Percepat Transisi Blok Rokan, Kementerian ESDM Akan Surati Chevron

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Desy Setyowati

5/12/2019, 11.18 WIB

Hingga saat ini, Kementerian ESDM belum mendapat laporan hasil diskusi Pertamina dan Chevron terkait transisi Blok Rokan.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bakal mengirim surat ke Chevron dan Pertamina untuk mempercepat transisi blok rokan
Katadata
Ilustrasi Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Djoko Siswanto.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bakal mengirim surat ke Chevron dan Pertamina dalam waktu dekat. Kementerian meminta agar proses transisi Blok Rokan antara kedua perusahaan dipercepat.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Djoko Siswanto memastikan, akan mendorong proses transisi tersebut supaya berjalan mulus. Walaupun, hingga saat ini dirinya belum mendapat laporan terkait hasil diskusi Chevron dan Pertamina.

"Nanti saya kirim surat ke pihak terkait (Chevron dan Pertamina) dalam waktu dekat ini," ujar Djoko ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (4/12) malam.

Sebelumnya, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hingga Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) sudah meminta Chevron dan Pertamina untuk mempercepat transisi Blok Rokan. Mereka khawatir, produksi di blok migas tersebut bakal menurun.

(Baca: Chevron Diimbau Buka Diri ke Pertamina untuk Transisi Blok Rokan)

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Gus Irawan Pasaribu misalnya, mendesak Pertamina memulai investasi di Blok Rokan sebelum 2021. Ia juga meminta Chevron memberikan akses kepada Pertamina untuk ikut masuk mengelola blok migas itu selama masa transisi.

Menurut dia, tidak ada alasan bagi perusahaan asal Amerika Serikat (AS) tersebut untuk tak mempercepat pengalihan Blok Rokan. Apalagi, blok migas itu merupakan aset negara.

"Itu aset negara. Ada US$ 200 juta sekian sudah dikeluarkan Chevron dan cost recovery untuk Enhanced Oil Recovery (EOR)," kata Gus dalam acara diskusi di Jakarta, kemarin (4/12). (Baca: Pemerintah Diminta Intervensi untuk Percepat Pengalihan Blok Rokan)

Untuk itu, pemerintah dinilai perlu turun tangan dalam menjembatani persoalan antara Chevron dan Pertamina yang tak kunjung menemui titik temu. Hal ini supaya produksi di Blok Rokan tak menurun.

Kondisi seperti ini pernah terjadi di Blok Mahakam. Realisasi produksi minyak siap jual (lifting) gas Blok Mahakam pada Semester I 2019 hanya 662 juta standar kubik per hari (MMscfd) atau 60,18% dari target tahun ini. Capaian tersebut jauh menurun dari realisasi lifting gas Blok ini ketika masih dikelola oleh Total EP Indonesia pada 2017 lalu yang mencapai 1.286 MMscfd.

Pada Semester I 2019, lifting Blok Rokan juga hanya 194 ribu BOPD. Angka ini lebih rendah dibandingkan empat bulan pertama tahun ini yang mencapai 195 ribu barel per hari (BOPD).

(Baca: Pertamina Pesimistis Bisa Mengebor Blok Rokan Tahun Depan)

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan