Anak Pendek, Tantangan Besar Jokowi di Tahun Terakhir Pemerintahan

Penulis: Muchamad Nafi

7/4/2018, 16.00 WIB

Stunting berpotensi memicu kerugian ekonomi 2 – 3 persen dari PDB, sekitar Rp 300 triliun per tahun.

Balita Indonesia
Katadata

Berpacu Menangani Stunting

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Menurut Kementerian Kesehatan, perbaikan stunting harus meliputi upaya mencegah dan mengurangi gangguan secara langsung atau intervensi gizi spesifik, dan secara tidak langsung alias intervensi gizi sensitif. Pada umumnya, intervensi gizi spesifik dilakukan di sektor kesehatan, namun hanya berkontribusi 30 persen. Adapun 70 persen lainnya merupakan kontribusi intervensi gizi sensitif yang melibatkan berbagai sektor seperti ketersediaan air bersih dan sanitasi, penanggulangan kemiskinan, pendidikan, sosial, dan ketahanan pangan.

Intervensi gizi spesifik untuk balita pendek difokuskan pada kelompok 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan anak 0-23 bulan. Penanggulangan pada usia ini dinilai paling efektif. Karenanya, ada yang menyebut masa ini sebagai “periode emas” atau “periode kritis”. Sementara Bank Dunia menyebutnya sebagai “window of opportunity”. (Lihat juga: Balita Indonesia "Dihantui" Stunting).

Dalam jangka pendek, masalah gizi pada periode tersebut dapat memicu terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan metabolisme dalam tubuh, dan pertumbuhan fisik. Sedangkan dalam jangka panjang bisa menurunkan kemampuan kognitif dan prestasi belajar serta melemahnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit. Selain itu muncul pula risiko tinggi akan penyakit diabetes, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan kegemukan. Efek lanjutnya yakni kualitas kerja tidak kompetitif sehingga produktivitas ekonomi rendah.

Berikut ini beberapa upaya intervensi yang dikampanyekan Kementerian Kesehatan.

1. Pada ibu hamil

  • Memperbaiki gizi dan kesehatan ibu hamil merupakan cara terbaik dalam mengatasi stunting. Apabila ibu hamil dalam keadaan sangat kurus atau mengalami kurang energi kronis (KEK), perlu diberikan makanan tambahan.
  • Setiap ibu hamil perlu mendapat tablet tambah darah, minimal 90 tablet selama kehamilan. Kesehatan ibu harus tetap dijaga agar ibu tidak mengalami sakit.

2. Pada saat bayi lahir

  • Persalinan ditolong oleh bidan atau dokter terlatih dan begitu bayi lahir melakukan inisiasi menyusu dini (IMD).
  • Bayi sampai dengan enam bulan diberi air susu ibu (ASI) saja (ASI eksklusif).

3. Bayi berusia enam bulan sampai dua tahun

  • Mulai usia enam bulan, selain ASI, bayi diberi makanan pendamping ASI (MP-ASI). Pemberian ASI terus dilakukan sampai bayi dua tahun.
  • Bayi dan anak memperoleh kapsul vitamin A, imunisasi dasar lengkap.

4. Memantau pertumbuhan balita di posyandu

Ini merupakan upaya yang sangat strategis untuk mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan.

5. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)

PHBS harus diupayakan oleh setiap rumah tangga termasuk meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan.

Reporter: Ameidyo Daud

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha