BI Dinilai Lamban Antisipasi Pelemahan Rupiah, Didesak Jaga Independensi

Ringkasan
- Bank Indonesia (BI) dianggap lambat dalam merespons pelemahan rupiah yang mencapai 10% dalam enam bulan terakhir. Lambannya respons ini dinilai bertentangan dengan tugas BI dalam menjaga stabilitas rupiah.
- Rupiah diperkirakan dapat melemah hingga Rp 17.000 per dolar AS, hal ini disebabkan oleh faktor internal seperti penerimaan negara yang rendah dan kebijakan yang membutuhkan dana besar.
- Kepercayaan investor terhadap pemerintah rendah karena program yang dinilai tidak realistis. BI didesak untuk menjaga independensinya di tengah kondisi ini.

Bank Indonesia (BI) dinilai lamban mengantipasi pelemahan rupiah sehingga terus tertekan dan sempat menembus level 16.600 per dolar AS. Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai Bank Indonesia (BI) mengatakan antisipasi yang lambat tersebut membuat pelemahan rupiah menembus 10% dalam enam bulan terakhir.
“Saya rasa Bank Indonesia telat mengantisipasi pergerakan rupiah yang sangat naik secara masif beberapa bulan terakhir,” kata Huda kepada Katadata.co.id, Kamis (27/3).
Padahal, Huda mengatakan, salah satu tugas BI adalah menjaga stabilitas rupiah dengan kebijakan moneternya. Bank Indonesia juga didesak lebih tegas untuk menagih klaim Presiden Prabowo Subianto dan menterinya yang selalu menyatakan pondasi ekonomi Indonesia kuat.
"Namun itu hanya lip service belaka. Kenyataannya, ekonomi kita rapuh,” ujar Huda.
Pelemahan Rupiah Bisa Sentuh Rp 17.000 per Dolar AS
Huda menyatakan belum melihat kemungkinan rupiah akan melemah hingga ke angka Rp 20.000 per dolar AS. Secara ekonomi, kejadian tersebut hanya bisa disebabkan krisis eksternal seperti krisis Asia pada 1997-1998.
Jika melihat data saat ini, Huda menyebut ekonomi ASEAN ada yang cukup bagus seperti Vietnam namun juga ada yang melemah seperti Indonesia. “Artinya, problem masalah ekonomi Indonesia lebih banyak dari internal negara. Seperti contohnya penerimaan negara yang jeblok, kebijakan program negara yang perlu dana besar, hingga politik dalam negeri Indonesia,” kata Huda.
Jika terus melemah, Huda memproyeksikan kemungkinan rupiah akan menembus level Rp 17.000 per dolar AS. Namun, jika menyentuh level tersebut berarti menandakan ekonomi RI sudah sangat parah karena akan meningkatkan imported inflation.
“Barang-barang yang memerlukan bahan baku dari impor akan lebih tinggi, seperti tempe ataupun tahu. Daya beli masyarakat kita bisa semakin tertekan dan ekonomi kita semakin stagnan di angka 5%,” ucap Huda.
Perlu Jaga Independensi
Di sisi lain, Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin mengatakan ada berbagai penyebab yang menbuat rupiah melemah hingga level terendah sejak krisis 1998. Hal ini mengganggu kepercayaan kepada ekonomi Indonesia.
“Ada beberapa faktor fundamental, seperti situasi fiscal yang buruk, kebijakan pemerintah yang dinilai tidak realistis, komunikasi pemerintah yang buruk, serta turbulensi pasar modal yang tidak mendapat response yang memadai oleh OJK,” kata Wijayanto.
Pada dasarnya, Wijayanto mengatakan, pasar modal adalah jendela bagi dunia untuk melihat Indonesia. Pasar modal perlu dijaga agar tetap berjalan dengan baik, transparan, dan berintegritas.
Namun, Wijayanto menilai kondisi rupiah saat ini sangat berbeda dengan saat krisis 1998. Pada periode tersebut, sektor perbankan kita lemah, utang luar negeri swasta terlalu eksesif, terjadi oversupply property, dan ada efek domino dari negara tetangga yang mengalami krisis.
“Empat hal tersebut tidak ada saat ini,” ujar Wijayanto.
Untuk itu, Wijayanto menegaskan, BI perlu menjaga independensinya yang saat ini mulai dipertanyakan. Pelemahan rupiah ini lebih disebabkan oleh kepercayaan investor yang rendah terhadap program-program pemerintah yang tidak realistis.
“Pemerintah dipandang belum punya rencana dan agenda yang jelas dan meyakinkan tentang ke mana ekonomi kita akan dibawa,” ucap Wijayanto.