Akhir Tahun, ConocoPhillips Setop Produksi Elpiji

ConocoPhillips menilai produksi elpiji tidak lagi ekonomis. Selanjutnya, akan fokus menjual gas alam.
Arnold Sirait
26 Februari 2016, 20:11
Stand pameran ConocoPhillips
Arief Kamaludin|KATADATA

KATADATA -  Mulai tahun depan, ConocoPhillips tidak akan lagi memproduksi gas elpiji. Perusahaan asal Amerika Serikat ini bahkan berencana menutup kilang elpiji yang berada di Lapangan Belanak, Blok B South Natuna, pada akhir tahun ini.

Vice President Development and Relations ConocoPhillips Joang Laksanto mengatakan, alasan penutupan kilang tersebut karena dianggap tidak lagi ekonomis. Kilang ini mampu memproduksi elpiji sekitar 10 ribu metrik ton.  Pasokannya berasal dari Lapangan Blok B South Natuna. Selama ini elpiji tersebut dibeli oleh PT Pertamina (Persero).

(Baca: ConocoPhillips Akan Jual Blok Warim)

Setelah tidak lagi memproduksi elpiji, ConocoPhillips hanya menjual gas alam dari Blok B South Natuna. Gas ini akan diekspor ke Malaysia dan Singapura. Berdasarkan informasi di situs resmi ConocoPhillips, produksi bersih Blok B tahun 2014 sebanyak 5.000 barel minyak mentah per hari (BPD), 117 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) gas dan 4.000 barel per hari gas alam cair (LNG). “Produksi elpijinya akhir tahun ini kami setop,” kata dia kepada Katadata, Jumat (26/2). 

Joang enggan mengaitkan penutupan kilang ini dengan rencana ConocoPhillips melepas hak pengelolaannya di Blok B South Natuna. Saat ini ConocoPhillips memang sedang membuka akses data di blok tersebut. Tujuannya untuk menjaring minat investor yang tertarik membeli hak pengelolaan itu. ConocoPhillips merupakan operator yang memegang hak pengelolaan di Blok B Natuna Selatan sebesar 40 persen. Sisanya Inpex Corporation sebesar 35 persen, dan Chevron Corporation 25 persen.

(Baca: SKK Migas Sebut ConocoPhillips Akan Lepas Saham Blok Palangkaraya)

Meski sudah mendapat izin dari pemerintah untuk membuka data blok, Joang tidak mau menjelaskan kemajuan proses penjualan hak pengelolaan tersebut. Namun sampai sekarang sudah ada beberapa investor yang menyatakan minat dan melongok ruang data yang ada di blok itu. Sayangnya, dia menolak menyebutkan siapa saja yang sudah menyatakan minat untuk mengelola Blok B South Natuna. “Mengenai hal ini saya tidak bisa menceritakan lebih lanjut. Confidential dari perusahan-perusahaan ini kan saya juga harus hargai mereka,” ujarnya.

Untuk memilih investor, ConocoPhillips juga menetapkan beberapa kriteria. Pertama, portofolio dari calon pembeli. Dia berharap calon pembeli bisa mempertahankan produksi agar tidak turun, ketika mengelola blok tersebut. Kedua, calon pembeli tersebut harus memperhatikan nasib karyawannya. Proses ini diperkirakan memakan waktu sekitar enam bulan hingga satu tahun. Setelah itu baru bisa ditentukan calon pengelola baru Blok B South Natuna.

Saat ini baru anak usaha PT Saka Energi Indonesia yang secara terbuka mengungkapkan ketertarikannya mengambil hak pengelolaan blok tersebut. Direktur Operasi Saka Energi Tumbur Parlindungan mengatakan sampai saat ini keinginan Saka masih pada tahap masuk ruang data tersebut. Tapi, dia menolak menyebutkan sudah sejauh mana proses pengambilalihan hak pengelolaan tersebut. “Kami ikut prosesnya saja. Sudah sampai mana itu silahkan tanya ke ConocoPhillips,” kata dia kepada Katadata, Jumat (26/2).

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait