Menteri LHK Klaim Kualitas Udara di Sumatera dan Kalimantan Membaik

Titik panas (hotspot) di Kalimantan dan Sumatera dianggap semakin berkurang.
Dimas Jarot Bayu
25 September 2019, 20:11
karhutla, asap kebakaran
ANTARA FOTO/Rony Muharrman
Satgas Karhutla Riau terus berjibaku memadamkan kebakaran lahan di Desa Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, Riau, Minggu (22/9/2019).

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengklaim kualitas udara di Sumatera dan Kalimantan pada Rabu (25/9) membaik dibandingkan hari-hari sebelumnya. Titik panas (hotspot) di berbagai provinsi di kedua pulau tersebut semakin berkurang.

Berdasarkan data KLHK hingga Rabu (25/9) siang, ada 554 titik panas yang berada di seluruh Indonesia. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kemarin yang mencapai 604 titik panas.

Secara rinci, titik panas paling banyak hari ini berada di Kalimantan Tengah, yakni sebanyak 268. Jumlah titik panas di Riau sebanyak 68. Kemudian, ada 60 titik panas di Kalimantan Timur.

(Baca: Ancaman Bahaya dan Penyebab Fenomena Langit Merah di Jambi )

Di Kalimantan Selatan, masih ada 39 titik panas. Lalu ada 15 titik panas di Jambi, 13 titik panas di Sumatera Selatan, dan sembilan titik panas di Kalimantan Barat.

"Sekarang sih jauh lebih baik kondisinya," kata Siti di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Menurut Siti, menurunnya titik panas di Kalimantan dan Sumatera karena pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus dilakukan. Pemerintah memadamkan karhutla dengan dukungan dari berbagai BUMN dan swasta.

Meski demikian, Siti tetap mewaspadai munculnya titik panas di Sumatera dan Kalimantan. Sebab jumlah titik panas yang muncul masih fluktuatif.

(Baca: Kementerian LHK Kritik Pemda yang Tak Hukum Pembakar Hutan dan Lahan)

"Tetap harus waspada bahwa hujan buatannya harus terus menerus dilakukan," kata Siti.

Ada pun, Siti mengatakan sudah ada 52 perusahaan yang disegel karena diduga membakar hutan. Dari 52 perusahaan tersebut, ada 14 korporasi berasal dari luar negeri.

Tiga dari korporasi luar negeri itu berasal dari Malaysia. "Ada empat korporasi dari Singapura," katanya.

Editor: Yuliawati

Video Pilihan

Artikel Terkait