Morgan Stanley Tutup Bisnis Broker di Indonesia, Ini Tanggapan BEI

Sebelum Morgan Stanley, sebanyak tiga sekuritas milik asing juga hengkang dari bursa Indonesia, yakni Merrill Lynch, Deutsche, dan Nomura.
Image title
Oleh Lavinda
28 Mei 2021, 19:18
PT Morgan Stanley Sekuritas Indonesia memutuskan untuk menghentikan kegiatan perantara pedagang efek di Indonesia.
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (5/8/2020).

PT Morgan Stanley Sekuritas Indonesia memutuskan untuk menghentikan kegiatan perantara pedagang efek di Indonesia.

Sebelumnya, sebanyak tiga sekuritas milik asing juga hengkang dari bursa Indonesia, yakni PT Merrill Lynch Sekuritas Indonesia , PT Deutsche Sekuritas Indonesia, dan PT Nomura Sekuritas Indonesia.

Dalam keterangan tertulisnya, manajemen Morgan Stanley Indonesia menyampaikan pihaknya akan tetap memberikan akses ke pasar ekuitas Indonesia kepada klien-klien global. Akses tersebut akan diberikan melalui kerjasama dengan mitra-mitra broker lokal.

"PT Morgan Stanley Sekuritas Indonesia akan tetap melayani klien-klien bank investasi kami di Indonesia. Riset Morgan Stanley juga akan disediakan dari Singapura," ujar manajemen Morgan Stanley dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (28/5).

Advertisement

Menanggapi hal itu, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Bursa Efek Indonesia (BEI) Laksono W. Widodo mengatakan, penutupan Morgan Stanley Indonesia tak akan berdampak besar terhadap transaksi perdagangan saham di Indonesia.

"Dampaknya seharusnya kecil terhadap transaksi, karena order flow akan dijalankan dan disalurkan oleh anggota bursa lain yang memiliki kerja sama dengan Morgan Stanley," ujar Laksono melalui pesan singkat, Jumat (28/5).

Laksono mengaku tidak mengetahui alasan Morgan Stanley menutup bisnisnya di Indonesia. Kendati demikian, dia memiliki pandangan bahwa penghentian bisnis itu terkait dengan pembobotan nilai bursa-bursa di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, di Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang semakin rendah.

"Mungkin dengan weightings (pembobotan) Asean, termasuk Indonesia yang semakin turun di MSCI karena terdesak China yang masih dianggap emerging countries (negara berkembang) dan adanya IPO raksasa seperti Saudi Aramco," kata Laksono.

Hal itu menyebabkan transaksi dari investor global juga menurun, dan dianggap tidak memenuhi skala ekonomi bagi beberapa anggota bursa asing.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait