Tangkal Kredit Macet, Banyak Fintech Lending Kaji IPO dan Bidik Warung

Kredit macet fintech lending meningkat sejak Maret atau di tengah PPKM. Beberapa startup sektor ini pun mengkaji IPO, menyediakan asuransi bagi pemberi pinjaman, dan menyasar warung.
Image title
4 Agustus 2021, 12:24
kredit macet, fintech, ppkm level 4, ipo fintech
Muhammad Zaenuddin|Katadata
Ilustrasi fintech lending

Kredit macet teknologi finansial pembiayaan (fintech lending) meningkat di tengah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM level 4. Beberapa startup di sektor ini pun mengkaji pencatatan saham perdana alias IPO dan membuat produk yang menyasar warung.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, kredit macet atau tingkat wanprestasi pengembalian pinjaman di atas 90 hari (TWP 90) meningkat dari 1,32% pada Maret menjadi 1,37% per April. Kemudian meningkat lagi menjadi 1,54% pada Mei.

Selama periode itu, pemerintah menerapkan PPKM mikro. Kemudian pemerintah menerapkan PPKM darurat sejak 3 Juli, dan kini PPKM level 4 hingga 9 Agustus.

Di tengah peningkatan kredit macet itu, Kredivo bersiap untuk IPO di bursa saham Amerika Serikat (AS) Nasdaq. Fintech lending ini pun merger dengan perusahaan cek kosong atau SPAC, VPC Impact Acquisition Holdings II (VPCB).

Advertisement

Kredivo pun sudah mengajukan IPO secara resmi ke otoritas terkait. Pencatatan saham perdana ini ditarget pada kuartal pertama 2022.

Co-Founder sekaligus CEO FinAccel Akshay Garg mengatakan, perusahaan menyiapkan IPO di tengah lonjakan kasus Covid-19 dan PPKM berkepanjangan, karena ingin mendapatkan modal kerja yang lebih besar.

Setidaknya, fintech itu menargetkan tiga prioritas setelah IPO. "Kami berfokus pada pengembangan produk, ekspansi ke pasar lain di Asia Tenggara, dan menyasar lini bisnis lain," ujar Akhsay saat konferensi pers virtual, Selasa (3/8).

Kredivo memang berencana ekspansi ke pasar regional seperti Vietnam dan Thailand dalam waktu dekat. Namun, Akhsay tidak memerinci bisnis lain yang akan digarap.

Saat ini, Kredivo memiliki empat juta pengguna dan menggaet delapan e-commerce di Indonesia. Fintech ini mencatatkan transaksi tumbuh hingga tiga kali lipat.

Startup lainnya, Modalku memilih untuk meluncurkan produk pendanaan baru yakni Pinjaman Terproteksi. Fintech ini memberikan perlindungan terhadap pokok dan manfaat pendanaan para pemberi pinjaman (lender).

Dengan begitu, lender tetap akan mendapatkan dana tanggungan saat peminjam (borrower) mengalami gagal bayar.

Modalku juga tidak mengenakan biaya tambahan untuk layanan anyar ini. Fintech ini bekerja sama startup asuransi Qoala untuk menyediakan perlindungan pinjaman tersebut.

Co-Founder sekaligus CEO Modalku Reynold Wijaya mengatakan, produk baru itu merupakan bentuk antisipasi di tengah lonjakan kasus Covid-19 dan PPKM. Ada kekhawatiran kredit macet melonjak dan memengaruhi minat lender dalam berinvestasi.

Sedangkan fintech lainnya, Amartha menyasar pasar warung di tengah PPKM level 4. Chief Commercial Officer Amartha Hadi Wenas mengatakan, ada dua layanan untuk warung di aplikasi khusus yakni Amartha Plus.

Pertama, Warung Loan Mitra untuk pembayaran listrik, pulsa hingga stok belanja bagi mitra. Kedua, Warung Loan Non-mitra.

Amartha bekerja sama dengan jaringan warung Sampoerna Ritel Community (SRC) untuk memberikan opsi pembayaran terintegrasi. Amartha juga memberikan modal berupa barang atau suplai kebutuhan warung.

Kedua tools itu tersedia sejak Juni. Saat ini, layanan untuk non-mitra tersedia di Jawa Timur dan Sumatera Barat.

Wenas mengatakan, perusahaan mengincar warung karena banyak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mendigitalisasikan bisnis saat pandemi virus corona. "Layanan ini membantu ibu-ibu untuk lebih terdigitalisasi," kata dia pada Juli (19/7).

Pendiri sekaligus CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra menambahkan, upaya perusahaan menyasar warung merupakan bagian untuk mencapai target satu juta mitra perempuan tahun ini. "Kami buat produk spesifik warung agar ada lebih banyak UMKM yang terdigitalisasi," katanya.

Saat ini, Amartha menggaet 200 ribu lebih mitra UMKM perempuan. Pada semester pertama, fintech lending ini menyalurkan pinjaman Rp 914 miliar atau tumbuh 35% secara tahunan (year on year/yoy).

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait