Ojol Maxim Asal Rusia Rambah E-Commerce, Saingi Shopee dan Tokopedia

Penyedia layanan taksi online asal Rusia, Maxim membuat marketplace. Ini artinya, perusahaan akan bersaing dengan Shopee hingga Tokopedia.
Image title
28 Maret 2022, 15:53
rusia, ojek online, gojek, grab, shopee, tokopedia, bukalapak, e-commerce, Maxim
maxim
Ilustrasi pengemudi Maxim

Penyedia layanan taksi dan ojek online asal Rusia, Maxim berencana mengembangkan marketplace. Jika ini terwujud, maka perusahaan akan bersaing dengan Shopee, Tokopedia hingga Bukalapak.

“Kami sedang mengembangkan marketplace untuk Maxim merchant,” kata Pengacara Maxim Indonesia Dwi Putratama saat rapat dengar pendapat (RDP) tentang revisi UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) dengan Komisi V DPR, yang disiarkan secara virtual, Senin (28/3).

Rapat itu juga dihadiri oleh President Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata, CEO Gojek Kevin Aluwi, dan Direktur Blue Bird Sigit Djokosoetono.

Dwi menyampaikan, ini kali pertama Maxim diundang oleh regulator untuk membahas peraturan level UU.

Advertisement

Ia mengatakan, Maxim beroperasi di Indonesia sejak 2018. Saat ini, perusahaan asal Rusia itu beroperasi di 63 kota.

Maxim menyediakan layanan taksi online, ojek online, pesan-antar makanan, dan pengiriman barang.

Jika Maxim akan merambah bisnis marketplace, maka perusahaan akan bersaing dengan Bukalapak, Shopee hingga Tokopedia.

Tokopedia mencatatkan nilai transaksi bruto atau gross transaction value (GTV) Rp 126,6 triliun selama tujuh bulan pertama 2021. Pendapatan bruto layanan e-commerce ini Rp 3,3 triliun.

Pada kuartal III 2021, perusahaan memperkirakan pendapatan bruto Rp 1,8 triliun. Sedangkan “GTV pada kuartal III 2021 diproyeksikan Rp 60,74 triliun,” demikian dikutip dari prospektus awal IPO GoTo, dua pekan lalu (15/3).

Secara keseluruhan induk Gojek dan Tokopedia tercatat masih merugi Rp 16,7 triliun pada 2020. Sedangkan kerugian selama tujuh bulan pertama 2021 Rp 8,14 triliun. GoTo pun bersiap untuk melantai di bursa saham.

Jumlah pesanan di Tokopedia diperkirakan 76,5 juta selama kuartal III 2021. Frekuensi belanja konsumen di platform diproyeksikan 7,5 juta kali.

Sedangkan Shopee mencatatkan GMV meningkat 80,6% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$ 16,8 miliar atau sekitar Rp 240 triliun pada kuartal III 2021. Pesanan kotor US$ 1,7 miliar, naik 123,2%.

Pendapatan Shopee mencapai US$ 1,5 miliar pada kuartal III 2021 atau meningkat 134,4%.

Secara keseluruhan 2021, pendapatan Shopee melonjak 136,4% menjadi US$ 5,1 miliar. Pesanan kotor mencapai 6,1 miliar atau naik 116,5%. GMV meningkat 76,8% menjadi US$ 62,5 miliar.

Namun laba perusahaan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau EBITDA yang disesuaikan menurun dari minus US$ 1,3 miliar menjadi negatif US$ 2,6 miliar. Kerugian EBITDA yang disesuaikan per pesanan meningkat 8,7% menjadi US$ 420 juta.

Shopee memperkirakan bisa meraup pendapatan US$ 8,9 miliar – US$ 9,1 miliar (Rp 128,3 triliun – Rp 131,1 triliun) tahun ini. Pada 2021, e-commerce ini meraih US$ 5,1 miliar.

“Peningkatannya 75,7% yoy dibandingkan 2021,” kata perusahaan dalam keterangan resmi, empat pekan lalu (1/3). Ini artinya, pertumbuhan pendapatan Shopee melambat dibandingkan 2021 136,4%.

Sedangkan jumlah kunjungan ke situs web per bulan dapat dilihat pada Databoks di bawah ini:

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait