Imbal Hasil Bakal Naik, Obligasi Global Disarankan Terbit Lebih Cepat

Surat utang AS sempat naik jadi 2,9% atau level tertingginya dalam empat tahun pada Senin (12/2). Imbal hasil surat utang negara lain berpotensi terkerek.
Image title
12 Februari 2018, 20:25
Dolar
Arief Kamaludin|KATADATA

Imbal hasil (yield) surat utang Amerika Serikat (AS) bertenor 10 tahun terus menanjak. Alhasil, yield surat utang negara lainnya berpotensi ikut terkerek dan membuat biaya utang lebih mahal. Beberapa ekonom pun menyarankan pemerintah untuk mempercepat penerbitan surat berharga negara (SBN) dalam mata uang asing (global bond). 

Yield surat utang AS sempat naik ke level 2,9% atau level tertingginya dalam empat tahun pada Senin (12/2). Jika dilihat sejak awal Januari maka ada kenaikan sebesar 0,5%. Adapun pemerintah Indonesia merencanakan penerbitan SBN dengan porsi yang lebih besar di paruh pertama tahun ini (front loading) yaitu sebesar 60% dari target.

“Kalau front loading untuk yang dolar, boleh tuh di luar negeri. Kalau yang rupiah jangan, karena di dalam negeri juga butuh likuiditas," kata Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih kepada Katadata, Senin (12/2). (Baca juga: Cegah Dana Asing Keluar, Ekonom Usulkan Holding Period Obligasi Negara)

Ia menjelaskan, jika pemerintah melakukan percepatan lebih jauh penerbitan SBN rupiah, maka akan berbenturan dengan korporasi yang juga mau menerbitkan surat utang rupiah. Jika itu terjadi, maka bisa membuat likuiditas domestik mengetat.

Advertisement

Pendapat senada disampaikan Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual. Namun, ia menekankan penerbitan SBN harus mempertimbangkan kesiapan untuk membelanjakannya. “Problem menahun tuh ketika ambil pinjaman, malah jadi dana idle (menganggur), padahal suku bunga berjalan tetap. Jadi ya harus dipertimbangkan juga efektivitas dari penyerapan anggaran,” ucapnya.

Adapun hingga 6 Februari 2018, realisasi penerbitan SBN telah mencapai Rp 154,4 triliun atau 18,24% dari target penerbitan SBN bruto yang sebesar Rp 846,4 triliun tahun ini. Sebanyak Rp 54,2 triliun di antaranya merupakan obligasi global yang diterbitkan akhir tahun lalu untuk pembiayaan tahun ini (prefunding). 

Pemerintah merencanakan penerbitan obligasi global sebesar 20% dari target penerbitan SBN bruto. Ini artinya sekitar Rp 169 triliunan. 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait