Seluruh Sektor Terkoreksi, Sesi I IHSG Terkoreksi Makin Dalam 1,11%

Penulis: Happy Fajrian

5/3/2019, 13.57 WIB

Kekhawatiran melambatnya pertumbuhan ekonomi global kembali membebani IHSG dan bursa saham Asia. Sektor konsumer pimpin koreksi IHSG sebesar 1,41%.

BEI
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA

Mengawali perdagangan dari zona merah, indeks harga saham gabungan (IHSG) terkoreksi semakin dalam pada akhir sesi I perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa (5/3). IHSG turun 1,11% ke level 6.416,13.

Kinerja negatif IHSG ditandai oleh koreksi pada seluruh indeks sektoral. Indeks sektor konsumer pimpin koreksi terhadap IHSG siang ini dengan penurunan 1,41%, disusul manufaktur dengan koreksi 1,16%, keuangan 1,14%, pertanian 0,94%, aneka industri 0,83%, dan tambang turun 0,72%. Selain itu sektor properti. perdagangan, dan industri dasar juga terkoreksi cukup dalam, masing-masing sebesar 1,42%, 1,03%, dan 0,77%.

Transaksi saham di BEI hingga siang ini tercatat sebesar Rp 5,34 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan oleh investor mencapai 8,7 miliar saham. Sebanyak 282 saham berkinerja di teritori merah, 109 saham berkinerja positif, dan 98 saham lainnya tidak bergerak.

Di sektor konsumer, koreksi terbesar dialami saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) yang turun hingga 4.525 poin atau 4,79% menjadi Rp 89.875 per saham. Kemudian PT Kino Indonesia Tbk (KINO) yang terkoreksi 2,52%, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) turun 2,37%, PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) turun 1,66%, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) turun 1,55%.

(Baca: Turun Bersama Mata Uang Asia, Rupiah Melemah ke Rp 14.100 per Dolar AS)

Investor asing pun turut memberi tekanan terhadap IHSG dengan nilai penjualan bersih saham yang mencapai Rp 447,96 miliar di pasar reguler, dan Rp 87,75 miliar di pasar tunai/negosiasi. Sehingga total dana asing yang keluar dari pasar saham siang ini mencapai Rp 535,72 miliar.

Beberapa saham yang paling banyak dilepas investor asing siang ini di antaranya saham PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) Rp 170 miliar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 98,4 miliar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 43,3 miliar, serta PT Astra International Tbk (ASII) Rp 42 miliar.

Tidak hanya IHSG, mayoritas bursa saham Asia juga bergerak di zona merah. Indeks Strait Times terkoreksi 0,5%, Nikkei turun 0,44%, Kospi turun 0,64%, dan KLCI turun 0,31%. Sedangkan indeks Shanghai dan Hang Seng yang mengawali perjalanan dari zona merah sudah kembali ke zona hijau dengan kenaikan masing-masing sebesar 0,40% dan 0,08%.

Tekanan terhadap IHSG dan bursa saham Asia hari ini terjadi karena investor kembali dibuat khawatir dengan tanda-tanda perlambatan pertumbuhan ekonomi global berdasarkan rilis data ekonomi terbaru Amerika Serikat (AS) yang kembali menunjukkan tanda-tanda pelemahan, dan diturunkannya proyeksi pertumbuhan ekonomi Tiongkok untuk tahun ini.

(Baca: Banyak Tekanan Eksternal, IHSG Dibuka Turun 0,04% Seiring Bursa Global)

Pengeluaran di sektor konstruksi AS pada Desember 2018 secara tak terduga turun sebesar 0.6% dibandingkan bulan sebelumnya November 2018. Angka tersebut juga lebih rendah 0,1dari perkiraan ekonom, menambah kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi AS.

Di sisi lain, Tiongkok merevisi kebawah target pertumbuhan ekonominya tahun ini menjadi di kisaran 6%-6,5%, dan mengumumkan stimulus pemotongan pajak untuk menahan laju perlambatan pertumbuhan ekonominya. Pada 2018 Tiongkok mencatatkan laju pertumbuhan ekonomi terendah selama 28 tahun terakhir.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan