ENI Disebut Calon Kuat Pengganti Chevron di Megaproyek IDD

SKK Migas menyatakan ENI calon kuat pengganti Chevron sebagai operator Proyek IDD tahap II karena telah memiliki fasilitas produksi di wilayah itu.
Image title
7 Agustus 2020, 15:44
proyek idd tahap ii, skk migas, eni, chevron
Arief Kamaludin | Katadata
SKK Migas menyebutkan ENI sebagai calon kuat pengganti Chevron pada proyek IDD Tahap II.

SKK Migas menyampaikan bahwa ENI mempunyai peluang yang cukup bagus untuk mengelola proyek migas laut dalam atau Indonesia Deepwater Development (IDD) tahap II, menggantikan Chevron. Pasalnya, perusahaan asal Italia tersebut mempunyai fasilitas pendukung produksi di wilayah itu.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan sejauh ini baru ENI yang cukup kuat menjadi calon operator proyek IDD. Adapun konsorsium proyek IDD terdiri dari kepemilikan saham Chevron sebesar 62%, sisanya dipegang oleh ENI sebesar 20% dan Sinopec 18%.

"Salah satunya ENI memiliki posisi yang bagus untuk bisa melanjutkan. Kan mereka punya fasilitas. Bisa diintegrasikan juga kan. Investasi bisa ditekan juga kan. Keekonomian bisa lebih baik," ujar dia saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jumat (7/8).

Lebih lanjut, dia juga menargetkan proses peralihan proyek IDD dapat segera rampung tahun ini. Sehingga proyek yang dinanti-nanti tersebut dapat segera beroperasi.

Selain itu, menurut dia proses perpanjangan untuk proyek IDD juga sangat penting sebelum proses peralihan berjalan. Hal ini mengingat kontrak Chevron di proyek IDD akan segera berakhir pada 2022-2028. "Pemerintah akan dukung perpanjangan itu kalau serius kontraktor yang akan laksanakan," ujar dia.

Sebelumnya, Manager Corporate Communication Chevron Pacific Indonesia Sonitha Poernomo mengatakan saat ini tengah mencari pengganti operator di proyek IDD tahap II. Salah satunya yakni dengan membuka data room guna mengidentifikasi mitra potensial.

Menurutnya Chevron selaku operator telah membuka ruang data untuk memfasilitasi diskusi mengenai identifikasi mitra yang akan menggarap proyek IDD di tahun ini.

Meski begitu dirinya tak membeberkan secara rinci mengenai progress pencarian mitra itu. "Pada saat ini, tidak ada keputusan akhir mengenai diskusi tersebut," ujarnya.

Turunnya harga minyak dunia dan pandemi Covid-19 memukul kinerja lifting hulu migas. Ini sudah terlihat dari produksi siap jual atau lifting migas semester I-2020 yang tak memenuhi target.

Lifting migas pada semester I-2020 sebesar 1.714 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD). Jumlah tersebut terdiri atas lifting minyak yang sebesar 713,3 ribu barel minyak per hari (BOPD).

Lifting minyak tersebut memenuhi 94,5% target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mencapai 755 ribu BOPD. Sementara itu, lifting (salur) gas juga hanya 5.605 MMSCFD. Hasil itu setara dengan 84% target APBN original yang sebesar 6.670 MMSCFD.

Reporter: Verda Nano Setiawan

Video Pilihan

Artikel Terkait