Harga Saham Adaro Melesat di Tengah Anjloknya Saham Emiten Batu Bara

Kabar Adaro bakal menjual aset dan surat utang disebut memberikan sentimen positif terhadap harga sahamnya.
Image title
Oleh Fariha Sulmaihati
15 Desember 2019, 08:00
Adaro, ADRO, Batu Bara
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi Tambang Batu Bara

Harga saham Adaro Energy (ADRO) melesat di tengah penurunan harga saham emiten batu bara lainnya. Harga saham perusahaan pimpinan Garibaldi Thohir tersebut naik lebih dari 30% sepanjang tahun ini, di saat beberapa emiten batu bara lainnya justru mencatatkan penurunan harga saham antara 34-45%.

Berdasarkan catatan katadata.co.id, harga saham Adaro naik 30,86% sejak awal tahun hingga Jumat, 13 Desember 2019. Ini berbanding terbalik dengan harga saham Bukit Asam (PTBA) yang terkoreksi 40%, ABM Investama (ABMM) 34,36%, Indo Tambangraya Megah (ITMG) 45,43%, dan Bumi Resources (BUMI) 34,95%.

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, penurunan harga saham sederet emiten batu bara terjadi seiring pelemahan harga batu bara. Harga batu bara melemah akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia yang membuat permintaan batu bara turun.

(Baca: 7 Kontrak akan Segera Habis, DPR Kebut Revisi UU Minerba)

Namun, ia menyebut, terdapat dua kabar yang membuat sentimen positif terhadap kinerja bisnis dan saham Adaro. Pertama, kabar perusahaan akan menjual beberapa asetnya, salah satunya aset tambang di daerah Sumatera. Tambang Adaro di wilayah tersebut memiliki Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP).

Kedua, peluang Adaro menerbitkan surat utang. Kedua hal ini akan membantu perusahaan mendapatkan dana segar. "Ketika dana yang masuk nanti digunakan untuk hal yang positif, dalam arti rencana kerja, tentu hal ini akan mendorong kinerja dari Adaro semakin positif," ujar Nico kepada Katadata.co.id, Kamis (12/12).

(Baca: Jokowi Curhat Ditegur PBB dan IMF Karena Banyak Manfaatkan Batu Bara)

Meskipun sentimen negatif menekan kinerja mayoritas saham emiten batu bara, namun Nico melihat bisnis emiten di sektor ini masih cukup prospektif. Penyokongnya, permintaan dari negara-negara di Asia Tenggara.

Menurut dia, negara-negara di kawasan ini masih berfokus membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), sehingga memberikan prospek positif bagi bisnis batu bara dalam jangka panjang.

Video Pilihan

Artikel Terkait