ton.

Adapun dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, tahun depan DMO batu bara ditargetkan bisa terserap 60% di dalam negeri. Adapun produksi batubara tahun depan  dipatok 400  juta ton. 

Untuk itu, memaksimalkan pemanfaatan batu bara dalam negeri, menurut  Togu bisa dengan upaya gasifikasi. Dengan begitu terdapat efek berganda. Rencananya program gasifikasi batubara ini akan masuk dalam pembahasan RPJMN untuk periode 2020-2025 mendatang.

(Baca: Pengembangan CBM Diklaim Hemat Impor Elpiji Rp 28 Triliun per Tahun)

 "Di RPJMN itu kami tetapkan untuk sumber daya alam tidak terbarukan. Itu harus dikelola untuk penuhi dalam negeri," kata Togu.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait