Data Ekonomi AS Membaik, Rupiah Melemah Rp 14.268 per US$

Rupiah dibuka melemah 0,1% setelah AS merilis data penjualan ritel yang membaik. Data ini dinilai memengaruhi ekspektasi pasar terhadap rencana tapering off oleh bank sentral AS, The Fed.
Image title
17 September 2021, 09:48
rupiah, ekonomi as, tapeirng off, the fed
Adi Maulana Ibrahim |Katadata
Nilai tukar rupiah dan dolar

Nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,1% ke level Rp 14.268 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot hari ini. Pelemahan terjadi di tengah membaiknya data ekonomi AS periode Agustus.

Dikutip dari Bloomberg, kurs garuda berbalik menguat tipis ke level Rp 14.265 per dolar AS pada Pukul 09.20 WIB. Namun belum menyentuh level penutupan kemarin Rp 14.253 per dolar AS.

Mata uang Asia lain kompak memerah. Yen Jepang melemah Rp 0,15%, dolar Singapura 0,07%, dolar Taiwan 0,03%, won Korea Selatan 0,57%, peso Filipina 0,05%, rupee India 0,03%, yuang Tiongkok 0,02%, ringgit Malaysia 0,39% dan bath Thailand 0,15%. Sedangkan dolar Hong Kong stagnan.

Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan, rupiah melemah ke level Rp 14.300 per dolar AS. Ini dengan potensi resistance di kisaran Rp 14.250 per dolar AS.

Pelemahan terutama dipengaruhi oleh rilis data penjualan ritel AS periode Agustus yang kembali menguat. "Hasil positif ini akan mendukung ekspektasi pelaksanaan pengetatan moneter AS tahun ini," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Jumat (17/9).

Departemen Perdagangan pada kamis malam (16/9) melaporkan, penjualan ritel Agustus naik 0,7% dibandingkan bulan sebelumnya (month to montm/mtm). Ini membaik dibandingkan Juli yang terkontraksi 1,8%.

Pencapaian itu juga melebihi ekspektasi ekonom yang disurvei oleh Reuters yang memperkirakan penjualan ritel masih terkontraksi 0,8%.

Secara tahunan (year on year/yoy), penjualan ritel AS juga meningkat 15,1%. Bahkan nilainya 17,7% di atas tingkat sebelum ada pandemi corona.

Ariston menilai, perbaikan ekonomi dari sisi domestik AS memengaruhi ekspektasi pasar terhadap rencana tapering off alias pengetatan stimulus bank sentral The Fed. Pada saat yang sama, pasar tengah menantikan rapat pejabat Fed pekan depan.

"Pelaku pasar kemungkinan akan mengantisipasi hasil rapat jika mengindikasikan kebijakan tapering off dilakukan tahun ini," kata Ariston.

Dia menilai, ekspektasi pengetatan moneter akan mendorong penguatan dolar AS. Sebab, tapering off bakal mengurangi likuiditas dolar AS di pasar.

Selain data penjualan ritel yang meningkat, sektor tenaga kerja terus membaik. Data klaim jaminan pengangguran terus turun dari di atas 400 ribu pada Juli menjadi 310 ribu bulan lalu.

Sedangkan dari dalam negeri, Ariston menilai belum ada sentimen yang signifikan untuk menahan pelemahan rupiah. Namun penguatan kurs garuda sempat terjadi pada Kamis (17/9), sehari setelah pemerintah melaporkan surplus neraca dagang Agustus yang cetak rekor US$ 4,74 miliar.

Reporter: Abdul Azis Said
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait