Pemerintah Nilai Pertamina Bisa Tutupi Kerugian BBM dari Blok Mahakam

Pelaksana tugas Dirjen Migas Ego Syahrial mengatakan keuntungan dari pengelolaan Blok Mahakam mencapai Rp 7 triliun per tahun.
Anggita Rezki Amelia
23 Maret 2018, 18:39
Spbu bbm
Katadata | Arief Kamaludin

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral/ESDM menilai keuntungan dari pengelolaan Blok Mahakam yang diberikan ke PT Pertamina (Persero) bisa menutupi kerugian penjualan harga Bahan Bakar Minyak/BBM. Ini merespons adanya kerugian yang diderita Pertamina akibat kebijakan pemerintah yang tidak menaikkan Premium dan Solar subsidi.

Pelaksana tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi/Migas Ego Syahrial mengatakan keuntungan bersih dari pengelolaan Blok Mahakam bisa mencapai sekitar Rp 7 triliun setiap tahunnya. Adapun potensi kehilangan pendapatan akibat tidak ada kenaikan harga Premium dan Solar subsidi sejak Januari hingga Februari mencapai Rp 3,9 triliun.

Atas dasar itu, menurut Ego tidak benar pemerintah tidak peduli dengan Pertamina. “Jadi jangan sampai ada pernyataan bahwa pemerintah itu membiarkan Pertamina. Tidak ada," kata dia di Jakarta, Jumat (23/3).

Adapun alasan pemerintah tidak menaikkan harga Premium dan Solar subsidi untuk mendukung daya beli masyarakat. Sehingga tidak memberatkan masyarakat.

Advertisement

Untuk meringankan beban Pertamina, pemerintah akan menambah subsidi Solar sebesar Rp 500 per liter, sehingga subsidi solar menjadi Rp 1.000 per liter. "Nanti mekanisme simple saja. Kalau parlemen minimal mereka menyatakan tidak mendukung kenaikan BBM, itu sudah menjadi dasar yang kuat mengirim surat kepada Menteri Keuangan untuk merasionalkan subsidi," kata Ego.

(Baca: Dua Bulan Terakhir, Pertamina Kehilangan Potensi Pendapatan Rp 3,9 T)

Direktur Pemasaran Korporat Pertamina Muchamad Iskandar mengatakan kebijakan tidak menaikkan harga Solar dan Premium ini membuat adanya selisih harga keekonomian dan yang dijual ke masyarakat. Selisih itu yang ditanggung Pertamina. “Ini sudah disepakati bersama harga ditetapkan sama tidak ada kenaikan, sehingga kami hitung potensi lost revenue,"kata dia di DPR, Jakarta, Senin (19/3).

Untuk periode April hingga Juni 2018, harga keekonomian Premium mencapai Rp 8.600 per liter. Ini dengan formula harga dasar yang dipakai yakni 103,92% dari Harga Indeks Pasar (HIP) bensin RON 88 ditambah biaya penyimpanan (storage), biaya inventory, biaya angkut ke SPBU, dan margin SPBU sebesar Rp 830 per liter, dan ditambah 2% harga dasar. Sementara itu harga yang ditetapkan pemerintah hanya Rp 6.450 per liter.

Sedangkan harga Solar untuk periode yang sama mencapai Rp 8.350 per liter. Harga ini diperoleh dengan menggunakan penghitungan formula harga dasar dengan menggunakan rumus 102,38% dari HIP Minyak solar, lalu ditambah biaya penyimpanan, biaya inventory hingga biaya angkut ke SPBU dan margin SPBU sebesar Rp 900 per liter.

Adapun harga yang ditetapkan pemerintah Rp 5.150 per liter. Artinya ada selisih sebesar Rp 3.200 per liter. "Ini sudah termasuk subsidi Rp 500 per liter," kata Iskandar.

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait