Wawancara

Gojek Akan Terbuka untuk Semua Bank

Dengan keterlibatan dalam bisnis, membuat kemampuan mengukur risiko dan kesempatan menjadi lebih tajam.

Tim Redaksi

Patrick
Ilustrator: Betaria Sarulina

Sepak terjang perusahaan pengelola dana (private equity firm) Northstar Group, terutama di bisnis digital mendapat perhatian publik. Lewat NSI Ventures, anak usaha di Singapura, Northstar Group menyuntikkan dana keperusahaan aplikasi online Go-Jek Indonesia pada 2014 sekitar US$ 90 juta dan setahun kemudian menambah investasinya.

Sejak Northstar Group didirikan Patrick Walujo dan Glenn Sugita pada 2003, perusahaan telah menanamkan modal lebih dari US$ 2,8 miliar di sekitar 30 perusahaan dari beragam sektor bisnis di Asia Tenggara.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Selain Go-Jek, Northstar menanamkan modal di perusahaan Indonesia, di antaranya PT Bank BTPN Tbk (BTPN), PT BFI Finance Indonesia Tbk. (BFIN), PT Delta Dunia Makmur Tbk. (DOID), PT Multistrada Arah Sarana Tbk. (MASA) dan juga PT Prima Garda Andalan, pemilik outlet roti bermerk BreadLife.

“Kami masih fokus di bisnis tradisional. Tapi kami tekankan semua bisnis tradisional harus ada strategi digital,” kata Patrick dalam wawancara khusus dengan Katadata.co.id, beberapa waktu lalu.

Selain Go-Jek, bisnis digital apa saja yang akan dikembangkan Northstar?

Go-Jek kan sudah menjadi platform, kami terus mengembangkan sektor-sektor mana yang dapat memberikan keuntungan. Perkembangan saat ini, kami berinvestasi di HaloDoc (aplikasi yang menyederhanakan akses ke kesehatan), Halodoc ini berkolaborasi dengan Go-Med (layanan Go-Jek di bidang medis). Lalu ada beberapa investasi lain yang berkaitan dengan platformnya Go-Jek.

Selain itu kami melihat sektor yang memiliki growth tinggi seperti artificial intelligence (AI) dan financial technology (fintech). Jadi, binis Northstar (yang akan dikembangkan), pertama, yang berhubungan dengan platform Go-Jek. Kedua, fintech. Ketiga, health care education dalam bentuk digital.

Kapan sebenarnya Northstar mulai masuk ke bisnis digital dan startup, apakah investasi di Go-Jek yang pertama?

Kami melihat perubahan dari bisnis tradisional yang begitu cepat. Saat itu kami lihat dari investasi kami di Tiongkok, juga di perusahaan  pembiayaan Kartuku. Walaupun bukan fully digital company, kami amati perkembangannya ke arah sana dan kami mengamati juga di Amerika Serikat, ada beberapa hal yang trennya cukup jelas.

Kebetulan kami tertarik berinvestasi dengan Nadiem (Nadiem Makarim, CEO Go-Jek) untuk membangun Go-Jek, sekitar tiga tahun lalu. Evolusinya dimulai dari sana, setelah itu beberapa investasi lain.

Perkembangan digital begitu cepat. Kadang kami masuk early agar lebih nyaman. Kebijakan kami tak masuk ke bisnis yang kecil-kecil, jadi kami buat venture capital arms di Singapura dengan nama NSI Ventures dengan  joint venture terhadap beberapa anak muda yang berbasis di Singapura.

Mereka melihat kesempatan bisnis di seluruh Asia Tenggara, seperti Oway yang mirip Go-Jek dari Myanmar, juga perusahaan pendidikan online di Vietnam. Strategi kami alokasi sedikit uang untuk startup. Kami lihatnya founder sih. 

Dasar Northstar dalam memilih perusahaan atau startup untuk investasi?

Business proposition sama ownership, dua hal itu yang utama.

Perhitungan yang digunakan untuk masuk ke bisnis startup seperti apa?

Kadang kami lihat komparasi perusahaan seperti ini dengan yang di luar negeri. Lalu semua perusahaan pada kenyataannya sudah punya market price. Kalau series A segini, nanti kalau sudah lebih mature ya beda-beda arahnya. Kalau sudah diindustri ini kira-kira sudah mengetahui benchmark antara series A, series B dan lainnya.

Yang membuat Anda dikenal sebagai pebisnis di industri digital?

Saya investasi Go-Jek pertama kali lewat jalur pribadi, tidak langsung menggunakan Northstar. Setelah itu NSI juga masuk. Northstar kemudian masuk saat bisnisnya sudah besar dengan investasinya cukup signifikan.

