Harga Minyak Indonesia Februari 2017 Naik 0,62 Persen

"Sesuai kesepakatan pada Desember 2016 untuk melakukan penurunan produksi antara negara–negara OPEC dan 11 negara–negara Non OPEC dalam enam bulan pada tahun 2017"
Anggita Rezki Amelia
6 Maret 2017, 11:19
Rig
Katadata

Harga minyak mentah Indonesia (ICP) untuk Februari 2017 mengalami kenaikan. Pada periode tersebut, harga ICP meningkat 0,62 persen menjadi US$ 52,50 per barel.

Selain harga ICP, harga minyak Indonesia jenis minas (SLC) juga mengalami  kenaikan. Harga minyak ini naik sebesar US$ 0,25 per barel dari US$ 53,11 per barel pada Januari, menjadi US$ 53,36 per barel. (Baca: Harga Minyak Naik, Target Investasi Hulu Migas 2017 Meningkat)

Kenaikan harga minyak Indonesia juga dipengaruhi oleh naiknya harga minyak mentah utama  di pasar  internasional. Salah satu faktornya yakni adanya kesepakatan pada 2016 lalu tentang penurunan produksi negara-negara OPEC.

"Sesuai kesepakatan pada Desember 2016 untuk melakukan penurunan produksi antara negara–negara OPEC dan 11 negara–negara non-OPEC dalam enam bulan pada tahun 2017," seperti ditulis Tim Harga Minyak Indonesia dalam keterangannya, Senin  (6/3).

Tim harga minyak Indonesia menyatakan beberapa jenis minyak mentah Internasional mengalami peningkatan. Harga minyak jenis Brent naik sebesar US$ 0,55 per barel dari US$ 55,45 per barel menjadi US$ 56,00 per barel pada bulan Februari lalu.

Sama halnya dengan minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) pada Februari lalu sebesar US$ 53,46 per barel, naik dari bulan Januari yang hanya sebesar US$ 52,61 per barel. Harga minyak berdasarkan keranjang negara pengekspor minyak (OPEC) juga ikut meningkat pada bulan lalu menjadi US$ 53,37 per barel, dari bulan sebelumnya yang hanya US$ 52,40 per barel. (Baca: Harga Minyak Indonesia Tembus US$ 50 Akibat Kesepakatan OPEC)

Berdasarkan publikasi IEA Februari 2017 lalu, disebutkan bahwa data awal pada Januari 2017 menyatakan tingkat produksi minyak Rusia turun 0,1 juta barel per hari (bph), menjadi 11,48 juta bph. Adapun target penurunan produksi dari 11 negara–negara Non-OPEC adalah 558 ribu bph yang didominasi oleh Rusia hingga 300 ribu bph.

Grafik: Harga Minyak Mentah Dunia (WTI) 2015-10 Agustus 2016
Harga Minyak Mentah Dunia (WTI) 2015-10 Agustus 2016

Selain adanya penurunan produksi, kenaikan harga minyak juga akibat revisi kenaikan atas proyeksi permintaan minyak dunia pada kuartal pertama 2017. OPEC merevisi naik proyeksi permintaan minyak dunia pada kuartal pertama 2017 sebesar 0,25 juta bph, menjadi sebesar 94,84 juta bph.

Faktor lain yang membuat harga minyak naik adalah menurunnya stok gasoline  (bensin) dan distillate  (bahan bakar diesel) Amerika Serikat pada akhir bulan Februari 2017 dibandingkan Januari lalu. Stok gasoline Amerika turun 0,7 juta barrel menjadi 256,4 juta barel. Sementara stok distillate Amerika turun 5,6 juta barel menjadi 165,1 juta barel. 

Pemberian sanksi dari Amerika Serikat kepada Iran setelah uji coba misil balistik di Teheran juga ikut mempengaruhi perubahan harga minyak. Department of Treasury Amerika Serikat mengumumkan sanksi kepada 25 individu dan perusahaan terkait program tersebut. (Baca: Dolar Melemah tapi Harga Minyak Indonesia Januari Terus Naik)

Untuk kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga minyak mentah salah satunya dipengaruhi tingkat permintaan minyak India yang meningkat 197 ribu bph menjadi 4.746 ribu bph pada Desember 2016 dibandingkan tahun lalu. Kemudian terjadi penurunan pada stok komersial Cina mengalami penurunan menjadi 362,8 juta barel pada Desember 2016 dibandingkan November 2016.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait