Bangun Jembatan Lengkung LRT Jabodebek, Adhi Karya Raih Dua Rekor Muri

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Desy Setyowati

11/11/2019, 13.35 WIB

Desain jembatan ini dibuat oleh insinyur perempuan asal Indonesia.

 Adhi Karya meraih dua rekor Muri atas jembatan lengkung LRT Jabodebek
adhi karya
Ilustrasi foto udara proses pengecoran terakhir Jembatan Lengkung Bentang Panjang Kuningan Proyek LRT Jabodebek di Jakarta, Senin, (11/11/2019). Adhi Karya meraih dua rekor Muri atas jembatan lengkung LRT Jabodebek.

Perusahaan di bidang jasa konstruksi, PT Adhi Karya (Persero) meraih dua Rekor Muri) atau Museum Rekor Indonesia atas desain jembatan lengkung kereta api ringan (Light Rail Transit/LRT) Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi (Jabodebek). Infrastruktur ini terletak di persimpangan jalan HR Rasuna Said dan jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. 

Rekor pertama sebagai jembatan kereta boks beton lengkung dengan bentang terpanjang dan radius terkecil di Indonesia. Yang kedua, rekor pengujian axial statistic loading test pada fondasi bored pile dengan beban terbesar di Tanah Air.

Jembatan LRT tersebut membentang 148 kilometer (km) dengan Panjang lengkungan 115 meter. Berat material betonnya mencapai 2.929,7 ton atau setara 5,2 kali berat pesawat Airbus.

(Baca: Jembatan Lengkung Kuningan Rampung, Progres LRT Jabodebek Capai 67%)

Direktur Utama Adhi Karya Budi Harto menjelaskan, perusahaannya membangun jembatan itu dengan metode balance cantilever,” kata dia di Jakarta, Senin (11/11). Balance cantilever adalah metode pembangunan jembatan dengan memanfaatkan efek kantilever seimbangnya sehingga sruktur dapat berdiri sendiri, mendukung beratnya tanpa bantuan sokongan lain supaya tidak mengganggu aktivitas di bawahnya, dalam hal ini arus lalu lintas Tol JORR.

Budi mengatakan, metode tersebut yang paling memungkinkan untuk dilakukan dan efisien. “Dari pilihan itu kami mendapatkan rekor muri," kata dia.

Insinyur lokal, Arvila Delitriana yang merancang jembatan tersebut. Perempuan lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu telah membangun enam jembatan di Indonesia seperti Jembatan Kali Kunto Semarang, Jembatan Layang khusus Busway, ruas Adam Malik, Jembatan Kereta Api Cirebon-Kroya.

(Baca: Hingga September, Realisasi Kontrak Baru Adhi Karya Baru Capai 25%)

Budi bercerita, Adhi Karya punya tiga opsi desain jembatan dari insinyur asal Perancis pada awalnya. Ketiga desian itu yakni metode incremental launching menggunakan steel box grider, cable stayed, dan concentrate box grider balanced cantivaler dengan kolom tengah.

Akhirnya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono setuju menggunakandesain milik Arvila, yaitu metode concentrate box grider balance cantiviler. Perempuan asal Tebing Tinggi, Sumatera Barat ini pun mendapat apresiasi dari Menteri Basuki dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Kedua menteri tersebut akan menyumbangkan Dana Operasional Menteri (DOM) selama sebulan kepada Arvila. "Ini sangat eksentrik, ini bisa dipatenkan, untuk bisa dipakai di tempat lain," kata Basuki.

(Baca: Adhi Karya Kantongi Pembayaran Proyek LRT Jabodetabek Rp 1,4 Triliun)

Reporter: Fariha Sulmaihati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan