Sejarah dan Syarat Menjadi Anggota G20

G20 dikenal sebagai forum utama kerja sama ekonomi internasional yang terdiri dari 19 negara dan satu lembaga Uni Eropa. Berikut sejarah dan syarat menjadi anggota G20.
Image title
24 Desember 2021, 12:51
Sejarah dan syarat menjadi anggota G20.
G20.org
Sejarah dan syarat menjadi anggota G20.

Syarat menjadi anggota G20 tidak bisa diperoleh dengan sembarang. G20 memiliki posisi strategis karena secara kolektif merupakan representasi dari 85% perekonomian dunia, 80% investasi global, 75% perdagangan internasional, dan 60% populasi dunia.

Namun sebelum membahas lebih lanjut terkait syarat menjadi anggota G20, ada baiknya untuk mengetahui apa itu G20 dan bagaimana sejarahnya?

Apa itu G20?

Mengutip Kementerian Keuangan Republik Indonesia, G20 atau Group of Twenty adalah sebuah forum utama kerja sama ekonomi internasional yang beranggotakan negara-negara dengan perkenomian besar di dunia yang terdiri dari 19 negara dan satu lembaga Uni Eropa.

Hingga saat ini anggota G20 terdiri dari Australia, Argentina, Brasil, RRT, Uni Eropa, jerman, India, Indonesia, Italia, Meksiko, Arab saudi, Rusia, Korea Selatan, Turki, dan Inggris.

Advertisement

Sejarah Terbentuknya G20

G20 lahir dari rasa kekecewaan komunitas internasional terhadap negara G7 (Inggris, Kanada, Jerman, Prancis, Jepang, Italia, dan Amerika Serikat) yang dianggap gagal dalam mencari solusi atas terjadinya krisis keuangan global pada 1998-1999.

Saat itu pandangan mengemuka untuk mengajak negara-negara berkembang dan negara maju lainnya, ikut serta dalam sebuah pertemuan. Hal tersebut dimaksudkan untuk membahas sekaligus mencari solusi atas krisis keuangan global saat itu.

Hingga akhirnya, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 digelar untuk pertama kalinya di Washington, Amerika Serikat (AS). Fokus utamanya untuk membahas dan melakukan koordinasi respons global terhadap dampak krisis keuangan yang saat itu tengah terjadi di AS.

Dilansir dari situs sherpag20indonesia.ekon.go.idm, setelah pertemuan pertama itu pemimpin negara G20 sepakat untuk melakukan pertemuan lanjutan. Pada 1-2 April 2009, London menjadi tuan rumah (presidensi) KTT G20 kedua di bawah koordinasi Perdana Menteri Inggris Gordon Brown.

Forum G20

Forum G20 membahas dua arus isu yakni Finance Track dan Sherpa Track. Untuk Finance Track, fokus yang dibahas yakni ekonomi dan keuangan, seperti kebijakan fiskal, moneter dan rii, investasi infrastruktur, regulasi keuangan, inklusi keuangan, dan perpajakan internasional. Pembahasannya dilakukan oleh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral masing-masing negara anggota.

Sementara, Sherpa Track memabahas isu yang lebih luas, seperti geopolitik, anti korupsi, pembangunan, perdagangan, energi, perubahan iklim, hingga kesetaraan gender. Pembahasannya dilakukan oleh kementerian terakit pada tingkat menteri masing-masing negara anggota.

Syarat Menjadi Anggota G20

Syarat menjadi anggota G20, sebenarnya tidak ada kriteria tertentu. Akan tetapi, ada satu hal yang dipahami bersama. Negara-negara yang tergabung dalam G20 perlu memberikan dampak dan berkontribusi pada perekonomian serta menjaga stabilitas keuangan dunia.

Negara G20 adalah negara yang masuk dalam 20 besar ekonomi dunia. Hal ini bisa terindikasi dari PDB setiap anggota G20. Melansir situs resmi g20.org, G20 melibatkan negara berpenghasilan menengah dan punya pengaruh terhadap ekonomi dunia yang sistemik, termasuk Indonesia.

Terdapat tiga jenis pertemuan negara G20 yakni KTT, Pertemuan tingkat menteri dan deputi, serta pertemuan kelompok kerja.

KTT (Summit)

KTT (summit) adalah sebuah pertemuan yang mengundang kepala negara dan kepala pemerintahan negara G20. KTT G20 adalah puncak dari semua pertemuan yang melibatkan negara anggota.

Pertemuan Tingkat Menteri dan Deputi (Ministerial & Deputies Meetings)

Jenis pertemuan ini akan diadakan berdasarkan masing-masing fokus utama forum. Contohnya pada finance track, pertemuan tingkat menteri akan dihadiri oleh menteri keuangan dan gubernur bank sentral setiap negara G20.

Kelompok Kerja (Working Groups)

Jenis pertemuan ini akan membahas dan mengatasi isu spesifik terkait dengan agenda G20 yang lebih luas. Dalam forum ini beranggotakan para ahli dari negara G20.  Hasilnya akan dimasukan ke segmen kementerian dan akhirnya KTT.

Indonesia Menjadi Tuan Tumah G20

Pemerintah resmi menggantikan Italia untuk menjalankan Presidensi G20 untuk setahun ke depan. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkap jabatan ini akan menguntungkan, salah satunya akan memberi tambahan US$ 533 juta atau setara Rp 7,6 triliun (kurs Rp 14.280 per US$) terhadap Produk Domestik Bruto.

Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan menggelar kurang lebih 150 pertemuan. Selain pertemuan kepala negara, menteri keuangan dan gubernur bank sentral, agenda G20 juga akan diisi banyak agenda tambahan, termasuk seminar internasional. Sebagian besar akan digelar secara offline di Bali sehingga bisa dipastikan akan menarik banyak pengunjung.

Selain itu, perhelatan G20 juga akan berdampak pada sektor tenaga kerja. Sedikitnya akan ada tambah 33 ribu pekerja baru untuk mendukung acara tersebut.

Selain dari sisi nilai ekonomi dan tenaga kerja, pertemuan G20 juga diharap bisa menjadi ajang bagi Indonesia untuk memamerkan berbagai reformasi yang sudah dilakukan. Sri Mulyani bakal memamerkan dua beleid baru besutannya, yakni Undang-Undang Harmonisasi Peraturan perpajakan (UU HPP) serta RUU hubungan keuangan daerah dan pusat.

Editor: Safrezi
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait