Perang Mata Uang Memukul Bursa Saham AS, Emas dan Yen Jadi Buruan

Di tengah risiko perang mata uang, emas dan yen Jepang naik sebagai opsi investor mencari safe haven.
Martha Ruth Thertina
Oleh Martha Ruth Thertina
6 Agustus 2019, 07:43
bursa saham, saham, perang dagang, perang mata uang, currency war
123RF.com/Dilok Klaisataporn
Amerika Serikat (AS) menuding Tiongkok sebagai currency manipulator alias sengaja melemahkan nilai tukar yuan untuk meningkatkan daya saing produk ekspornya.

Bursa saham global bergejolak seiring maraknya aksi jual di tengah kecemasan akan perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, serta perang mata uang. Indeks di bursa saham AS mengalami koreksi terbesar sepanjang tahun ini pada perdagangan yang ditutup pagi tadi. Sebelumnya, indeks di bursa saham Eropa dan Asia berguguran.  

Indeks di bursa saham AS ditutup di zona merah. Mengutip Bloomberg, Dow Jones anjlok 2,9%, dengan saham Apple dan IBM jatuh setidaknya 4%. S&P 500 turun 2,98%, dengan hampir seluruh saham emiten diperdagangkan turun. Nasdaq Cmposite 3,47%, NYSE Composite 2,67%, S&P/TSX Composite 0,64%.

Risiko penurunan lebih lanjut masih membayangi dengan S&P future terkoreksi 1,27%, dan Dow Jones Future terkoreksi 1,45%. Seiring pergerakan tersebut, US Treasury tenor 10 tahun turun ke level terendah dari sebelum Pemilu AS yang memenangkan Donald Trump, 2016 lalu.

(Baca: Morgan Stanley Turunkan Rekomendasi Berinvestasi di Pasar Modal Global)

Sebelumnya, bursa saham Eropa juga tercatat mengalami tekanan, dengan Euro Stoxx50 Pr turun 1,93%, FTSE 100 2,47%, dan DAX 1,8%. Begitu juga dengan indeks di bursa saham Asia. Penurunan dipimpin Hang Seng 2,85%. Indeks harga saham negara berkembang jatuh ke zona merah, tercermin dari MSCI Asia Pacific yang terkoreksi 2,31%.

Tekanan di bursa saham global membesar setelah mata uang yuan turun ke bawah 7 per dolar, terendah dalam lebih dari satu dekade. Presiden Donald Trump menuding Tiongkok melakukan manipulasi nilai tukar mata uang, sebagai balasan atas pengenaan tarif 10% oleh AS untuk barang impor dari Tiongkok bernilai US$ 300 miliar.

Meskipun, Gubernur People’s Bank of China Yi Gang menyatakan tidak akan menggunakan nilai tukar mata uang sebagai alat di tengah memanasnya konflik dagang dengan AS.

(Baca: Yuan Jatuh Terendah Sejak Krisis 2008, Bursa Saham Asia Rontok)

Bagaimanapun, pelaku pasar tetap mengantisipasi risiko perang mata uang. Para pelaku pasar bertaruh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) akan merespons dengan memangkas 100 basis point hingga Desember 2020, lebih tinggi dari yang diantisipasi sebelumnya.

Perang dagang kini menguat dan mungkin saja perang mata uang akan dimulai. Kedua-duanya tidak bagus untuk ekonomi global, dan keduanya akan menyakiti pasar modal,” kata Chief Investment Officer for Independent Advisor Alliance Chris Zaccarelli seperti dikutip Bloomberg, Selasa (6/8).

Seiring perkembangan ini, nilai tukar dolar AS melemah terhadap mata uang utama dunia. Saat berita ini ditulis, indeks DXY turun 0,31% ke posisi 97,22. Sedangkan yen Jepang meguat 0,25% dan harga emas di pasar spot naik 0,66% ke posisi 1.473 per ounce di tengah pencarian akan aset yang aman.

Video Pilihan

Artikel Terkait