Waspada Hoax dan Mitos tentang Vaksin COVID-19

Di media sosial banyak tersebar informasi hoax tentang Vaksin Covid-19
Image title
Oleh Tim Publikasi Katadata - Tim Publikasi Katadata
16 Desember 2020, 11:32
dr. Dirga Sakti Rambe, M.Sc., Sp.PD, Vaksinolog dan Spesialis Penyakit bersama Cherryl Hatumesen, Penyintas COVID-19, dalam dialog produktif bertema Vaksin: Fakta dan Hoaks di Jakarta, Selasa, 15 Desember 2020. Tema ini diangkat karena hingga saat ini mas
Katadata
dr. Dirga Sakti Rambe, M.Sc., Sp.PD, Vaksinolog dan Spesialis Penyakit bersama Cherryl Hatumesen, Penyintas COVID-19, dalam dialog produktif bertema Vaksin: Fakta dan Hoaks di Jakarta, Selasa, 15 Desember 2020. Tema ini diangkat karena hingga saat ini masih ada sebagian kecil masyarakat yang ragu akan keamanan Vaksin, tidak memiliki informasi yang tepat mengenai vaksin dan masih percaya mitos soal vaksin maupun vaksinasi. DOK KPCPEN

JAKARTA -  Di media sosial banyak tersebar informasi yang salah tentang vaksin. Salah satunya, mitos bahwa vaksin menyebabkan autisme dan kanker. Informasi tersebut salah dan menimbulkan kebingungan di masyarakat. Faktanya, vaksin akan memicu tubuh memproduksi antibodi. Selanjutnya antibodi akan memberi kekebalan kepada tubuh.

Dalam Dialog Produktif ‘Vaksin: Fakta dan Hoaks’ yang diselenggarakan di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Selasa, (15/12/2020), dr. Dirga Sakti Rambe menjelaskan bahwa mitos vaksin menyebabkan autisme itu salah. Dia menjelaskan pada 1998, ada seorang dokter bedah dari Inggris melakukan penelitian tentang vaksin MMR yang belakangan diketahui ternyata risetnya palsu. “Bahwa vaksin MMR berhubungan dengan autisme, tapi setelah dilakukan penelitian lebih luas ternyata informasi tersebut tidak benar dan terbukti dokter tersebut memalsukan data,” katanya.

Adapun mitos vaksin menyebabkan kanker juga tidak benar, kata dia. Vaksin justru dapat melindungi dari kanker, antara lain vaksin Hepatitis yang terbukti melindungi dari kanker hati dan vaksin HPV terbukti melindungi dari kanker leher rahim atau serviks.

Vaksin memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh upaya pencegahan lain, yaitu memberi proteksi yang sifatnya spesifik melalui antibodi. “Kalau kita divaksinasi, antibodi akan diproduksi, antibodi inilah yang memberikan kekebalan. Inilah kunci dari vaksinasi yaitu proteksinya bersifat spesifik,” ujar dr. Dirga.

Dirga menilai proses vaksinasi sebagai ikhtiar pemerintah dalam menangani pandemi karena virus corona tidak bisa hilang dengan sendirinya. “Tidak benar, jika virus COVID-19 akan hilang dengan sendirinya. Ada jutaan kematian di seluruh dunia, termasuk di Indonesia,” kata dia.

Pemerintah dan masyarakat tidak bisa berdiam diri karena perekonomian akan terpukul dan bekerja pun menjadi sulit. “Oleh karena itu perlu ada upaya-upaya ekstra, yaitu protokol kesehatan harus dijalankan secara konsisten. Selain itu dengan adanya vaksinasi nanti diharapkan akan membantu,” ujarnya.

Mengenai harga vaksin, dr. Dirga menjelaskan pencegahan melalui vaksinasi jauh lebih murah bila dibandingkan dengan biaya pengobatannya. “Selain kita bicara waktu perawatan, ketika sakit kita tidak bisa kerja dan produktif. Padahal ini sesuatu yang bisa kita upayakan untuk dicegah sejak awal,” katanya.

Seandainya nanti proses vaksinasi Covid-19 sudah dilakukan, dia mengatakan, masyarakat tetap harus disiplin menjalankan protokol kesehatan. Upaya pencegahan melalui 3M (pakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak) harus terus dikerjakan karena setiap upaya pencegahan tidak ada yang sempurna. “Kita harus lakukan semuanya, agar kita terhindar dari COVID-19.”

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait