ESDM Usulkan Tiga Transaksi Migas Tak Wajib Pakai Rupiah

Ketiga transaksi ini masih menunggu keputusan Bank Indonesia.
Arnold Sirait
12 Januari 2016, 18:31
Pekerja Migas
KATADATA
Pekerja pengeboran minyak lepas pantai di perairan Indonesia

KATADATA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan tiga jenis transaksi di sektor minyak dan gas bumi untuk dibebaskan dari kewajiban menggunakan rupiah. Kewajiban transaksi menggunakan rupiah ini sesuai dengan amanah Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 17/3/PBI/2015 tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kepala Divisi Manajemen Risiko dan Perpajakan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migass (SKK Migas) Mochamad Hatta Filsafawan mengatakan Kementerian ESDM sudah mengirimkan surat mengenai pengecualian transaksi wajib rupiah pada 30 Desember 2015. Dalam surat tersebut ada tiga transaksi yang diusulkan untuk mendapatkan pengecualian kewajiban penggunaan rupiah.

Pertama, transaksi dalam rangka pelaksanaan kewajiban yang tertulis dalam kontrak bagi hasil (PSC) yang dilakukan oleh kontraktor kepada pihak lain atau sebaliknya. Misalnya transaksi yang terkait dengan alokasi minyak dan gas untuk jatah dalam negeri dan  pembayaran bonus-bonus kepada pemerintah. (Baca: Kewajiban Transaksi Rupiah untuk Kurangi Ketergantungan Valas)

Kedua, transaksi penjualan minyak dan gas, termasuk komisi gas untuk transportasi. Ketiga, transaksi pengadaan barang dan jasa yang masih diimpor. “Daftar pengecualian itu sampai saat ini masih berupa usulan dari Menteri ESDM kepada Gubernur Bank Indonesia. Surat dari Menteri ESDM itu belum ada jawaban dari Gubernur Bank Indonesia,” kata dia kepada Katadata, Selasa (12/1).

Advertisement

Direktur Pembinaan Program Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Agus Cahyono juga mengatakan saat ini pihaknya masih menunggu sikap dari Bank Indonesia. Agus mengatakan Kementerian ESDM dan Bank Indonesia sebenarnya juga sudah membahas masalah ini pada 7 Januari 2016.

Sayangnya, Agus belum mau menjelaskan apa saja hasil rapat tersebut. Menurut dia hasil tersebut baru bisa disampaikan setelah mendapat persetujuan dari Bank Indonesia. "Akan kami rilis, akhir minggu lalu sudah kami ajukan, ini masih menunggu persetujuan BI," ungkap Agus kepada Katadata, Senin (11/1). 

Aturan Bank Indonesia ini seharusnya sudah diterapkan sejak 1 Juli 2015. Namun Kementerian ESDM sempat mengajukan pengecualian untuk sektor migas. Menanggapi hal tersebut, Bank Indonesia memberikan beberapa pengecualian sementara. Ada tiga kategori yang disepakati Kementerian ESDM dan Bank Indonesia. (Baca: Sektor Migas Dapat Pengecualian Aturan Wajib Rupiah)

Kategori pertama, transaksi yang bisa langsung menerapkan ketentuan PBI misalnya sewa kantor, rumah, kendaraan, gaji karyawan Indonesia, dan berbagai support services. Kategori ini akan diberikan waktu transisi paling lambat enam bulan, sejak aturan berlaku.

Kategori kedua, transaksi yang masih membutuhkan waktu agar bisa menerapkan ketentuan PBI misalnya untuk pembelian kebutuhan bahan bakar (fuel), transaksi impor melalui agen lokal, kontrak jangka panjang, kontrak multi-currency. Karena kategori ini merupakan sebuah perjanjian dengan jangka waktu tertentu, akan diberi pengecualian sampai kontrak tersebut berakhir.

Ketiga, transaksi yang secara fundamental sulit memenuhi ketentuan PBI karena berbagai faktor, antara lain regulasi pemerintah. Contohnya gaji karyawan expatriate (pekerja asing), drilling service dan sewa kapal, namun untuk kategori tiga, dikecualikan dari aturan wajib rupiah tersebut oleh Bank Indonesia karena banyak kesulitan dalam implementasinya. 

Menurut Agus, saat ini sektor migas yang sudah melakukan transaksi menggunakan rupiah baru pada kategori satu. "Sedang menunggu final approval dari BI dari hasil evaluasi kategori dua dan tiga," ujar dia. (Baca : Kewajiban Transaksi Rupiah Dinilai Tidak Efektif)

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait