Ekonomi 2020 dan Bayang-bayang Resesi Akibat Perang Dagang

Penulis: Sorta Tobing

12/8/2019, 15.25 WIB

Indonesia tak kunjung memanfaatkan situasi perang dagang AS-Tiongkok. Potensi resesi bisa terjadi dan akan menjalar lebih cepat dibandingkan krisis 1998.

Telaah - Efek Perang Dagang terhadap Ekonomi Dunia
123RF.com/Nuthawut Somsuk
Perang dagang yang semakin memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok membayangi prospek pertumbuhan ekonomi global pada 2020.

Angka perekonomian Indonesia di semester pertama 2019 tidak terlalu menggembirakan. Target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 % belum tercapai dalam dua kuartal terakhir. Begitu pula dengan penerimaan pajak dan belanja negara. Hanya rupiah dan inflasi saja yang masih dalam target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun ini.

Yang terbaru, Bank Indonesia mencatat posisi defisit transaksi berjalan atau current account defisit (CAD) pada kuartal II-2019 nilainya US$ 8,4 miliar. Artinya, defisit itu mencapai 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini telah menyentuh batas tertinggi CAD yang pemerintah proyeksikan di level 2,5 - 3 % dari PDB 2019.

Menurut bank sentral, tingginya CAD akibat perilaku musiman repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kondisi perekonomian global. Penyebab yang terakhir ini membuat harga komoditas turun dan kinerja ekspor Indonesia memburuk.

(Baca: Defisit Transaksi Berjalan Kuartal II Tembus 3% PDB Akibat Tiga Faktor)

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) sebelumnya mengatakan, pemerintah lamban membuat kebijakan untuk mengantisipasi perkembangan ekonomi dunia. Hal ini menyebabkan industri dalam negeri tertinggal dengan negara Asia Tenggara lainnya.

Akibatnya, ketika terjadi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, Indonesia kesulitan mengambil keuntungan. “Kita terlambat membuat perjanjian bilateral dan multilateral dengan negara, seperti AS. Vietnam sudah lebih dulu memperpanjang generalized system of preferences (GSP) dengan mereka,” katanya pada Rabu lalu, (7/8), seperti dikutip dari Antara.

Gara-gara perjanjian dagang itu, Vietnam dapat mempertahankan ekspornya. Ekonomi negaranya menguat, dengan perkiraan pertumbuhan tahun ini, menurut data Bank Dunia, mencapai 6,6 %. Hal ini berbeda dengan Indonesia yang kemungkinan hanya dapat bertahan di 5,2 %.

(Baca: Goldman Sachs: Kekhawatiran Perang Dagang Berujung Resesi Meningkat)

Eskalasi perang dagang telah membuat banyak negara panas-dingin. Apalagi Presiden AS Donald Trump berencana menaikkan tarif sebesar 10 % untuk produk-produk Tiongkok bernilai US$ 300 miliar yang masuk ke negaranya. Aturan ini akan berlaku mulai September 2019.

Trump telah melakukan langkah serupa pada Juni lalu ketika tak kunjung menemukan jalan damai dengan Cina. Menurut riset Fitch Ratings dan Oxford Economics, langkah proteksionisme Trump akan memberi dampak besar bagi perekonomian global. Meksiko akan menjadi negara paling terpengaruh. Pertumbuhan PDB-nya pada 2020 diprediksi berkurang 0,25 %.

Negeri Tembok Raksasa itu menjadi negara ketiga yang tergerus PDB-nya. Lalu, Indonesia masuk dalam daftar 10 besar. Grafik Databoks berikut ini merangkum hasil riset tersebut.

Dampak perang dagang juga telah membuat kinerja ekspor banyak negara turun. Menurut Buku Kajian Tengah Tahun 2019 Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), ekspor Indonesia diperkirakan minus 0,24% hingga akhir 2019.

Selain Indonesia, ekspor negara-negara Eropa dan Jepang juga minus 0,92%. Begitu pula dengan India dan Afrika. Namun, seperti terlihat dalam grafik Databoks di bawah ini, beberapa negara di Asia Tenggara ekspornya masih tetap positif, seperti Vietnam, Malaysia, dan Singapura, dan Thailand.

Potensi dari Produk Tekstil dan Kulit

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira mengatakan, prospek ekonomi tahun depan masih gloomy. Kinerja investasi dan ekspor dalam negeri akan cenderung turun. Konsumsi rumah tangga kelas menengah dan atas juga stagnan. “Bahkan saya lihat melambat,” katanya ketika dihubungi Katadata.co.id hari ini, Senin (12/8).

Harga komoditas, yang menjadi andalan ekspor Indonesia, berada dalam fase balik arah tapi akan sangat lambat. Hal ini dipicu oleh rendahnya permintaan global. Industri manufaktur yang berorientasi ekspor juga terkena dampaknya. “Tapi faktor utamanya karena kalah saing dengan negara lain, seperti Vietnam untuk produk elektronik dan otomotif, serta Bangladesh dan Srilanka,” ucap Bhima.

Dari hasil simulasi INDEF yang dipublikasikan pekan lalu, situasi perang dagang sebenarnya bisa menaikkan ekspor tekstil dan produk kulit dalam negeri. Produk ekspor tekstil Indonesia ke AS bisa mengisi kekosongan pasar Tiongkok yang terkena kenaikan bea masuk oleh Trump.

Apalagi, Indonesia masih menikmati fasilitas GSP atau keringanan bea masuk untuk produk tekstil dan pakaian jadi. Begitu pula, dengan produk kulit, pasarnya ke Negeri Abang Sam sangat besar. “Negara ini diuntungkan dengan upah rendah dan bahan baku berlimpah,” katanya.

(Baca: Survei: Perang Dagang Berpeluang Mendekatkan AS pada Resesi Ekonomi )

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha