OJK Bantah Ada Krisis Kecil, Sistem Keuangan Normal

Penulis: Miftah Ardhian

Editor: Martha Ruth Thertina

24/11/2017, 19.50 WIB

"Kami berharap tahun depan juga tidak ada goncangan. Kami jaga sektor jasa keuangan," kata Deputi Komisioner OJK Imansyah.

OJK
Donang Wahyu|KATADATA
OJK

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sistem keuangan dalam kondisi normal. Tidak ada krisis kecil seperti yang diisukan selama ini, meskipun pertumbuhan kredit rendah yaitu di bawah 10% dan ada tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

"Hasil asessment sampai bulan Oktober 2017, stabilitas sistem keuangan nasional masih normal dan sehat," kata Deputi Komisioner Pengaturan dan Pengawasan Terintegrasi OJK Imansyah saat acara diskusi dengan media, di Kantor OJK, Jakarta, Jumat (24/11). (Baca juga: Ekonomi Kuartal III Lima Negara ASEAN Melaju, Indonesia Tertinggal)

Ia menjelaskan, pertumbuhan kredit perbankan pada Oktober mencapai 8,18% secara tahunan (year on year/yoy), sudah lebih baik dibandingkan 7,86% pada September. Di sisi lain, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sedikit turun dari 11,69% pada September menjadi 10,95% pada Oktober.

Adapun rasio kredit seret (non performing loan/NPL) masih cukup tinggi. NPL gross berada di posisi 2,96%. Meski begitu, permodalan perbankan kuat, yaitu sebesar 23,54%. Adapun dari sisi likuiditas tercatat longgar. Hal tersebut tercermin dari rasio kredit terhadap pinjaman (Loan to Deposit Ratio/LDR) yang sebesar 88,68%. (Baca juga: Imbas Kredit Seret, Pertumbuhan Kredit Bank Kecil Anjlok 30%)

Di sisi lain, kinerja pasar modal diklaim positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 1,78% pada Oktober. Sementara itu, penghimpunan dana di pasar modal meningkat dari Rp 163 triliun pada September menjadi Rp 197 triliun pada Oktober.

"Ke depan, kinerja intermediasi sistem jasa keuangan diperkirakan membaik dengan porsi pendanaan dari pasar modal dan industri keuangan non bank yang terus meningkat," kata Imansyah.

Adapun imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tercatat naik 34,2 basis poin pada Oktober, sedangkan nilai tukar rupiah melemah 0,67% ke level Rp 13.560. Meski nilai tukar mengalami tekanan, Imansyah menilai hal tersebut masih dalam batas kewajaran.

Ia pun optimistis kondisi normal pada sistem keuangan nasional akan bertahan hingga akhir tahun. "Kami berharap tahun depan juga tidak ada goncangan. Kami jaga sektor jasa keuangan agar tidak banyak isunya di tahun 2018, apalagi tahun 2019," ucapnya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan