Efisiensi Rantai Distribusi dan Produksi Bisa Tekan Harga Beras

Untuk menjaga harga beras di pasar, pengusaha perberasan mengatakan penyederhanaan rantai distribusi harus diimbangi dengan efisiensi produksi.
Michael Reily
15 Februari 2019, 21:45
Petani desa Banyu Urip
Katadata

Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) menyatakan penyederhanaan rantai distribusi untuk menjaga harga beras di pasar harus disertai dengan efisiensi produksi. Sebab, harga beras akan tetap tinggi jika biaya produksinya juga tinggi.

Ketua Umum Perpadi Soetarto Alimoeso menjelaskan pemerintah harus memperhatikan ongkos produksi petani. "Petani harus memperoleh nilai tambah dari produksi, inflasi akan mempengaruhi biaya keluar lebih banyak," kata Soetarto kepada Katadata.co.id, Jumat (15/2).

Dia menjelaskan, komponen biaya yang mempengaruhi produksi petani di antaranya adalah harga pupuk, benih, upah tenaga kerja, bahan bakar, serta transportasi. Selain itu, faktor musim akan menjadikan petani menawarkan harga yang lebih tinggi ketika panen.

(Baca: Survei BPS: Rantai Perdagangan Ringkas, Harga Konsumen Semakin Rendah)

Advertisement

Dia juga menuturkan, margin penggilingan sangat kecil dalam rantai distribusi dari gabah menjadi beras. Menurutnya, biaya penggilingan per kilo gram gabah menjadi beras hanya sekitar Rp 100 sampai Rp 400. Sehingga, jika harga satu kilogram besar Rp 10 ribu, keuntungan yang bisa didapat pengusaha penggilingan hanya sekitar 1%-4%. 

Namun, banyak pengepul dan penebas yang menjadi rantai tengah dalam membawa hasil panen gabah kepada penggilingan. Alhasil, dengan adanya peran tersebut, harga gabah yang sampai ke penggilingan menjadi  lebih mahal.

"Biaya penggilingan juga cenderung stabil meski harga dari petani berubah," ujarnya.

Dia menyarankan pemerintah untuk melakukan efisiensi produksi dengan menyediakan pengering ketika musim panen raya. Selain itu, sistem klasterisasi yang menggabungkan petani dan penggilingan juga akan menghapus peran pengepul dan penebas yang mengambil untung dalam rantai distribusi.

(Baca: Kejar Target Serapan Gabah, Kementan Gandeng TNI dan Bulog)

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pola perdagangan distribusi beras di Indonesia saat ini masih melibatkan tiga rantai. Yang mana dari  produsen atau penggiling, pendistribusian beras masih melibatkan dua pedagang perantara, yakni distributor dan pedagang eceran/swalayan sebelum sampai ke tangan konsumen. Karenanya, kenaikan harga beras dari produsen sampai dengan konsumen akhir bisa mencapai sebesar 25,35%. 

BPS mengungkapkan, tujuh provinsi yang mencatat margin yang lebih besar daripada rata-rata nasional, yaitu Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Maluku Utara, Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Barat, Aceh, dan Riau.

Mata rantai perdagangan di ketujuh wilayah masih cukup besar karena jalur distribusi yang lebih panjang. "Perlu mempersingkat rantai perdagangan seperti Sulawesi Tenggara yang hanya melibatkan dua rantai perdagangan," ujar Kepala BPS Suhariyanto.

Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait