Beli Alat Berat dan Proyek Tambang, Belanja Modal Adaro Capai Rp 3,5 T

Realisasi serapan tersebut setara 54% dari total capex yang dianggarkan perusahaan tahun ini sebesar Rp 6,4-8,5 triliun.
Image title
Oleh Fariha Sulmaihati
26 Agustus 2019, 20:54
Sepanjang 2019, Adaro mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp 6,4 hingga Rp 8,5 triliun.
KATADATA/
Sepanjang 2019, Adaro mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp 6,4 hingga Rp 8,5 triliun.

Emiten pertambangan PT Adaro Energy Tbk (ADRO), merealisasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 245 juta atau setara Rp 3,49 triliun (dengan kurs Rp 14.245 per dolar) sepanjang semester I 2019. Realisasi serapan tersebut setara 54% dari total capex yang dianggarkan perusahaan tahun ini  sebesar Rp 6,4-8,5 triliun.

Chief Financial Offiecer  (CFO) Adaro Energy Lie Luckman mengatakan bahwa capex tahun ini paling banyak diserap untuk peremajaan alat-alat berat kontraktor pertambangan, yang dioperasikan anak usaha perseroan, PT Saptaindra Sejati (SIS).

"Capex ini kami masih menggunakan dana internal. Belum ada rencana dari bank. Karena kas kami masih terpenuhi," ujarnya di Jakarta, Senin (26/8).

(Baca: Bos Adaro Boy Thohir Jadi Komisaris Gojek)

Sedangkan serapan capex lain, menurutnya telah digunakan untuk mendanai pengembangan proyek tambang milik anak usahanya yang lain, yakni  Adaro Metcoal Companies (AMC).

Head of Corporate Secretary and Investor Relations Division Mahardika Putranto mengatakan bahwa pihaknya menargetkan produksi batu bara AMC tahun ini sebanyak satu juta ton.

AMC kelompok yang mewakili tujuh perusahaan memegang Perjanjian Karya Pertambangan Batu Bara (PKP2B) di tujuh area konsesi di Provinsi Kalimantan Tengah dan Timur. Salah satunya cekungan batu bara Maruwai yang mengandung deposit batu bara metalurgi terbesar di dunia yang belum dikembangkan.

"Jadi kami masih mengembangkan infrastruktur disana (Maruwai). Sekarang kami masih beroperasi di Lahai," ujar Mahardika.

Hingga semester I 2019, perusahaan membukukan kenaikan pendapatan usaha sebesar10% menjadi US$ 1,7 miliar dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, diikuti kenaikan beban pokok sebesar 8% menjadi US$ 1,2 miliar.

(Baca: Harga Batu Bara Merosot, Adaro dan Bukit Asam Pertahankan Produksi)

Adaro membukukan laba inti sebesar US$ 371 juta atau naik 38% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Royalti yang dibayarkan kepada negara pun ikut naik 12% menjadi US$ $189 juta.

Sedangkan, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) perseroan tercatat sebesar US$691 juta atau naik 17%. 

 

Editor: Ekarina

Video Pilihan

Artikel Terkait