Bank Indonesia menggarisbawahi pentingnya pengendalian inflasi pangan lewat penerapan rantai pasok efisien yang sudah diterapkan di beberapa area di Indonesia timur.
Artikel ini membahas tantangan kebijakan moneter dalam mengendalikan inflasi, menyoroti kesenjangan antara model teori dan realitas di tingkat mikro, serta relevansi hadiah Nobel Ekonomi 2026.
Inflasi pangan bergejolak atau volatile food mencapai 5% pada September 2026. Angka ini melampaui batas atas sasaran inflasi Bank Indonesia (BI), yakni 3,5%.
Meski inflasi September 2026 secara umum terkendali, lonjakan harga pangan mengancam daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah, sehingga mempertanyakan efektivitas kebijakan ekonomi.
Inflasi Cina naik ke 0,8% pada Agustus, pertama sejak April, didorong pangan, energi, emas, dan cip. Inflasi produsen juga melampaui perkiraan, menandakan tekanan biaya meningkat.
Lonjakan inflasi Singapura pada Juli terutama didorong meningkatnya pada biaya utilitas rumah tangga di tengah tingginya harga energi global akibat perang Amerika Serikat dan Iran.
Berdasarkan analisis terhadap El Nino sebelumnya, fenomena itu berpotensi menambah inflasi hingga sekitar 1,87 poin persentase, terutama akibat kekeringan yang mengerek harga pangan.