Penurunan Lifting Minyak Dinilai Tak Pengaruhi Pasokan BBM Nasional
Keputusan SKK Migas menurunkan proyeksi lifting minyak tahun ini dinilai sebagai hal yang realistis di tengah menipisnya cadangan minyak. Merosotnya proyeksi lifting minyak juga dinilai tidak akan berpengaruh pada menurunnya produksi BBM di tanah air.
"Penurunan ini realistis ya, karena kalau dilihat dari tren lifting minyak Indonesia atau semakin menurun dan pada tahun 2040 atau 2050 itu barangkali sudah habis," kata pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi kepada Katadata.co.id, Senin (18/7).
Fahmy menambahkan, penurunan proyeksi lifting minyak tidak akan berpengaruh pada produksi BBM. Menurutnya, produksi BBM akan terus menutupi kebutuhan masyarakat karena sebagaian besar bahan baku BBM berupa minyak mentah berasal dari pembelian dari luar negeri atau impor.
"Jadi ini dua hal berbeda, walaupun produksi minyak mentah dalam negeri turun, tapi untuk produksi BBM kan tidak semua menggunakan minyak mentah yang ditemukan di Indonesia. Karena sebagaian besar impor, hampir 1 juta bph," sambung Fahmy.
Pekan lalu, Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina, Nicke Widyawati menyampaikan perusahaan masih harus mengimpor 40% minyak mentah dan 36% produk BBM untuk menutupi konsumsi BBM di dalam negeri.
"Hari ini untuk crude itu 40% kita masih impor dan untuk produk itu 36% kita masih impor," kata Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati dalam Economic Challenges Metro TV pada Selasa (12/7), malam.
Semenara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan impor minyak dan gas (migas) dan nonmigas tumbuh pesat pada Mei seiring dengan peningkatan musiman dalam aktivitas masyarakat dan bisnis. Impor migas naik 62,64% menjadi US$ 3,35 miliar dari tahun sebelumnya (yoy).
Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan menyebut langkah pemerintah untuk menurunkan proyeksi lifting minyak merupakan hal yang wajar. Mamit menilai, hal tersebut disebabkan oleh lapangan minyak di Indonesia yang mayoritas sudah uzur.
"Perlu upaya untuk melakukan pengeboran yang signifikan agar bisa menjaga produksi," kata Mamit saat dihubungi lewat sambungan telepon ada Senin (18/7).
Lifting minyak di tanah air bisa didongkrak dengan meningkatkan work over dan work service di sumur-sumur tua. Selain itu, peningkatan produksi minyak dalam negeri juga bisa dikerek dengan penerapan enhanced oil recovery (EOR) di sejumlah lapangan minyak utama seperti Blok Rokan.
"Program EOR ini kunci peningkatan di masa depan. Hanya saja ini perlu didukung oleh pemerintah," sambung Mamit.
Sebelumnya, SKK Migas mencatatkan realisasi lifting migas atau produksi migas siap jual semester I 2022 masih jauh di bawah target. Lifting minyak misalnya baru tercapai 614,5 ribu barel per hari (bph) atau 87% dari target APBN sebesar 703 ribu bph.
Sementara, lifting gas mencapai 5.326 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) atau 92% dari target 5.800 MMSCFD. Adapun SKK Migas menetapkan proyeksi produksi lifting minyak tahun ini di angka 640.000 sampai 660.000 bph.
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, mengatakan tak tercapainya produksi minyak siap jual dari target tahun ini disebabkan oleh adanya unplanned shutdown di sejumlah Wilayak Kerja (WK) besar seperti proyek Jambaran Tiung Biru dan Tangguh Train 3.
"Ada beberapa hal yang mempengaruhi capaian target lifting ini mundurnya proyek-proyek besar," kata Dwi saat ditemui wartawan di Kantor SKK Migas pada Jumat (15/7).
Selain itu, faktor tekanan Pandemi Covid-19 juga menghambat produksi minyak di beberapa proyek. Adapun pada bulan Juni capaian produksi minyak per bulan Juni mencapai 618 barel per hari. "Ini tugas berat, bagaimana kita terget sebesar mungkin," tukas Dwi.
