Survei KedaiKOPI: Pendapatan 60% Warga Jabodetabek Turun akibat PSBB

Segelintir orang menyebut pendapatannya naik setelah PSBB diterapkan di Jabodetabek.
Dimas Jarot Bayu
22 April 2020, 18:48
psbb, jabodetabek, survei kedaikopi
ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/hp.
Sejumlah pengemudi ojek daring antre untuk mendapatkan bantuan paket sembako di Pasar Mitra Tani, Cimanggu, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (14/4/2020). Mayoritas warga Jabodetabek merasa kondisi keuangannya memburuk setelah aturan PSBB diterapkan.

Sebanyak 60,7% warga di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) menyatakan pendapatannya memburuk setelah aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan untuk memutus rantai penularan virus corona.

Hal ini berdasarkan telesurvei yang dilakukan oleh lembaga Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) terhadap terhadap 405 responden di Jabodetabek pada 14-19 April 2020.

Sementara itu 38,8% responden menyatakan bahwa pendapatannya tak mengalami perubahan, dan 0,5% menyatakan pendapatannya menjadi lebih baik dari akibat PSBB.

"Ternyata mayoritas bilang keuangan mereka lebih buruk dari sebelumnya. Yang merasa lebih baik hanya 0,5%," kata Direktur Eksekutif KedaiKOPI Kunto Adi Wibowo melalui video conference, Rabu (22/4).

(Baca: Jasa Marga: Arus Kendaraan di Jalan Tol Turun hingga 35% saat PSBB)

Menurut Kunto, persepsi atas berkurangnya pendapatan warga saat PSBB hampir merata di seluruh wilayah Jabodetabek. Hanya di Jakarta Pusat dan Kota Bogor yang persentasenya jauh lebih rendah.

Di Jakarta Pusat, hanya 37,9% warga yang merasa pendapatannya bekurang ketika PSBB. Sebanyak 62,1% warga Jakarta Pusat menyatakan pendapatannya sama saja.

Sementara di Kota Bekasi, ada 43,8% warga yang merasa pendapatannya berkurang ketika PSBB. Sebanyak 56,3% warga Kota Bekasi mengaku pendapatannya sama saja. "Kalau dilihat hampir semuanya rata, kecuali yang kecil di Jakarta Pusat dan Kota Bekasi," kata Kunto.

Lebih lanjut, KedaiKOPI mencatat bahwa 94,8% warga Jabodetabek tak akan mudik karena alasan kondisi keuangannya memburuk. Hanya 2,2% warga Jabodetabek yang menyatakan akan mudik.

Sementara, ada 3% masyarakat yang masih ragu-ragu. "Menurut kami yang ragu-ragu masih bisa dibelokkan (untuk tidak mudik)," kata Kunto.

(Baca: Dampak Larangan Mudik, 1,5 Juta Supir & Awak Bus Terancam Dirumahkan)

Reporter: Dimas Jarot Bayu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait