Incar Cadangan Migas, Pertamina Akan Gunakan Teknologi Big Data

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Ratna Iskana

19/7/2019, 16.35 WIB

Penggunaan teknologi big data merupakan terobosan untuk melihat potensi cadangan migas di Blok Mahakam.

blok mahakam, pertamina, big data
Arief Kamaludin|KATADATA
Pekerja sedang beraktifitas pada North Processing Unit (NPU) wilayah kerja Blok Mahakam di Kutai Kartanegara, Minggu (31/12).

Pertamina Hulu Mahakam (PHM) berusaha untuk menambah cadangan migas di Blok Mahakam. Selain berencana mengebor dua sumur eksplorasi tahun depan, PHM bakal menggunakan teknologi big data untuk menambah cadangan migas di blok tersebut.

General Manager PHM John Anis mengatakan, penggunaan teknologi big data sebagai terobosan untuk melihat potensi cadangan migas. "Kan banyak resevoir-nya, bisa jadi tidak kelihatan, dulu dianggap kecil. Nah dengan big data ini bisa terlihat," kata John saat diskusi bersama awak media di Jakarta, Kamis malam (18/7). Penggunaan big data ini rencananya diterapkan pada 2020. 

Sebelumnya, CEO Big Java Ruli Harjowidianto menjelaskan, big data merupakan kumpulan data yang begitu besar dan rumit. Big data sangat diperlukan untuk menunjang berjalannya proses bisnis agar lebih efektif dan efisien, termasuk dalam pengambilan keputusan.

Dia mencontohkan teknologi big data seperti Geospasial, yaitu penggabungan peta yang diselaraskan dengan dimensi waktu. Teknologi ini dapat menunjukkan cadangan dan produksi migas dari sebuah ladang migas. Dengan begitu, kontraktor bisa memutuskan apa yang akan dilakukan di ladang migas tersebut.

(Baca: Pengeboran Belum Maksimal, Lifting Migas Blok Mahakam Terus Turun)

Teknologi big data juga sangat efektif untuk menghindari kesalahan dalam kegiatan operasi hulu migas. “Tanah saja bergerak, apalagi minyak. Dari situ untuk mengetahui error , bahwa oke di bawah ini ada minyak atau tidak,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi big data bisa menghemat ongkos eksplorasi migas. Dia mengakui biaya sewa teknologi big data untuk industri hulu migas cukup mahal, bisa mencapai US$ 5 juta. Namun biaya ini tidak seberapa besar dibandingkan dengan anggaran untuk mengulang kegiatan operasi akibat kesalahan studi dan kajian yang dilakukan.

Sejumlah perusahaan migas multinasional pun telah mengadopsi penggunaan teknologi digital dan big data dalam mendukung kegiatan operasionalnya. Beberapa di antaranya, Total, BP, dan Chevron.

(Baca: Pertamina: Produksi Blok Mahakam Sudah Turun Saat Kami Masuk)

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN