Pendapatan Toko Aplikasi Apple Lampaui Google, Diduga Monopoli

Pendapatan App Store milik Apple hampir dua kali lipat Google Play Store. Namun, Apple diprotes sejumlah pengembang aplikasi karena pungutan 30%.
Image title
Oleh Fahmi Ahmad Burhan
7 Oktober 2020, 10:50
Pendapatan Toko Aplikasi Apple Lampaui Google, tapi Diduga Monopoli
ANTARA FOTO/REUTERS/China Daily /pras/cf
Warga memakai masker pelindung menyusul penyebaran penyakit virus korona (COVID-19) terlihat di sebuah Apple Store saat penjualan iPhone SE baru dimulai di Hangzhou, provinsi Zhejiang, Tiongkok, Jumat (24/4/2020).

Pendapatan toko aplikasi milik Apple, App Store hampir dua kali lipat dari Google Play Store. Namun sub-komite kehakiman parlemen di Amerika Serikat menyatakan bahwa Apple memiliki ‘kekuatan monopoli’ atas distribusi perangkat lunak atau software di ponsel buatannya, iPhone.

Itu memungkinkan perusahaan menghasilkan keuntungan besar dari App Store dan mengekstrak sewa dari pengembang. Apple memang diprotes berbagai perusahaan pengembang aplikasi seperti Spotify hingga Epic Games, karena memungut 30% dari setiap transaksi.

Berdasarkan data Sensor Tower, pendapatan App Store naik 31% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$ 19 miliar pada kuartal III. Nilainya hampir dua kali lipat Google Play Store US$ 10,3 miliar, yang tumbuh 33,8% yoy.

Meski begitu, App Store kalah jauh dari sisi unduhan yakni hanya 8,2 miliar. Sedangkan Google Play Store mendapatkan 28,3 miliar.

Komite kehakiman parlemen AS melakukan penyelidikan selama 16 bulan terhadap raksasa teknologi, termasuk Apple. Dalam laporan setebal 450 halaman ini, komite melarang perusahaan memasuki lini bisnis yang berdekatan.

Selain itu, “tidak diizinkan untuk memberikan preferensi atas layanan atau produk sendiri,” demikian isi laporan, dikutip dari CNBC Internasional, Rabu (7/10).

Laporan itu menyoroti biaya peralihan yang tinggi. "Kekuatan pasar Apple tahan lama karena biaya pengalihan yang tinggi, penguncian ekosistem, dan loyalitas merek," demikian tertulis pada laporan.

Komite juga menemukan bahwa Apple menggunakan kontrolnya untuk mengecualikan saingannya. Selain itu, memberikan dorongan pada layanannya sendiri, termasuk menyesuaikan hasil pencarian di App Store untuk mempromosikan aplikasinya.

Laporan itu mencontohkan, Apple meluncurkan fitur ‘Durasi Layar’ untuk mengontrol tayangan anak. Pengembang layanan serupa mengeluh bahwa mereka dikeluarkan dari pasar, setelah peluncuran itu.

"Di sini, kekuasaan monopoli Apple atas distribusi aplikasi memungkinkannya untuk mengecualikan saingannya demi keuntungan ‘Durasi Layar’," demikian tertulis pada laporan itu.

Laporan tersebut juga berfokus pada pungutan 30% dari setiap transaksi. “Kekuatan monopoli Apple atas distribusi aplikasi di iPhone memungkinkan App Store menghasilkan keuntungan supra-normal,” menurut isi laporan.

Keuntungan itu diperoleh dengan menarik sewa dari pengembang. Lalu pengembang membebankannya kepada konsumen dengan menaikkan harga, atau mengurangi investasi pada layanan baru yang inovatif.

Jika rekomendasi tersebut akhirnya menjadi undang-undang, maka perusahaan teknologi besar, termasuk Apple akan dipaksa mengubah praktik bisnis intinya. Ini termasuk cara mendistribusikan aplikasinya sendiri melalui App Store.

Sedangkan Apple menyatakan tidak setuju dengan kesimpulan dari laporan tersebut. "Perusahaan tidak memiliki pangsa pasar yang dominan dalam kategori apa pun di mana kami berbisnis,” kata perusahaan.

Namun, sejumlah pengembang aplikasi seperti Spotify, Epic Games hingga platform kencan online, Match Group memprotes kebijakan Apple yang mengenakan pungutan 30% dari setiap transaksi. Mereka juga membentuk koalisi yang diberi nama The Coalition for App Fairness.

Mereka keberatan dengan pengenaan pungutan 30% dari setiap transaksi di toko aplikasi App Store. Beberapa pengembang membebankannya kepada konsumen, sehingga harga aplikasinya lebih mahal ketimbang di Google Play Store dan lainnya.

Selain itu, mereka menilai Apple mengutamakan aplikasi sendiri di App Store. "Kami bergabung untuk membela hak-hak dasar pencipta aplikasi,” kata pendiri sekaligus CEO Epic Games Tim Sweeney dikutip dari The Verge, September lalu (24/9).

Sebelum membentuk koalisi, pengembang gim online Epic Games, Fortnite gencar memprotes kebijakan Apple. Perusahaan bahkan membuat sistem pembayaran sendiri guna menghindari pungutan 30%.

Hal itu diketahui oleh Apple, sehingga aplikasi Epic Games dihapus dari App Store pada bulan lalu.

Spotify juga telah menggugat Apple terkait dugaan monopoli di Uni Eropa. Produsen iPhone ini dinilai mengutamakan aplikasi buatan sendiri di toko aplikasinya.

"Apple memanfaatkan dominasinya dan melakukan praktik tidak adil yang merugikan pesaing," kata perusahaan. Apple memang memiliki aplikasi streaming musik Apple Music, yang juga bersaing dengan Spotify.

Kedua aplikasi itu masih memimpin pasar layanan streaming musik secara global. Apple menguasai 19% pangsa pasar, dengan jumlah pengguna tumbuh 36% pada tahun lalu.

Sedangkan Spotify meraih 35% pasar, dengan jumlah pelanggan meningkat 23% pada periode yang sama.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Video Pilihan

Artikel Terkait