Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai kritik dan sorotan akibat sejumlah kasus keracunan makanan yang dialami penerima manfaat, menandakan problem tata kelola kebijakan.
CORE menilai evaluasi dampak MBG dan Kopdes Merah Putih masih minim. Manfaat kedua program belum jelas, sedangkan biaya dan risiko sudah mulai terlihat.
Badan Gizi Nasional menghentikan sementara 91 dapur program MBG karena belum menyelesaikan pengembalian dana temuan BPK senilai Rp 18,19 miliar ke kas negara.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, jumlah penerima manfaat MBG meningkat dari 52,4 juta orang pada Januari menjadi 57 juta orang pada September 2026.
Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji coba penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan konsep prasmanan di lebih dari 60 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengatakan insentif untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kembali dihitung sebesar Rp2.000 per porsi mulai hari ini (5/10).
Wamenkeu Juda Agung menilai kenaikan harga pangan tidak memengaruhi kualitas gizi menu program MBG (Makan Bergizi Gratis) karena inflasi masih sesuai target perhitungan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, kenaikan harga daging ayam ras menjadi salah satu peristiwa penting yang memengaruhi indikator harga pada September 2026.
Artikel ini mengkritisi upaya percepatan program pemerintah melalui wadah baru dan potensi pengikisan kapasitas kelembagaan Negara dalam jangka panjang.
Celios menyoroti rencana PTN Gratis yang membutuhkan anggaran hingga Rp93,7 triliun dan menekankan perlunya perhitungan yang transparan serta terukur dari pemerintah.
Insentif SPPG akan direvisi menjadi proporsional dengan jumlah penerima manfaat dari dapur MBG, menggantikan sistem flat Rp 6 juta per hari, sebagai bagian efisiensi anggaran Badan Gizi Nasional.