Biayai Ekspansi, Gunung Raja Paksi Incar Dana IPO Rp 1 Triliun

Gunung Raja Paksi menyatakan siap menggelar IPO pada semester I 2019 dengan melepas 10,22% saham ke publik.
Michael Reily
31 Januari 2019, 17:57
gulungan besi baja
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Pekerja membantu bongkar muat gulungan besi baja di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (4/4/2018).

PT Gunung Raja Paksi berencana menawarkan sahamnya ke publik melalui mekanisme penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO).  Pada proses tersebut, perusahaan industri pengolahan baja tersebut akan melepas 10,22% sahamnya ke publik dengan target perolehan dana minimal sebesar Rp 1 triliun. 

Presiden Direktur Gunung Raja Paksi Aloisius Maseimilian menyatakan rencana IPO diharapkan bisa terealisasi pada  semester pertama 2019. "Tahap awal kami akan melepas sekitar  10% saham dengan dana sebesar Rp 1 triliun - Rp 2 triliun," kata Aloisius di Cikarang, Jawa Barat, Kamis (31/1). 

(Baca: Impor Baja Tiongkok Masih Akan Menggerus Neraca Perdagangan)

Dana itu rencananya akan digunakan perusahaan untuk mendukung ekspansi,  investasi pabrik, peningkatan utilitasi produksi, serta tambahan modal kerja.

Gunung Raja Paksi merupakan bagian dari PT Gunung Steel Group, industri baja dalam negeri pesaing Krakatau Steel. Gunung Steel Group saat ini tercatat memiliki sejumlah pabrik yang mempekerjakan lebih dari 5 ribu karyawan dengan kapasitas produksi baja sebesar 2,8 juta ton per tahun.

Aloisius menuturkan, perusahaan berkomitmen memenuhi kebutuhan pasar domestik. Sehingga baja nasional memiliki peran dominan dalam industri baja nasional serta peningkatan ekspor. 

(Baca: Akuisisi Pabrik Baja, Krakatau Steel Akan Gandeng BUMN Karya)

Sementara itu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyambut rencana IPO Gunung Raja Paksi dengan baik. Sebab, pelepasan saham kepada masyarakat merupakan langkah posotif untuk peningkatan profesionalisme manajemen.

Enggar mengungkapkan, industri baja merupakan salah satu tumpuan dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia. "Prospeknya besar apalagi sekarang pemerintah memastikan pembangunan akan berkelanjutan," ujarnya.

Reporter: Michael Reily
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait