Fokus 3 Bisnis Baru, Bakrie Brothers Kucurkan Belanja Modal Rp 500 M
PT Bakrie & Brothers Tbk menganggarkan dana sebesar Rp 500 miliar untuk belanja modal dan investasi pada tiga inisiasi bisnis perusahaan pada tahun depan. perusahaan akan fokus mengembangkan tiga inisiasi bisnis pada 2022 berdasarkan hasil pengembangan dengan mitra strategis.
Presiden Direktur Bakrie & Brothers Anindya Bakrie mengatakan, ketiga inisiasi bisnis antara lain, bus listrik dengan merek dagang Vektor, panel surya Helio, dan rumah prefabrikasi Modula. Inisiasi ini merupakan hasil pengembangan dengan PT Quantum Akselerasi Indonesia atau Quantum Ventures. Kerja sama antara Bakrie dan Quantum Ventures berbentuk ekuitas dalam ketiga inisiasi bisnis tersebut.
"Dengan Quantum Ventures sebagai mitra dapat mengakselerasi pertumbuhan kami. Kami mencanangkan Rp 500 miliar untuk jadi capital expenditure (belanja modal) dan investasi terhadap bisnis-bisnis kami ke depannya," kata Anindya dalam public expose perseroan, Jumat (10/12).
Dengan kerja sama berbentuk ekuitas, ketiga bisnis baru perseroan akan mendapatkan pendanaan dari Quantum Ventures. Sementara itu, Bakri Brothers akan tetap menggenggam kepemilikan yang lebih besar di ketiga bisnis itu.
Ketiga bisnis anyar itu merupakan bentuk yang lebih fokus dari bisnis perseroan saat ini. Secara rinci, Vektor merupakan pengembangan dari PT Bakrie Autoparts, Helio adalah pengembangan dari PT Bakrie Power, sedangkan Modular berasal dari pengembangan PT Bakrie Building Industries.
Kerja sama antara Bakrie dan Quantum Ventures secepatnya berakhir pada 2023. Setelah itu, perseroan akan mengevaluasi apakah kerja sama berupa ekuitas masih diperlukan atau dapat berdiri sendiri.
"Baru pada 2023-2024 (kami lihat lagi) apakah round financing-nya sudah cukup ke capital market," kata Anindya.
Anindya mengatakan salah satu dasar penciptaan bisnis baru itu adalah agar perseroan dapat langsung mengikuti tren selanjutnya. Setelah digitalisasi, Anindya meyakini tren selanjutnya yang akan terjadi di sektor manufaktur adalah elektrifikasi dan energi baru terbarukan (EBT).
Selain itu, UN Climate Change Conference of the Parties ke-26 atau COP26 dinilai telah mengubah kebijakan pemerintah terkait target perubahan iklim. Perseroan berniat memanfaatkan momentum itu dengan menjadi produsen produk-produk yang dibutuhkan mencapai target pengurangan emisi sebanyak 29% pada 2030.
Bus Listrik
Anindya mengatakan, bus listrik besutan perseroan dengan merek dagang Vektor ini paling lambat akan mengaspal pada awal 2022. Menurut dia, pengembangan dan pendanaan Vektor merupakan hasil kerja sama dengan mitra strategis perseroan, yakni Quantum Ventures. Adapun, perseroan bekerja sama dengan produsen kendaraan listrik asal China, yakni BYD Motors Inc.
Bakrie dan BYD menyepakati 4 tahap pengembangan serta produksi bus listrik ke depan. Tahap pertama, melakukan impor bus dan unjuk produk. Tahap kedua, penetrasi pasar.
Tahap ketiga, melakukan komersialisasi awal dan manufaktur. Tahap keempat, komersialisasi penuh. “Kami menyebut inisiatif kami di bus listrik ini sebagai project VEKTOR," kata Anindya.
Anindya mengatakan tujuan akhir Vektor adalah menjadi original equipment manufacturer (OEM) bagi kendaraan berat berbasis listrik atau heavy mobility electic vehicle di dalam negeri pada 2030.
Panel Surya
Anindya memaparkan Helio telah memiliki pangsa pasar sebesar 5% atau 100 megawatt dalam pasar EBT surya di dalam negeri. Adapun, market size panel surya di dalam negeri kini mencapai US$ 2 miliar dengan peluang pasar hingga 2023 mencapai 650 megawatt.
Selain itu, peluang pasar panel surya atap hingga 2025 mencapai 320 megawatt senilai US$ 650 juta. Helio diproyeksikan dapat memiliki pangsa pasar sebesar 20,93% atau telah terpasang panel surya berkapasitas 67 megawatt pada saat itu.
Hingga akhir tahun, Helio telah mengerjakan proyek EBT berbasis tenaga surya sebanyak 6,4 megawatt panel (MWp). Adapun, proyek terbesar adalah proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hibrid di Sulawesi Selatan sebesar 1,3 MWp yang ditargetkan rampung bulan ini.
Rumah Prefabrikasi
Latar belakang pendirian bisnis ini adalah angka kebutuhan rumah atau backlog yang kini telah mencapai 11,4 juta unit. Sementara itu, harga rumah di kota besar cukup tinggi yang menjadi pendorong turunnya presentasi kepemilikan rumah sebesar 5% ke angka 80%.
Modula ditargetkan dapat membangun rumah sebanyak 16.000 unit dengan skema pendanaan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pada 2030. Selain itu, Modula ditargetkan dapat membangun 100 rumah premium.
Sebelumnya, perseroan telah membangun 851 unit rumah yang didominasi proyek perumahan di perkebunan sawit di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Saat ini, Modula sedang membangun 939 unit rumah yang didominasi proyek Grand Cikarang City 2 sebanyak 710 unit.
