Energi Mega Persada Mulai Pengeboran Dua Sumur di Mozambik Tahun Ini

Untuk melakukan pengeboran dua sumur di Mozambik, Energi Mega Persada menggelontorkan investasi hingga US$ 50 juta.
Image title
27 September 2019, 19:38
Energi Mega Persada
Energi Mega Persada
Ilustrasi, anjungan di Blok Mallaca Strait yang dikelola Energi Mega Persada (EMP). EMP akan mengebor dua sumur di Blok Buzi.

PT Energi Mega Persada Tbk (EMP) mulai ekspansi bisnis di luar negeri, salah satunya di Blok Buzi, Mozambik, Afrika. Melalui anak usaha Buzi Hydrocarbons Pte. Ltd (BHPL), perusahaan dengan kode emiten ENRG ini menargetkan bisa mengebor dua sumur eksplorasi pada tahun ini.

Adapun investasi untuk proyek tersebut diperkiarakan mencapai US$ 50 juta dolar. "Untuk Blok Buzi kami akan start drilling tahun ini. Diharapkan drilling sudah bisa dilakukan di dua sumur," kata Direktur EMP Edoaruds Ardianto Windoe di Bakrie Tower, Jakarta, Jumat (27/9).

Proyek migas di Afrika tersebut merupakan kerja sama dari BPHL dan Empressa Nacional de Didrocarbonetos (ENH) yang diumumkan ke publik pada bulan lalu. Adapun 75% kepemilikan saham dimiliki oleh BPHL, sedangkan 25% ENH.

(Baca: Bakrie Getol Ekspansi Bisnis Hulu Migas, dari Kangean hingga Mozambik)

Selain menggarap proyek migas, EMP juga ekspansi ke proyek pertambangan di Afrika melalui anak usaha EMP Mining Overseas Pte. Ltd. Anak usaha tersebut telah meneken kesepakatan bisnis dengan perusahaan mineral dari Mozambik, yaitu AAI Commercio & Servicos.E.I.

Kedua perusahaan bekerja sama untuk mengembangkan usaha pertambangan graphite dan rare earth atau tanah jarang. Untuk investasi awal, perusahaan akan mengalokasikan dana sebesar US$ 25 juta untuk eksplorasi.

Sebelum memulai kegiatan eksplorasi, perusahaan akan studi terlebih dahulu selama enam bulan kedepan. Diharapkan dari kegiatan tersebut bisa menghasilkan cadangan migas.

Edoardus menambahkan kondisi ekonomi global yang yang kian melemah tentunya akan berdampak pada perusahaan. Untuk mempertahankan kinerja perusahaan, EMP menggunakan kontrak jangka panjang dalam bisnisnya agar pendapatan bisa lebih stabil.

"Basisnya menggunakan ICP (Harga Minyak Mentah Indonesia) bisa berpengaruh karena dibayarnya pakai rupiah, kalau kurs melemah. Tapi dengan eskalasi setahun dua tahun, jadi lebih stabil pendapatannya," ungkapnya.

(Baca: Jalan Memutar Grup Bakrie Caplok 25% Saham Mitsubishi di Blok Kangean)

Reporter: Fariha Sulmaihati

Video Pilihan

Artikel Terkait