Cara seperti itu untuk mengurangi risiko Northstar sebagai perusahaan private equity. Jadi risiko startup saya yang ambil, bila perkembangannya cukup baik, (baru) Northstar bisa terlibat. GGV Capital juga melakukan yang sama di AS dengan investasi di Google dan AirBnB.

Kita mesti terlibat, seperti yang berlaku di bisnis tradisional. Bila mindset sudah tak mau belajar dan tak mau tahu apa yang terjadi, akan menjadi defensive, yang akhirnya risiko tinggi semua kena imbasnya. Kita bisa ketinggalan, bukan ketinggalan mendapatkan kesempatan untuk menghasilkan uang. Namun dengan keterlibatan, membuat kemampuan mengukur risiko dan kesempatan menjadi lebih tajam.

Awalnya Go-Jek merupakan penyedia jasa transportasi, sekarang mulai ditinggalkan dan mengarah ke bisnis payment. Transformasi bisnis di Go-Jek itu  apakah sejak awal telah ditentukan?

Saat proses pembuatan aplikasi, Nadiem cerita sebetulnya banyak yang menggunakan Go-Jek, tapi bisnisnya kecil sekali. Sehari hanya 20 orang yang menggunakan aplikasi Go-Jek. Namun yang menarik, banyak orang menggunakan jasa untuk antar barang, kunci rumah yang tertinggal, handphone dan lainnya.

Kami di Northstar banyak pengalaman di (bisnis pembiayaan) sepeda motor dan microfinance dengaan BTPN dan Adira Finance, jadi kami mengapresiasi kendaraan motor. Sejak peluncuran arah kami ada tiga Go-Food, Go-Send, Go-Ride.

Gojek
Gojek (Katadata)

 

Apakah Go-jek ke depan nanti akan diarahkan ke pembayaran lewat Go-Pay?

Pembayaran itu salah satu pilar. Kami lihat di mana-mana, alat pembayaran untuk microfinance mesti ada dan solusinya  teknologi. Kami lihat kesempatan itu dan serius bisnis dari keamanan, sistem, regulation. Di sana kan ada uang orang, jadi kami mesti hati-hati dan fokus. Go-Pay memang jadi salah satu fokus Go-Jek.

Ada yang bilang kan sekarang tiga yang besar fintech, e-commerce, dan big data. Kelihatannya e-commerce akan konsolidasi, lebih ke fintech, khususnya di payment bukan peer to peer lending, bagaimana kacamata Anda melihat tren ke depan?

Payment system itu infrastruktur dari semua kegiatan e-commerce. Kegiatan offline di Tiongkok bahkan memakai handphone (untuk pembayaran). Banyak perusahaan teknologi di Tiongkok, perusahaan payment company yang besar Alipay dan WeChat Pay.

Jadi kami lihat yang platform-nya paling aktif dan yang banyak dipakai pengguna. Ali kan ada di sini, yang memiliki Tokopedia, Bukalapak, Lazada, juga 21.  Menurut saya ada peluang di payment tapi hanya untuk yang bisa generated local transaction. Kalau fintech, dari segi lending dan lain-lain tak perlu volume yang besar untuk memperoleh untung. Nature-nya berbeda.

Ada yang bilang ke depan Go-Jek berencana membuat semacam bank?

Arah kami bukan bank, strategi berbeda dengan Alipay di Tiongkok. Kami di Indonesia menjadi mitranya bank, terbuka untuk semua bank, bisa dilihat top up Go-Pay untuk bisa semua bank.

Kerja sama KUR dengan beberapa bank progresnya?

Masih dalam proses awal, intinya apa yang bisa untungkan semua konsumen akan kami kerjakan.

Tren bisnis digital di Indonesia ke depan seperti apa?

Di Indonesia itu bisnis digital bukan teknologi. Walau semua ada aspek teknologinya. Teknologi digital beragam seperti e-commerce, AI, Robotic, Biotech, ada beberapa items. Pengembangan Biotech tak akan berkembang di Indonesia karena sistem pendidikan Indonesia tak mungkin bisa hidup pada saat ini. Robotic di Indonesia susah untuk itu.

Yang bisa itu yang consumer facing dan itu yang terjadi Tiongkok jauh lebih maju dibanding AS. Meski Tiongkok juga mengembangkan AI dan biotech.

Menurut saya yang berkembang di Indonesia  pada consumer facing, bagaimana you need to understand your consumer need. Yang paham kebutuhannya orang Indonesia tentu orang Indonesia. Memudahkan teknologi dan digital untuk service konsumen Indonesia, saya kira angle-nya untuk Indonesia itu. Bukannya hardcore teknologi.