Kemenperin Dorong Pengembangan Industri Tekstil Nonsandang

Penulis: Pingit Aria

25/10/2017, 13.54 WIB

Balai Besar Tekstil di Bandung telah berhasil membuat bahan tekstil anti nyamuk, anti bakteri, hingga penangkal ultraviolet.

tekstil
Katadata | Arief Kamaludin

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pelaku industri untuk mengembangkan produk tekstil nonsandang. Industri tekstil dinilai perlu berinovasi untuk menangkap peluang dari tren pasar global.

 “Jadi sekarang produk tekstilnya dimanfaatkan untuk material pembangunan infrastruktur jalan tol, agro-textiles, medis hingga industri makanan dan minuman, otomotif, serta manufaktur konsumsi lainnya,” kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Industri dan Kekayaan Intelektual, Sony Sulaksono melalui siaran pers, Selasa (24/10).

Kemenperin memproyeksikan, komoditas industri tekstil non sandang ini pasarnya masih cukup luas. Rata-rata dalam periode lima tahun terakhir pertumbuhan ekspor produk tekstil nonsandang mencapai 9,9% per tahun, dengan kontribusi Indonesia baru mencapai 0,47% dari kebutuhan dunia.

Untuk menghasilkan produk-produk tekstil fungsional (functional textile) yang berkualitas, menurut Sony, perlu didukung dengan hasil-hasil penelitian dan pengembangan seperti yang dilakukan oleh Kemenperin melalui Balai Besar Tekstil (BBT) Bandung.

“Kami ingin menjawab ekspektasi konsumen yang lebih dari sekedar sandang konvensional, namun sudah masuk kedalam ranah tekstil fungsional yang memiliki karakter dan sifat spesifik sesuai dengan fungsinya,” tuturnya.

BBT Bandung merupakan salah satu unit kerja Kemenperin di bawah binaan Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI). Balai tersebut memiliki dua tugas pokok, yaitu pelaksanaan kegiatan penelitian dan pengembangan di bidang tekstil serta memberikan layanan jasa teknis kepada industri.

Sony menyebutkan, beberapa hasil penelitian tekstil tahun 2017 dari BBT Bandung yang diseminasikan, antara lain tekstil anti nyamuk berbahan aktif mikrokapsul minyak kulit jeruk nipis. Selain itu ada juga pembuatan tekstil anti bakteri dengan zat aktif alami dari kitosan, dan tekstil fungsional untuk atap yang bersifat anti ultraviolet.

“Kami berharap, sejumlah hasil litbang tersebut dapat diimplementasikan oleh industri tekstil nasional sehingga akan memacu daya saing dan produktivitasnnya serta memperluas pasar ekspor,” ujarnya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan