Pemerintah Genjot Produksi Metanol untuk Program B50

Image title
17 Januari 2025, 14:02
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers pemberlakuan B40 mulai 1 Januari 2025 di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (3/1).
Katadata/Rahayu Subekti
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers pemberlakuan B40 mulai 1 Januari 2025 di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (3/1).

Ringkasan

  • Sekitar 2.500 pengemudi ojek online dan kurir, tergabung dalam Koalisi Ojol Nasional dan didukung oleh Asosiasi Driver Online, berencana menggelar demo di depan kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika dan akan off bid atau tidak mengambil order pada Kamis siang.
  • Demo tersebut dimotivasi oleh ketidakpuasan terhadap regulasi dan program aplikator yang dinilai tidak adil, terutama terkait perang tarif yang menurunkan pendapatan driver, serta meminta revisi terkait tarif layanan pos komersil, pengevaluasian kegiatan bisnis aplikator, dan legalisasi ojek online melalui Surat Keputusan Bersama.
  • Tuntutan pengemudi mencakup revision dan penambahan aturan tentang tarif layanan, pengevaluasian dan pengawasan atas aplikator, penolakan terhadap promosi yang membebani pengemudi, dan standardisasi tarif antar aplikator, serta permintaan legalisasi ojek online di Indonesia.
! Ringkasan ini dihasilkan dengan menggunakan AI
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemerintah tengah menggenjot produksi metanol untuk memenuhi kebutuhan program mandatori Biodiesel 50% atau B50. Pasalnya, Indonesia masih mengalami defisit produksi metanol.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan Indonesia akan memiliki pabrik metanol untuk mendukung program mandatory B50.

"Arahan Bapak Presiden itu langsung juga kita bangun dalam negeri. Itu kita akan bangun di Bojonegoro. Bahan bakunya dari gas," ujar Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (17/1).

Bahlil mengatakan, pembangunan pabrik metanol di Bojonegoro dilaksanakan oleh investor dalam negeri. Meski begitu, ia tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai siapa investor yang akan membangun pabrik tersebut.

"Swasta nasional, investornya dari dalam negeri. Engga ada asing," ujarnya.

Biodiesel B50 adalah pencampuran bahan bakar nabati (BBN) sebesar 50 % dengan bahan bakar minyak (BBM). Metanol dibutuhkan untuk proses pencampuran kedua bahan bakar tersebut.

Pada Jumat (10/1), Bahlil mengatakan program B40 membutuhkan setidaknya hingga 2,3 juta ton metanol. Namun, Indonesia baru bisa memproduksi metanol sebesar 500 ribu ton atau kurang 1,8 juta ton.

Sementara itu, untuk meningkatkan produksi etanol yang berasal dari tanaman tebu. Pemerintah tengah menyiapkan beberapa program perkebunan tebu di Jawa dan Merauke, Papua.

"Supaya betul-betul perbaurannya itu dilakukan semuanya dalam negeri," ucapnya.

Bahlil mengatakan, saat ini pemerintah berencana untuk memaksimalkan potensi bioenergi guna mencapai ketahanan energi nasional. Adapun salah satu strategi untuk mendorong ketahanan energi di Indonesia dilakukan dengan memaksimalkan produksi biodiesel dengan menggunakan crude palm oil (CPO).

"Arahan Bapak Presiden itu kan kita mendorong kepada ketahanan energi. Sambil kita memacu lifting minyak kita, salah satu strateginya adalah kita mempergunakan biodiesel dengan mempergunakan CPO," ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Djati Waluyo

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...