Investor Antisipasi Resesi Ekonomi Indonesia, IHSG Diramal Turun

Rilis data pertumbuhan ekonomi hari ini diperkirakan terkontraksi dan berpotensi lebih buruk dari ekspektasi akan membebani laju IHSG.
Image title
Oleh Muchammad Egi Fadliansyah
5 Agustus 2020, 07:59
ihsg hari ini, prediksi ihsg, pertumbuhan ekonomi
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/hp.
Pekerja mengambil gambar pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan ponselnya di Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

Indeks harga saham gabungan atau IHSG diprediksi turun pada perdagangan Rabu (5/8). Penurunan ini salah satunya didorong oleh rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Analis Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christoper Jordan mengatakan, IHSG diperkirakan turun karena pelaku pasar akan terpengaruh oleh rilis data pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan terkontraksi dan berpotensi lebih buruk dibandingkan ekspektasi.

Selain itu, pelemahan akan dipengaruhi semakin mengkhawatirkannya kasus covid-19 di dalam negeri yang menyebabkan perekonomian tidak akan bisa pulih dalam waktu singkat. “Kedua faktor ini akan memperberat laju indeks pada sesi perdagangan hari in,” katanya.

Dengan berbagai sentimen tadi, Dennies memprediksi IHSG memiliki level support pertama pada 4.883, sedangkan support kedua pada 5.029. Sementara untuk resistance, dia memprediksi IHSG akan menguji resistance pertama di level 5,098 dan resistance kedua di level 5,121.

Untuk diketahui, support merupakan level yang diperkirakan akan menahan koreksi indeks atau harga saham, sedangkan resistance merupakan level di mana suplai saham cukup besar untuk menghentikan kenaikan indeks atau harga.

Dia pun merekomendasikan sejumlah saham untuk dicermati investor pada perdagangan hari ini seperti, Surya Citra Media Tbk (SCMA), Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), dan Merdeka Copper Gold Tbk MDKA).

Prediksi penurunan IHSG pada hari ini, juga disampaikan oleh analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta Utama. Berdasarkan analisis teknikalnya, indeks akan bergerak di area support dan resistance di level 5.097-5.172. "Mengindikasikan adanya potensi koreksi wajar lanjutan pada pergerakan IHSG hari ini," kata Nafan dalam risetnya.

Adapun beberapa saham yang dia rekomendasikan untuk dicermati investor hari ini antara lain saham Adaro EnergyTbk (ADRO), Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), Agung Podomoro Land Tbk (APLN), Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), dan Bank Jatim Tbk (BJTM).

Sementara, Analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi mengatakan bahwa IHSG hari ini berpotensi bergerak menguat. Berdasarkan analisisnya, area support dan resistance indeks hari ini berada di level 5.030 hingga 5.157.

Secara teknikal, IHSG bergerak terkonsolidasi pada area jenuh beli, meskipun peluang penguatan masih cenderung terlihat secara momentum. "IHSG akan kembali uji area support psikologis sebagai konfirmasi penguatan lanjutan, bila mampu bertahan di atas level tersebut," kata Lanjar.

Beberapa saham yang masih dapat dicermati oleh investor hari ini, berdasarkan analisisnya secara teknikal, misalnya saham Bukit Asam Tbk (PTBA), Adaro Energy Tbk (ADRO), Astra Internasional Tbk (ASII), Jasa Marga Tbk (JSMR), dan Charoen Pokphand Indonesia Tbk (WIKA).

Adapun pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 diramal minus 4% hingga minus 6%. Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Mohammad Faisal mengatakan proyeksi tersebut lantaran masih adanya peningkatan kasus positif virus corona atau Covid-19, serta masih diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

"Pemberlakuan PSBB dan lockdown memang meyebabkan transaksi ekonomi turun drastis. Namun jika kebijakan itu bisa dilaksanakan dengan konsisten dan tepat, kontraksi ekonomi bisa cepat pulih dalam jangka pendek seperti yang terjadi di Tiongkok," ujarnya.

Sementara itu hingga Selasa (4/8) total kasus positif corona atau Covid-19 di Indonesia mencapai 115.056 orang. Adapun jumlah tersebut bertambah 1.922 kasus dibandingkan sehari sebelumnya.

Dengan tambahan tersebut rasio positif Covid-19 Indonesia menjadi 12,6% jauh di atas ambang batas maksimal yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 5%.

Reporter: Muchammad Egi Fadliansyah

Video Pilihan

Artikel Terkait