Tahan Ekspansi Gerai, Matahari Anggarkan Belanja Modal Rp 150 M

Matahari Putra Prima anggarkan belanja modal Rp 150 miliar untuk menambah tujuh gerai tahun ini.
Image title
Oleh Ekarina
30 April 2019, 05:00
matahari tambah gerai
Arief Kamaludin/ Katadata
Pusat Perbelanjaan Hypermart di Thamrin City, Jakarta.

PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), perusahaan retail modern milik konglomerasi Lippo Grup menyatakan akan berhati-hati merealisasikan ekspansi bisnisnya tahun ini. Ketatnya persaingan bisnis menjadi pertimbangan perseroan dalam menambah gerai baru.

Sekertaris Perusahaan Matahari Putra Prima Danny Kojongian mengatakan, perusahaan menargetkan membuka 7 gerai baru hingga akhir tahun. Target tersebut relatif stagnan dengan jumlah pembukaan gerai tahun lalu.

Adapun untuk ekspansinya ini, perusahaan akan mengalokasikan investasi belanja modal sebesar Rp 150 miliar yang sepenuhnya akan didanai dari kas internal perusahaan.

(Baca: Matahari Tutup 2 Supermarket Grosir karena kurang Menguntungkan)

Danny mengatakan, secara umum, industri retail masih berpeluang tumbuh. Pertumbuhan sektor groseri di Indonesia ditopang oleh pertumbuhan kelas menengah dan pergeseran minat belanja masyarakat dari pasar tradisional ke retail moderen.

Meskipun demikian, perusahaan juga melihat industri ini masih memiliki tantangan terutama mengenai maraknya persaingan bisnis dalam meraih pelanggan. "Tahun ini kami akan membuka sekitar 7 unit gerai dan harus berhati-hati, jangan sampai membuka gerai tapi infrastrukturnya belum siap," kata dia di Tangerang, Banten, Senin (29/4).

Dari jumlah gerai tersebut, Matahari akan mengalokasikan penambahan satu unit hypermart dan empat hingga enam gerai hyfresh serta foodmart. Ekspansi gerai tersebut sejalan dengan fokus bisnis perusahaan pada pengembangan bisnis gerai atau supermarket berformat lebih kecil, moderen dan menjual produk segar berorientasi pelanggan.

(Baca: Ekspansi Gerai, Matahari Store Naikkan Belanja Modal Jadi Rp 1 Triliun)

Selain itu, mulai tahun ini perusahaan juga akan meluncurkan gerai baru bernama hyfresh untuk melayani segmen komunitas dengan fokus penjualan produk segar dan harga kompetitif.

Sepanjang tahun lalu perseroan membukukan penjualan bersih Rp 10,6 triliun. Sejalan dengan menurunnya penjualan, perseroan juga membukukan rugi operasi Rp 929 miliar serta kerugian sepanjang tahun Rp 898 miliar, menyusut dari tahun sebelumnya Rp 1,23 triliun.

Sementara itu, Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) memperkirakan pertumbuhan industri retail bisa mencapai 10%, tak jauh berbeda dengan realisasi pertumbuhan 2018 sekitar 9%.

Asosiasi memasang target konservatif karena mempertimbangkan berbagai kondisi saat ini seperti tahun politik serta pertumbuhan ekonomi yang masih menantang. Menurut dia, saat ini pola belanja dan konsumsi masyarakat semakin tidak terprediksi karena kemajuan teknologi digital. Kegiatan belanja masyarakat pada perusahaan atau gerai retail bisa jadi akan berkurang.

Persaingan dengan perdagangan elektronik dan penjualan produk lewat media sosial yang juga berpotensi mengganggu potensi penjualan retail modern. "Ada ceruk yang terambil, sehingga kami harus lebih kreatif memasarkan barang," ujar Tutum.

Sementara pada tahun lalu, pertumbuhan industri retail terdorong oleh banyaknya acara internasional yang berlangsung di dalam negeri, seperti Asian Games 2018 serta pertemuan tahunan Bank Dunia.

 

 

 

 

 

 

 

Editor: Ekarina

Video Pilihan

Artikel Terkait