Gubernur BI: Ekonomi Dunia Lebih Bergejolak Setelah Krisis 2008

"Penelitian yang lebih awal memungkinkan kami menemukan jawaban untuk mengatasi teka-teki di persoalan ekonomi," kata Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
24 Agustus 2017, 16:47
agus marto
Arief Kamaludin|KATADATA

Bank Indonesia (BI) melihat ekonomi dunia semakin tidak pasti pasca terjadinya krisis finansial 2008. Akibatnya, prospek pertumbuhan ekonomi domestik pun moderat. Tahun ini, BI memprediksi ekonomi berada di rentang 5,1-5,2%, sedangkan tahun depan kemungkinan naik tipis menjadi 5,3%. 

"Ekonomi dunia menjadi lebih bergejolak, tidak pasti, kompleks, dan (penuh) ambiguitas yang dikenal dengan VUCA (volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity)," kata Gubernur BI Agus Martowardojo dalam Konferensi Pers bertema 'Synergy on the VUCA World, Maintaining the Resilience Momentum of Economic Growth' di Gedung BI, Jakarta, Kamis (24/8). (Baca juga: Ekonomi Dunia Membaik, Jokowi Bidik Pertumbuhan Ekonomi 5,4% di 2018)

Ia menjelaskan, ketidakpastian yang dimaksud antara lain ketegangan dan pergeseran geopolitik, perubahan iklim, inovasi yang mengganggu, dan meningkatnya proteksionisme. Alhasil, para pembuat kebijakan di seluruh dunia menghadapi banyak tantangan dalam mencapai tujuan ekonomi dan menjaga stabilitas keuangan.

Adapun Indonesia tak terisolasi dari dampak VUCA sebab ekonomi Indonesia terbuka. “Moderasi dalam pertumbuhan ekonomi global, rendahnya harga komoditas, dan pelemahan di pasar keuangan global telah mempengaruhi ekonomi masyarakat Indonesia sampai batas tertentu," ucap Agus.

Meski demikian, ia memastikan bahwa otoritas keuangan Indonesia sudah menjaga stabilitas makroekonomi dan keuangan. Hal itu tercermin dari ekonomi yang masih bisa tumbuh 5,01% pada Semester I 2017. "Ini mengindikasikan berlanjutnya proses pemulihan meski lebih lambat dari yang diharapkan," ujarnya.

Ia pun menjabarkan sejumlah indikator perekonomian yang tercatat membaik, di antaranya Neraca Pembayaran yang mencatatkan surplus dalam lima kuartal terakhir. Hal itu seiring juga dengan defisit transaksi berjalan (Current Account Defisit/CAD) yang sudah turun di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"Cadangan devisa per Juli 2017 juga mencapai rekor baru sebesar US$ 127,76 miliar sejak Agustus 2011. Kecukupannya (untuk membiayai impor dan utang luar negeri jatuh tempo) juga meningkat sejak kuartal IV 2013," kata dia. (Baca juga: Utang untuk Tutup Defisit, Cadangan Devisa Cetak Rekor US$ 127 Miliar)

Menurut Agus, kunci untuk menghadapi VUCA adalah kajian yang komprehensif. Dengan begitu, pengambil kebijakan bisa merumuskan bauran kebijakan yang tepat dan cepat. "Penelitian yang lebih awal memungkinkan kami menemukan jawaban untuk mengatasi teka-teki di persoalan ekonomi," ucapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait